Inspire | Human Stories

Suara Berkelas Bilal Faranov

Selasa, 23 Dec 2025 14:30 WIB
Suara Berkelas Bilal Faranov
Bilal Faranov. Foto: CXO Media
Jakarta -

Bisakah seorang pemalas memanen kesuksesan? Kalau mau dijawab secara objektif, rasanya tentu akan sulit. Namun, jika terdapat 'tetapi' setelah sematan kata pemalas, maka sukses bisa jadi tidak mustahil. Itulah yang konsisten diupayakan oleh Bilal Faranov. Sosok muda yang mengaku malas, tetapi berhasil menggerakkan lebih banyak pemalas untuk mau berkembang lewat siniar 'Suara Berkelas'.

Dalam perbincangan kali ini, Bilal menceritakan sejumlah pengalamannya. Mulai dari bagaimana idenya diolok orang, soal bertahan dari "mental breakdown" kala merintis, rahasia di balik konten viralnya, hingga filosofi "berani bodoh". Ia juga berbagi tentang terobosan terbarunya bersama 'Suara Berkelas' yang kini masuk Spotify RADAR Creators 2025, dan berhasil menjadi kanal podcast edukasi teratas Spotify di tahun 2025.

Internet menyebut Bilal Faranov seorang multitalenta. Anda seorang penulis, direktur kreatif, host podcast juga, dan masih banyak lagi. Bagaimana anda biasanya memperkenalkan diri?Buat yang belum kenal, 'Suara Berkelas' itu apa dan berangkatnya dari mana?
Namaku Bilal Faranov, co-founder dan host 'Suara Berkelas'. Ya, biasanya begitu aja. (Tertawa) Biasanya memang aku kenalin diri host dari Suara Berkelas aja karena sekarang memang fokus bersama 'Suara Berkelas'.

Jadi 'Suara Berkelas' itu pertama kali diprakarsai bareng temanku namanya Agusleo Halim. Pertama shooting itu di bulan Juli 2023. Tapi awalnya kita banyak juga berdebat karena aku mau nama podcastnya 'Ruang Berkelas', tapi teman-teman usulkan 'Suara Berkelas'. Aku pengen podcast ini bisa jadi ruangan bagi orang-orang berkelas membagikan sesuatu. Lalu, karena kita hidup di negara demokrasi, ya, akhirnya perdebatan [soal nama] kita berlanjut ke voting. Hasil akhir dan takdirnya ya jadilah Suara Berkelas ini. (Tertawa)

Mengapa anda ingin namanya 'Ruang Berkelas' dan apa argumennya waktu usulan 'Suara Berkelas' ditentukan? 
Ruang itu menurutku kayak, suatu ruang itu kan bisa gelap tuh kalau dimatiin lampunya. Misalnya, ada lighting di tengahnya, itu kayak, orang-orang yang datang ke situ akan dapat highlight-nya maka ruang itu jadi khusus untuk orang-orang yang memang berkelas.

Kalau mengapa 'Suara Berkelas' itu dibayanginnya kayak mau audiens yang nonton atau dengerin, cocokloginya semua orang atau semua audiens tetap bisa mendengar suara berkelas dari orang-orang yang datang gitu. Jadi suaranya gitu, apa yang mereka omongin itu berkelas banget. Nah dari dari hasil voting aku sendiri yang kalah. (Tertawa) Tapi ya, okelah aku terima biar kalah. Karena ini kan bukan soal nama doang gitu, tapi yang penting isinya, baru nama 'Suara Berkelas' itu jadi bisa punya branding-nya sendiri. 

Waktu pertama rilis, Suara Berkelas bahas apa dan bersama siapa?
Jadi hasil shooting pertama kami nggak tayang. Karena waktu itu aku rasa dari sisi teknis dan lainnya itu kurang proper, kurang dapet feel-nya gitu, akhirnya jadi reels aja. Bulan November, 12 November 2023 barulah tayang episode pertama Suara Berkelas bersama Agusleo Halim di Spotify dan platform lain. Kenapa bareng dia, karena aku mikirnya kalau kita ajak orang-orang yang belum kenal segala macem akan jadi susah. (Tertawa) Lagipula baru episode pertama kan jadi kita coba dengan teman sendiri.

