Inspire | Love & Relationship

Ketika Jatuh Cinta, Bagaimana Otak Kita Bekerja?

Kamis, 17 Feb 2022 08:00 WIB
Ketika Jatuh Cinta, Bagaimana Otak Kita Bekerja?
Jakarta -

Ketika jatuh cinta dengan seseorang, mungkin kamu merasakan seluruh tubuhmu berbeda dari biasanya. Misalnya saja, saat bertatapan atau berbicara dengan si dia, perut terasa seperti tergelitik, keringat mengucur deras, sulit berbicara dengan benar, atau otak terasa kosong. Perasaan cinta memang kita rasakan di hati, namun kondisi tubuh yang tidak seperti biasanya saat bersama orang yang kamu sukai, semua berasal dari otakmu.

Dikutip Medical News Today, Sandra Langeslag, Ph.D, asisten profesor Ilmu Saraf Perilaku di University of Missouri   St. Louis mengatakan, cinta adalah proses yang sangat kompleks. Sehingga begitu banyak bagian otak yang berbeda, hormon, serta neurotransmitter yang terlibat.

"Ada sejumlah bagian otak yang lebih aktif ketika seseorang melihat kekasihnya daripada ketika melihat orang lain. Salah satu penelitian saya menunjukkan bahwa aktivasi nukleus berekor dan putamen (striatum punggung) mencerminkan bahwa menanggapi kekasihmu dikaitkan dengan penguatan positif daripada orang lain."

"Selain itu, kami tidak tahu apa yang dilakukan bagian otak ini saat orang-orang melihat kekasih mereka. Dan, kami tidak benar-benar tahu apakah daerah otak ini lebih aktif ketika orang sedang jatuh cinta dibandingkan ketika mereka tidak sedang jatuh cinta," papar Langeslag.

Sementara itu, Profesor Steven Phelps, seorang ahli neurobiologi perilaku mengatakan kemungkinan ada campuran hormon yang berinteraksi dengan cara tertentu pada manusia yang membuat kita saling mencintai. "Ada tiga area di otak yang bertindak sebagai trilogi ajaib, berinteraksi dengan tiga hormon utama: dopamin, oksitosin, dan vasopresin," kata Phelps.

Tiga wilayah otak ini meliputi: Area tegmental ventral (VTA), yang melepaskan dopamin; Nucleus accumbens (NA), mengandung banyak reseptor oksitosin; dan Ventral pallidum (VP), mengandung banyak reseptor vasopresin. Ini semua adalah sistem otak yang saling terkait menghasilkan 'cinta'.

Sederhananya, ketika kita sedang jatuh cinta, zat kimia saraf seperti dopamin (hormon kebahagiaan) dan oksitosin (hormon cinta) menguasai otak kita. Inilah alasan mengapa jantungmu terasa berdebar kencang saat bersama si dia. Otakmu juga melepaskan bahan kimia seperti vasopresin dan adrenalin yang memicu reseptor saraf, sehingga kamu merasa senang dan terpesona.

Saat VTA memulai pertunjukkan, neurotransmiter bekerja untuk mengirim dopamin dan hormon lain ke daerah lain di otak yang terkait dengan fungsi manusia. Misalnya, nukleus accumbens menghubungan perasaan cinta romantis yang menyenangkan pada sistem sensorik kita. Tak heran, ketika jatuh cinta, kamu mungkin akan lebih peka terhadap bau, warna, atau lagu yang mengingatkanmu pada pasangan.

Lalu, pallidum ventral terlibat dalam pemrosesan sinyal motivasi dan reward sehingga dapat memperkuat tindakan tertentu terkait dengan perasaan reward. "Ada hubungan sinergis antara hormon yang memungkinkan tahapan ini berkembang," ujar Profesor Sue Carter, ahli biologi di bidang ikatan sosial dan cinta.

Reseptor oksitosin di wilayah otak yang memediasi reward dan motivasi (nukleus accumbens) adalah kunci untuk menjelaskan bahwa banyak perbedaan individu dalam perilaku. Faktanya, para ilmuwan telah menemukan bahwa orang yang memiliki jumlah reseptor oksitosin yang lebih besar di wilayah ini dikaitkan dengan kemungkinan yang lebih tinggi untuk membentuk ikatan pasangan seumur hidup.

Otak juga menciptakan konsep 'cinta buta'

Mungkin kamu pernah mendengar kata 'cinta buta'. Ternyata hal ini juga bisa dijelaskan secara sains. Ketika kadar dopamin naik, kadar zat kimia otak lain seperti serotonin menurun. Perubahan ini mungkin menjelaskan mengapa orang yang sedang jatuh cinta cenderung terpaku pada kekasih mereka saja.

Lalu, ketika jatuh cinta, area otak kecil yang disebut amigdala menjadi dinonaktifkan. Amigdala sendiri merupakan bagian otak yang mengkoordinasikan respons rasa takut dan membantu manusia tetap aman dalam situasi berbahaya. Bila bagian otak ini nonaktif, artinya rasa takut pun berkurang.

Penurunan aktivitas otak di wilayah lain yang disebut korteks frontal dapat menjelaskan mengapa orang bisa 'buta' terhadap tanda bahaya yang ditunjukkan oleh calon pasangan mereka saat jatuh cinta.

Jatuh cinta memang kita rasakan dengan perasaan, namun pada dasarnya konsep cinta itu sendiri datang dari otak dan bagaimana saraf dan hormon saling berkaitan. Jadi, ketika kamu jatuh cinta, jangan terlalu mengandalkan perasaan, tapi logikamu pun harus tetap digunakan ya.

[Gambas:Audio CXO]

(DIR/MEL)