[Gambas:Instagram]

Gimana respon audiens waktu itu? Langsung viral atau struggling?
Nggak ada yang nonton. (Tertawa) Kayaknya cuma 12-13 views lah dalam waktu 2-3 hari. Karena kita punya Instagram sendiri, kita punya audiens sendiri, kita coba untuk collabs ke audiens kita di situ. Baru deh growing pelan-pelan sampai di episode-episode 20 itu baru dapet 5000 subscriber dan angka listener di Spotify juga mulai meningkat. Alhamdulillah ya lumayan, tapi 20 episode itu nggak dalam waktu sebulan, kayak butuh sekitar 3 bulanan tayangnya.

Berarti secara konsep, 'Suara Berkelas' terhitung matang sedari awal?
Kalau dibilang matang, spesifik matang, menurutku mungkin 60% ya. Tapi yang pasti semua terencana. Kayak, aku mau podcast ini jadi ruang yang membahas soal edukasi sampai self-improvement di depannya. Self-improvement di sini luas ya maksudnya, bisa dari sisi kesehatan, keuangan, apapun yang bikin audiens itu punya benefit untuk pengembangan diri gitu.

Artinya, kata kunci 'Suara Berkelas' ada di self-improvement?
Betul, itu kata kuncinya. Selama ini kan, kita kayak cari dan bikin riset sendiri juga soal podcast yang sudah ada. Kita melihat satu podcast dan lainnya itu rata-rata isi kontennya 'gado-gado'. Karena itu kita mau nusuk ke sana, ke arah self-improvement tapi harus menguntungkan bagi audiensnya gitu. Karena mungkin selama ini, orang kalau mau konsumsi konten seperti itu, harus di-translate dari podcast bahasa Inggris dulu. Karena selama ini juga aku mendengar banyak podcast self-improvement dari luar, misalnya, maka aku mau orang itu bisa dapat akses langsung dari bahasa Indonesia-nya dan akses itu harus bisa dikasih dari 'Suara Berkelas'.

Jadi seperti itu konsep besar dan visi utamanya? 
Ya, kurang lebih itu apa yang ingin kita lakukan lewat 'Suara Berkelas'. Kalau ditanya soal visi besarnya, kita mau ikut mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana UUD 1945. (Tertawa)

Wah, iya, keren juga sebelum diutak-atik juga ya UUD-nya? Lalu, secara lebih spesifik mengapa kata 'Berkelas' itu yang mantap dipilih? 
Oh, ini fakta yang orang nggak banyak tau. Berkelas itu sebenernya ada singkatannya.

Sebuah singkatan untuk?
Iya ini dari singkatan, yang makanya di awal aku pengen pake 'Ruang Berkelas'. Berkelas itu belajar kelompok malas. Aku sendiri adalah orang yang malas gitu. Serius. Aku ini orang yang malas. (Tertawa) Jadi kalau orang-orang yang udah nonton 'Suara Berkelas' itu pasti udah pernah dengar cerita kita yang secara akademis decline banget.

Di episode ke-berapa kemalasan ini dibahas?
Siapapun yang baca ini, aku sarankan untuk nonton episode ke-100 bersama Agusleo Halim lagi. Jadi di episode seratus kita kayak reunian, tapi kita membedah penjalanan kita ini. Aku cerita kayak gimana aku malas di akademis, apa aja pelajar yang aku hadapi selama di 'Suara Berkelas', misalnya sempat kena mental di episode-episode awal.

EPISODE 100 Suara Berkelas Spotify

Apa masalahnya dan bagaimana anda menghadapinya?
Ya kurang lebih soal identitas kita yang dibilang-bilang mirip sama kreator lain, sedangkan kita nggak tau sama sekali podcast tersebut ada tapi orang-orang tuh pada nodong ke DM 'Suara Bekelas' atau ke akunku. Aku cukup 'kena mental' waktu itu. Kayak, aku nggak tau ini exist, nggak kenal pula, tapi dibilang duplikat apalagi kita yang kecil kan datang belakangan. Tapi, ya perjalanan waktu membuktikan kayak, alhamdulillah sekarang kita bisa ada di titik ini. Jadi hal itu pernah membuatku down tapi dengan kita yang persisten, Suara Berkelas bisa dapat identitas sendiri dari audiens yang luar biasa, ya hal-hal seperti itu justru jadi pelajaran aja.

Oh oke. Lagipula, nggak ada yang baru pula di dunia ini, paling sedikit berbeda aja?
Ya, mungkin katanya kan, pohon yang mau tumbuh tinggi harus kuat sama angin kencang. Iya, itu. There's nothing new under the sun.

Balik ke soal 'Berkelas', berarti hal itu bukan masuk ke arah pengeksklusifan? Seperti, memberi kasta, sekat-sekat tertentu bahwa narasumber yang datang hanya kalangan orang-orang berkelas?
Sebenarnya, itu kayak cocoklogi baru-baru aja. Kayak, karena kita growing, attention orang mulai tertuju sama kita, terus kita, jadi mungkin orang mulai merasa dekat dan nyaman jadi memberi cocoklogi bahwa hanya ada orang-orang berkelas di sini. Tapi dari awal memang, ya itu cuma hal kecil doang. Basic-nya "Belajar Kelompok Malas" itu, 'Berkelas' berangkatnya karena ya, aku malas, beberapa teman-teman di sini juga malas, tapi kita mau berkembang. Dan ada beberapa judul episode kita juga, yang bilang kayak: "Kalau kamu malas, tapi pengen kaya nonton episode ini..." Itu tuh kayak triggering banget untuk orang-orang di luar sana. Kita malas, kita mager, tapi kita mau hasil yang besar, maka harus nonton konten kita.

Ada di episode berapa? 
Banyak. Misalnya, ada di episode 15, episode 23. 

Wah rajin juga ya bahas "malas". Rasanya walau anda sering mengaku, anda ternyata tidak mencerminkan seorang yang pemalas. Tapi okelah. Katakanlah anda memang benar malas, apa contohnya?
(Tertawa) Serius aku ini malas. Dulu ya, aku ini bukan orang yang suka belajar. Secara akademik aku dan beberapa teman di 'Suara Berkelas' itu bahkan sering ada di rangking terakhir. Kita sama-sama malas belajar. Tapi, aku ada aspirasi-aspirasi yang menurutku itu seru, kalau dibahas, tapi tidak cocok dengan pelajaran waktu itu. Jadinya di Suara Bekelas ini, kita mau orang-orang yang sama kayak kita bisa dengar dan dapat akses yang sama, yang bisa membuat sesama pemalas ini menjadi lebih pintar.

Aku sempat bilang juga, kalau kreator itu yang kelihatan pintar, atau siapapun yang kelihatan pintar di sosmed, itu hal biasa aja, ya. Tapi kalau orang atau audiens itu merasa pintar setelah konsumsi kita punya konten, itu baru luar biasa. Jadi orang-orang itu, kalau udah konsumsi 'Suara Bekelas' aku rasa para pemalas bisa merasa lebih pintar. Apakah lebih paham tentang keuangan, kesehatan. Even, hal ini banyak ditulis di komen, kayak, 'I wish I knew this podcast earlier...', atau 'Andai aku dapat ilmu ini dari di buku sekolah, di buku kuliah...,' atau ada beberapa komen kayak, 'aku umurnya di atas Bilal atau di atas Agus, tapi aku akuin apa yang mereka obrolin itu danging banget'. Jadi, hal-hal seperti itu, yang kita dapetnya di 'Suara Bekelas', alhamdulillah-nya bisa bikin kita dan banyak pemalas jadi belajar banyak. Jadi sumber free learning bagi siapapun.

Selaras dengan visi ikut mencerdaskan kehidupan bangsa? 
Wah bahasaku yang itu kayaknya terlalu berat, ya? "Ikut mencerdaskan kehidupan bangsa". (Tertawa)

Maksudmu, banyak orang yang belum cerdas dan tidak dicerdaskan oleh sistem pendidikan yang disiapkan negara, atau seperti apa?
Ya, menurutku masih banyak orang-orang yang mungkin kurang teredukasi dari berbagai sudut. Se-simple kita ngomongin tentang investasi keuangan aja, itu banyak yang gak aware, banyak yang gak tau juga. Atau, misalnya, kayak kemarin aku ngundang namanya dr. Rianti. Kita ngomongin tentang bagaimana tanaman-tanaman herbal yang ada di rumah, di dapur kita itu, bisa mengobati banyak penyakit. Dia bilang dengan rutin konsumsi, misalnya, temulawak, jahe, dan lain-lain, penyakit yang sekarang ini hanya bisa diobatin dengan biaya yang mahal itu justru bisa dicegah juga diobati secara alami. Nah, topik dan hal-hal seperti itu, yang orang kadang gak aware gitu dan kadanggak kredibel siapa yangmenyampaikannya, atau mungkin memang sulit untuk mendapat akses pengetahuan dari dokter itu langsung. Nah kita undang dia agar orang bisa belajar bersama. Episode dr. Rianti ini yang sekarang paling tinggi penontonnya di Spotify dan platform lain.

Bicara soal Spotify, 'Suara Berkelas' baru saja masuk ke daftar program Spotify RADAR Creators. Bisa diceritakan bagaimana hubungan 'Suara Berkelas' dengan Spotify?
Ini  aku cerita secara vulnerable banget, ya.  Jadi, waktu itu pertama kali kita bikin podcast 'Suara Berkelas', aku bilang sama temen-temen bahwa kita akan jadi tipe yang agnostik gitu. Kayak gak harus upload di salah satu platform doang. Tapi karena kita akan membuat podcast, dan di masa itu orang-orang lagi aktif mendengarkan konten podcast, maka kita konsisten upload di Spotify. Berhubung setau aku juga Spotify adalah platform yang diandalkan semua orang, even aku sendiri mendengar podcast dari luar negeri di Spotify. Dari sana kita yakin tuh, unggah versi audionya di Spotify walaupun kita juga upload versi audio visualnya di Youtube. Berjalannya waktu, audio listeners aku gede banget di Spotify. Gede banget.

Tapi lucunya juga ada yang komen-komen kayak 'Kak Bilal, aku sambil tidur dengerin Spotify 'Suara Berkelas'. Terus kayak, aku yang biasa dengar podcast sambil belajar, mencatat, jadi kaget aja (Tertawa). Terus karena kita bareng Spotify juga lagi nyoba bikin event offline, aku jadi keinget satu kesempatan ada yang pernah bilang kalau niatnya mengakhiri hidup jadi hilang, se-simple karena ngikutin 3 episode 'Suara Berkelas'. Memang kayak berlebihan ya, aku nggak pernah mikir kita bisa membantu orang sejauh itu. Tapi aku inget kita memang punya banyak episode yang bahas mental health. Kita cuma ngerasa ini jadi konten yang layak karena tau akses orang-orang untuk ke psikiater, psikolog, atau ke hipnotherapy gitu masih sulit, mungkin karena mahal, ya. Maka kita coba kasih itu lewat 'Suara Berkelas' agar pendengar kita, kayak juga aku yang pernah mengalami depresi dan banyak tekanan bisa dengar langsung dari narasumber kredibel, dari sisi kepakaran dia, yang bisa menjawab juga banyak soal psikologis secara keilmuannya dan alhamdulillah itu menguntungkan banyak orang. Nah dari sana kemudian growth audience kita di Spotify terus berlanjut. Seiring waktuhubungan kita memang jadi baik, ya, alhamdulillah.

Bagaimana dengan RADAR Creators ini?
Alhamdulillah juga 'Suara Berkelas' masuk ke RADAR Creators, kita jadi salah satu dari lima podcast di Indonesia dan kita senang banget bisa tampil di New York. (Tertawa)

Kalian bikin program di sana?
Amin kalau itu. Jadi waktu itu ada muka aku 2 detik di New York. Di billboard. Lumayan, ya? Seharian. Biar 2 detik muter-muter terus. Misalnya ada Selena Gomez, pas lewat ada aku gitu. Dia jadi tahu aku ada di dunia ini. (Tertawa)

(Ikut Tertawa). Kalau secara kerangka program, bagaimana 'Suara Berkelas' menyambut Spotify RADAR Creators?
Oke, jadi kemarin RADAR Creators milih lima podcast yang menurut mereka punya growth yang baik. Selain kami, ada beberapa podcast yang pengembangan diri juga, edukasi, mungkin ada komedi juga. Tapi sekarang aku lihat 'Suara Berkelas' jadi salah satu podcast yang terus di-support dari sisi kedekatan dengan audience. Jadi kita itu juga ada aktivasi setiap bulan itu namanya 'Teman Berkelas' nantinya yang akan bergulir ke beberapa kota bersama teman-teman audiens 'Suara Berkelas'.

Mukaku dan 'Suara Berkelas' bahkan udah sampe New York duluan, kan. Siapa tau kan habis ini kita juga di-support sampe bikin aktivasi ke New York juga, ya. (Tertawa) Tapi, dari aktivasi yang kita akan buat ke depannya, semoga juga bisa membangun lebih banyak relasi. Apalagi, dengan ruang offline itu, kita yang punya curiousity sama sesuatu, dan kalau didokumentasiin dengan baik, itu bisa juga membagikan ilmu-ilmu ke lebih banyak orang dan orang pun bisa ikut langsung posting di Spotify juga. Apalagi sekarang, kita juga bisa nonton di Spotify walaupun belum banyak yang aware. Jadi konten kita gak cuma didengar doang, tapi bisa juga watching di Spotify. Jadi menurut aku sih itu kesempatan emasnya bagi kreator-kreator lo sana yang mau terjun di Spotify.

Kalau begitu, apakah 'Suara Berkelas' berpikir untuk rilis eksklusif hanya di Spotify?
Bagaimana ya? (Tertawa) Aku rasa kita bisa jadi tetap 'agnostik' gitu ya, karena kita mau semua orang bisa dengar dan akses melalui platform apa saja yang mereka rasa nyaman. Kayaknya soal ini keputusannya akan kita serahkan ke audiens, ya. Tapi kurasa audiens kita rata-rata nyaman mengakses 'Suara Berkelas' di Spotify dan akan kita senang sekali dengan itu.

Beralih ke bagaimana 'Suara Berkelas' bekerja, apakah pencapaian sampai hari ini merupakan sesuatu yang memang terarah dan ditargetkan?
Simpelnya kita emang bekerja dengan sistem yang cukup rapi. Kita nyoba disiplin banget secara schedule dan lain-lain. Dan, ya, aku sendiri memang orang yang percaya dengan sistem. Hal ini baik karena, berapa pun audiens, listeners, subscribers, itu adalah hadiah. Misalnya sampai hari ini kita sampai punya 1 juta pendengar, tentu aku nggak expect banyak soal itu tetapi kita cuma usahakan untuk terus memberi effort pada kerja kita, maka hasilnya adalah bonus. Apa yang per hari ini bisa kita capai pun menurut aku itu ada campur tangan Tuhan. Ada luck-nya juga, segala macem. Tapi effort dan preparation kita tuh tetap selaras sejak kita mulai.

Apakah semua ini menyenangkan?
Ah, senang sekali. Aku pikir sebenernya ini adalah aspirasiku sejak lama, pengen bikin podcast. Dari dulu aku mau punya acara semacam talk show, gitu, karena melihat program kayak 'Kick Andy' itu menyenangkan. Bisa ngobrol sama banyak orang hebat. Jadi waktu bisa punya podcast bareng 'Suara Berkelas' aku happy banget ngerjainnya. Di buku keduaku, aku sempet gini, 'Bayangin kalau ada orang gak happy ngerjain sesuatu tapi dia sukses.' Nah sekarang, 'Bayangin lagi kalau orang happy, dan dia sukses' pasti bahagia banget. Alhamdulillah aku bisa merasakan itu.

Lalu bagaimana yang nasibnya gak sukses tapi happy sama pekerjaannya?
Mungkin happy-nya validasi sendiri ya? (Tertawa). Kalau gitu, mungkin belum ketemu aja ritmenya. Tapi aku yakin orang yang happy pasti akan sukses. 

Seperti apa rasanya waktu mimpi-mimpi itu akhirnya tercapai?
Wah jelas senang dong. Tapi, aku perlu ceritain sesuatu. Jadi waktu pertama ke Jakarta aku belum ada pekerjaan, masih freelance dan segala macam aku coba apply ke perusahaan tempat beberapa temanku. Kebanyakan mereka tanya, 'Lu bisa apa Bil, kalau join sama kita?' Aku bilang, mari kita bikin IP baru, kita bikin podcast. Tapi mereka malah ketawa, ya kayak becanda gitu sih, apalagi waktu aku jawab aku yang akan jadi host.

Lho? Memang siapa dan mengapa mereka tertawa?
Ya, kata orang-orang tadi. Itu rata-rata CEO-nya. Ya begitu aku diragukan. Sebenarnya itu adalah titik aku merasa give up di Jakarta. Yaudahlah, karena itu aku jadi melakukan apapun yang lain, yang penting bisa survive tapi biar ditolak-tolak, diketawain aku masih coba untuk apply lagi ke beberapa kenalan-kenalan dan mentoknya ya kenalan sama Agusleo. Singkat cerita kami sepakat bikin podcast 'Suara Berkelas' di 2023 awal. Dari situ aku tau, walaupun di hari itu semua orang bikin podcast, kita coba kuatin podcast ini ke bidang pengembangan diri, edukasi, kesehatan atau apapun. Karena aku memang curious sekali dengan ilmu itu. Aku rasa ini kayak jawaban dari banyak hal yang aku lakukan. Dari terus berteman sama banyak orang, dan di sinilah timing-nya aspirasiku didengar. Itu. Karena aku pun tahu gak bisa mulai ini sendirian. Aku butuh juga orang yang punya banyak pengetahuan dan tahu cara eksekusinya. Menurutku mungkin itu caraku ditempa agar jadi kuat ya, harus lewat diketawain dulu gitu, tapi apapun itu yang penting jangan lupa sama aspirasi atau mimpi-mimpi.

Berarti harus berani juga dipandang bodoh?
Ya begitu kira-kira. Kalau lihat lagi episode 1 sampe episode 20 'Suara Berkelas' awal-awal itu aku aja malu lihatnya karena keliatan bodoh banget. (Tertawa) Tapi aku coba selalu bener-bener mengosongkan gelas. Maksudku untuk menjadi orang yang lebih baik, gelas kita memang harus kosong jadi bisa diisi lebih banyak ilmu. Dan kayanya banyak orang gak siap di tahap itu, gak siap untuk keliatan bodoh. Aku pun begitu kan. Cuma waktu nonton lagi episode-episode itu aku mencoba belajar supaya bisa terus berkembang. Walaupun butuh banyak waktu ya, tapi alhamdulillah menurutku sekarang bisa jadi lebih percaya diri kalau dibandingkan sama masa-masa awal, yang aku butuh banyak saran, butuh tanya orang, tapi nahan-nahan gitu masih malu. Ya, kurang lebih itu menurutku perjalanan hidup banget. Harus siap keliatan bodoh ketika mau mulai sesuatu. Even semua kreator kalau liat episode pertamanya, konten-konten pertamanya mungkin bisa jadi gak sebaik yang selanjutnya.

Berarti sekarang masih bodoh atau gimana?
Ya, masih bodoh juga sih. (Tertawa). That's why aku bikin episode-episode lagi kan karena aku penasaran banyak hal. Intinya ya berani bodoh. Stay bodoh. Stay foolish.

Tapi banyak yang bilang Bilal Faranov ini salah satu Gen Z yang cerdas.
Siapa bilang?

Kayaknya waktu itu ada satu sesi podcast yang mengundang Anda jadi narasumber?
Coach Anes, ya? Itu teman aku, aku bayar. (Tertawa) Gak lah bohong.

Mungkin cerdasnya karena konsepnya aku masuk kategori curious. Misalnya ya, kemarin ada episode 'Suara Berkelas' dengan Maudy Ayunda. Di situ dia bilang dua pegangan hidup, yang menurut aku bisa bikin orang sustain di apapun yang dia kerjain. Yaitu curiosity dan humility. Kalo kita punya curious, kita akan selalu merasa rendah hati, jadi nggak malu untuk bertanya dan bertanya lagi dan itu berhubungan dengan rasa ingin tahu itu. Even ke Suara Berkelas aku juga selalu bawa itu. Jadinya kalau ketemu orang baru, dan orang itu punya sesuatu yang gak kita ketahui, kita bisa dapat lebih banyak pelajaran. Sehingga aku sendiri jadi bisa bikin pertanyaan-pertanyaan menurut aku jarang orang tanyain gitu.

Seperti apa?
Misalnya, 'Kalo balik ke fase 10 tahun yang lalu dan duduk di podcast Suara Berkelas, kamu akan ngomong apa sama dirimu sendiri versi 10 tahun lalu?' Menurut aku itu deep question yang bikin semua orang ketika ditanya jadi mikir karena dia jadi bisa advice buat dirinya sendiri misal kayak 'Janganlah buru-buru memang mau cari apa, sih?'

Kalau anda sendiri, akan jawab apa kalau ditanya hal yang sama?
Aku yang dulu selalu mikir apapun dari kacamata pesimis dan ngeliat diriku victim mentality. Aku ngeliat dunia gak pernah berpihak. Ada pikiran kayak 'Kok orang gak suka sama aku?' Ya, perasaan-perasaan seperti itu. Tapi berjalannya waktu, anxiety kan adalah pembohongan paling handal, ya. Anxiety itu adalah pembohongan sejati. Kita harus membuktikan kalo anxiety itu bohong ketika mulai beraksi dan ternyata 'Kok gak ada apa-apa ya?' atau kayak 'kok gak ada yang judge aku, ngejahatin aku?'

Selama ini ya akhirnya coba beraksi terus, walau itu makan waktu kayak butuh jam terbang. Maksudnya, kita gak bisa bilang ke anak 18 tahun untuk jangan overthinking, kan? Karena mereka, kayak aku waktu itu,  memang lagi di fase itu. Tapi berjalan waktu ada orang yang lebih dewasa karena momen dia membuktikan anxiety itu bohong lebih cepat gitu. Dan ternyata waktu kita melakukan sesuatu dan ragu, overthinking takut di-judge itu gak kejadian.

Woh. Hal-hal itu yang akhirnya membuat Bilal Faranov jadi lebih keluar di Suara Berkelas?
Ya, mungkin itu kata kuncinya. Mungkin ini juga sekalian menjawab soal Spotify RADAR Creators tadi ya, mengapa Suara Berkelas kayaknya bisa dekat sama audiens. Maksudku, kita coba menjadi storyteller. Kayak kita bisa ngebahas sesuatu yang rumit ke anak SD. Menurut aku 'Suara Berkelas' seperti itu, sih. Kayak aku mau ngundang siapapun untuk membahas hal yang rumit sekali dijelaskan, tapi dengan Bilal yang curious dan dengan mau package itu jadi lebih gampang, siapapun sekarang, even anak SMA gitu, bisa dengar Suara Berkelas atau bahkan orang yang udah umur 60 juga masih relevan.

Bahwa suara berkelas bisa membantu banyak orang ternyata itu kan hal yang kemudian terjadi ya. Tapi kalau ditanya seberapa suara berkelas membantu para kreatornya sendiri?
Jadi kalau ditanya aku sebagai host, menurut aku membantu sekali. Kalau notice, aku biasanya menulis waktu jadi host karena aku ngerasa aku bodoh banget dan aku bisa catat apa yang diomongin narasumber bukan hanya untuk sekali take lalu aku selesai, kayak take it for granted gitu. Aku gak mau jadi host itu. Aku biasanya baca dan pahami lagi obrolan itu, lalu coba aku ceritain ke audience membership Suara Berkelas. 

Ya, berarti benar anda bukan pemalas, kan?
Iya kan tapi belum selesai. (Tertawa) Masih butuh banyak belajar. Dan kemungkinan apa yang aku pelajari itu akan jadi buku Suara Berkelas di tahun depan. Isinya akan seputar pengalaman aku 2 tahun jadi host dan apa yang aku dapet gitu.

Anda cermat sekali. Kalau di-trace konten dengan lonjakan audiens terbanyak Suara Berkelas itu soal keuangan. Apakah hal itu juga disiapkan secara matang seperti rencana ke depan ini?
Kalo konten soal keuangan yang ramai itu aku kaget sih. Ya, itu tinggi banget. Padahal aku masih belajar, dan kita baru growing pelan-pelan gitu. Tapi kayaknya itu bisa jadi meledak mungkin karena simple.

Apa yang simple?
Hooknya itu simple dan thumbnail-nya aku tulis kayak 'Semua orang bisa hasilin uang sepuluh kali lipat setelah nonton ini'.

Wah, harusnya saya nonton itu semalam, daripada nonton episode mengatasi insomnia tapi sambil begadang (Tertawa)
Nah, iya harusnya itu. (Tertawa) Kalau dipikir juga kenapa kontennya bisa works, jadi background aku sama Agusleo itu kita sama-sama Creative Director. Harusnya kita lebih paham gimana social media harusnya seperti apa. Untuk itu kita ada tempat juga yang namanya Ruang Kreatif.

Di Ruang Kreatif, kita biasanya ngebedah studi kasus dari akun-akun sama IP yang aku ikut pegang dan bimbing sama alumni-alumnya. Nah karena aku udah tau studi kasus yang ada, menurut aku banyak program atau podcast di Indonesia yang harusnya bisa tinggi engagement-nya tapi gak bisa nge-package. Nah itulah tugas aku nge-package Suara Berkelas. Jadi kalau liat orang gampang click konten kita, ya karena memang ada permainan psikologi atau hook yang aku bikin. Walaupun itu kadang kayak agak clickbait kedengerannya, tapi kalo di-klik hal itu memang ada.

Wow. Terdengar mudah tapi kadang orang nggak tau gimana lakuinnya ya. Oh ya, katanya Anda lagi produksi dua podcast lagi? 
Ya, aku lagi coba-coba sekarang. Fresh product. Nanti yang kita harapkan di tahun depan. Aku akan ada podcast juga sama temen-temen, aku bikin namanya Folknomic. Di situ kita spesifik ngomongin soal keuangan sama beberapa orang yang emang into business dan karena aku juga suka belajar keuangan. Walaupun gak ada uang tapi suka belajar keuangan.

Biasanya yang hobi emang gak punya kan?
Nah itu Hahahha. Karena aku gak paham, gak punya juga makanya aku undang orang-orang yang lebih paham uang.

Lalu apa perbedaan utamanya dengan Suara Berkelas?
Ya, kalau Suara Berkelas kan fokusnya benar-benar ke self-improvement, tapi bukan dalam konteks kecil tapi lebih luas, misalnya bisa juga dalam konteks kesehatan, keuangan juga dan segala macam, soal growth intinya.

Mengapa genre itu? Maksudnya, Anda gemar sekali bicarakan soal self-imporvement dan sering sekali mengutip tokoh hebat self-improvement, kayak Naval, misalnya?
Ya, aku memang konsumsi itu, sih. Aku baca buku-bukunya, aku nonton podcast-nya. Sejak di Bangkok kuliah aku itu suka aja gitu sama konten-konten kayak Refi Goggins, Ormozi gitu-gitu.

Wah itu nama-nama hebat ya? Saya baru dengar (Tertawa).
Ya, tapi tadi tau Naval, kan? (Tertawa) Aku cuma rasa kayaknya banyak orang harusnya denger mereka, sih. Karena obrolannya gampang dicerna, kan. Even buat orang malas kayak aku gitu.

Ya, tapi Anda kan bukan pemalas. (Tertawa)
Iya, tetap males tapi mau berkembang (Tertawa).

Oke. Males itu seragamnya, kan. Tapi kalau dicermati lebih anda orang yang penasaran dan mau berkembang. Anda pernah ucapkan juga bahwa kita adalah 5 orang yang kita dengar. Bukan 5 orang yang ada di sekitar kita. Bisa jelaskan soal itu?
Oh iya, ya, beberapa kali aku bilang itu.

Kalau lihat 5 orang di sekitar anda, khususnya di Suara Berkelas. Apakah itu tidak bisa mendefinisikan diri anda juga?
Jadi kan orang bilang, 'kalau 5 orang yang di dekat kita itu menentukan siapa kita', tapi menurut aku belum tentu gitu. Menurutku apa yang menentukan itu kita bisa pilih dari 5 orang yang mau kita dengar gitu. 5 orang yang kita kurasi untuk terima saran dan pandangannya.

Nah jadi kalau di Suara Berkelas itu kan setiap dari kita ada fungsinya masing-masing. Jadi ya aku selalu mendengar mereka, karena POV-nya mereka adalah kekuatan mereka gitu. Itu dari konteks suara berkelas. Di circle pertemanan juga kayak gitu cuma harus jelas kan dengar apa dari siapa. Kayak misalnya orang meng-advise aku dengan keras, kalau aku harus seperti ini atau itu, nyuruh keliling dunia aja misalnya, tapi dia sendiri gak pernah keluar rumah ya aku gak bisa dengar kan (Tertawa).

Jika melihat ke diri sendiri, omongan Anda yang seperti apa yang perlu didengar orang?
Ya se-simpel harus posting 100 konten. Karena aku udah posting 100 episode di suara berkelas. Anjay. (Tertawa) Itu harus didengar. Jadi aku bilang, kalau kita mau konsisten ya harus lakukan terus-menerus, misalnya kayak 100 konten gitu. 

Mengapa 100?
Karena itu indikator sih, hitungan yang menentukan kita konsisten atau gak, indikator yang di mana kuantitas itu menentukan kualitas kita. Karena bisa juga kuantitas di 100 tapi kualitas lo malah biasa aja gitu atau sebaliknya. Itu matrix konsistensi. Matrix keseriusan lo dalam suatu hal.

Selain itu, apa lagi yang perlu diketahui tentang Suara Berkelas?
Jadi kita akan ada aktivasi setiap bulan di 2026 dan aku juga bersama Spotify. Teman Berkelas bersama Spotify. 

Oh iya satu lagi, ini sampe aku bikin di bucket list aku. Jadi ada temen bilang kita mau keliling ke Jakarta, Surabaya, Malang, Bali, Semarang, Jogja, Kuala Lumpur, Tokyo, Seoul, New York. Ya bercanda-canda doang sih (Tertawa) tapi kan semoga kejadian.

Oh satu lagi! Semoga Suara Berkelas jadi peringkat satu juga di Spotify (Tertawa) Karena aku pengen banget punya piala gitu dari Spotify kayak Bang Radit (Tertawa)

Terakhir. Apa advice soal improvement yang paling klise tapi berpengaruh besar buat anda?
Menurut aku jangan habisin energi ke orang-orang yang gak ada energi. Maksudnya, aku kan selama ini takut gak disukain sama orang. Aku takut dibenci sama orang. Nah coba dipikirin lagi. Orang-orang yang biasanya gak suka sama lu. Itu biasanya memang gak punya energi yang sama kayak kita.

(RIA/RIA)

NEW RELEASE
CXO SPECIALS