Inspire | Human Stories

Nama Saya: Puti Chitara

Jumat, 10 Mar 2023 13:30 WIB
Nama Saya: Puti Chitara
Jakarta -

Tanah air patut mengucap terima kasih pada sosok-sosok musisi muda yang berhasil membuat Indonesia kian bangkit dan berkembang dalam perihal musik. Dari tahun ke tahun, festival musik di Indonesia yang dipenuhi oleh lineup yang luar biasa tak kunjung sepi dan semakin ramai digandrungi oleh masyarakat. Salah satu musisi yang tidak pernah absen dalam memeriahkan berbagai festival musik lokal adalah Barasuara.

Beberapa hari lalu, Barasuara berkesempatan untuk mengunjungi CXO Media dalam rangka mempromosikan single terbarunya, "Merayakan Fana". Selagi member lain sibuk membuat hidangan yang memiliki makna tersendiri untuk mereka, kami mengajak Puti Chitara-salah satu vokalis dari Barasuara-untuk berbincang-bincang dan mengenal lebih jauh mengenai dirinya serta passionnya untuk musik.

Kenapa waktu itu Puti mengambil jurusan Comparative Musicology di Jepang?
Sebenarnya waktu itu ambil jurusan Hubungan Internasional, jadi memang kampusnya menawarkan jurusan pilihan namanya Asia Pacific Studies dan di bawahnya ada banyak pilihan kayak media, environment, culture, dan international relations. Seiring waktu di sana tuh mungkin minatnya mulai terkorek, ditambah ketemu dengan profesor yang berada di bidang kebudayaan dan musisi, terus gue juga suka sosiologi, budaya, dan musik. Makanya, pas tahun ketiga gue ngambil comparative musicology tapi lulusnya tetap sebagai sarjana sosial.

Apa sih yang memotivasi dan membuat Puti mau mendalami musik pada saat itu?
Awalnya nggak kepikiran mau mendalami musik sebagai performer tapi sebagai studi. Karena, gue memang senang dengan kebudayaan tradisional, apalagi kebudayaan Indonesia. Ditambah lagi, pada saat itu gue jauh dari Indonesia dan gue bisa melihat kebudayaan Indonesia dari perspektif yang berbeda dan memang sangat bagus dan sekeren itu untuk didalami. Tapi sayangnya, kok orang-orang Indonesia nggak aware akan hal ini. Terus gue juga memang suka sama musik gamelan. Makanya, saat itu gue riset tentang musik gamelan Jawa.

Gimana caranya saat itu Puti riset tentang gamelan Jawa saat di Jepang?
Jadi kalau di Jepang itu, beberapa universitas punya ekskul gamelan Jawa dan gamelan Bali-itu beda ya. Saat itu gue gue riset di Universitas Osaka dengan klub gamelan Jawa yang cukup aktif dan kalo nggak salah di Kyoto juga. Pokoknya, minat akan gamelan di Jepang tuh lumayan tinggi.

Gamelan Jawa itu lebih dinamis, lebih slow dan lebih pelan, nggak seagresif Gamelan Bali. Makanya, [gamelan Jawa] lebih sering dipakai oleh orang Jepang, contohnya di soundtrack film Akira dengan notasi pentatonik. Lucunya, di sana gamelan tuh sangat diminati tapi kenapa di Indonesia malah sangat jarang. Tapi karena gue masih S1 jadi gue risetnya nggak terlalu dalam dan gak se-elaborate itu, sih.

Puti berarti sudah lumayan lama kan tinggal di Jepang, ada nggak sih pengaruhnya ke sentuhan musik Puti yang sekarang?
Gue tinggal di Jepang selama 4 tahun doang, kok. Gue sedari kecil memang punya minat yang besar terhadap musik-musik Jepang bahkan composer-composer Jepang. Intinya sih musik apapun yang berbau Jepang gue sudah lama sangat familiar. Jadi mungkin [ada pengaruhnya] dari segi songwriting dan aransemen yang gue pakai untuk di lagu solo gue serta di Barasuara.

Nggak cuma perihal musik, gue selama di Jepang juga selalu terbiasa untuk on time dan itu terbawa sampai sekarang. Karena kan biasanya musisi tuh selalu diasosiasikan oleh ngaret tuh, untungnya sih gue ikut terpengaruh dari budaya Jepang untuk menjadi orang yang selalu on time dan untungnya Barasuara juga selalu on time, sih.

Ada nggak sih goals yang belum kesampaian dan ingin banget diraih oleh Puti?
Sebagai solois, ya gue pastinya ingin menghasilkan karya yang lebih banyak terus bisa mendapatkan kesempatan lebih untuk manggung, karena kan musik gue lumayan agak segmented dan bukan musik yang mainstream dan mudah dinikmati banyak orang. Sedangkan kalau untuk Barasuara ya, pengennya sih bisa manggung di luar negeri, apalagi di Jepang.

Terus, ya paling nggak gue bisa ninggalin legacy ke anak dan cucu gue. Kayak kalau misalkan mereka nyari musik ibu atau neneknya tuh, mereka bisa kenal dan senang saja. Biar musiknya bisa lebih evergreen.

Alasan Puti merasa cocok untuk kerja bareng Iga dan Icil?
Kalo masalah cocok nggak cocok ya itu sebuah proses. Awalnya juga kan kita belajar dulu perihal karakter masing-masing dari awal tahun 2014 gue gabung dan gue baru merasa sudah bisa nyaman banget, ya dua tahun terakhir. [Gue banyak menemukan bahwa] ternyata Icil tuh range-nya segini, kelebihan dia ini, dan Iga juga range-nya segini karakter suara dia begini, kemudian gue bisa menyesuaikan. Sebenernya gue kan personil terakhir yang masuk, awalnya cuma bantuin dan akhirnya bisa jadi personil kan ibaratnya gue kayak masuk ke kandang orang.

Jadi, ya gue ngikutin rules-nya, dan seiring waktu-apalagi untuk album ini-semuanya ikut turun tangan dalam pembuatan. Jadi, gue lebih bisa mengenal mereka lebih dalam sih perihal musik. We complete each other-lah intinya.

Ada nggak sih sosok musisi yang sangat influential bagi Puti?
Utada Hikaru, sih. Karena, dia bisa melawan stigma musik Jepang pada saat itu dengan RnB. Musiknya dia juga sangat influential   mungkin musisi lain juga, ya   tapi untuk gue ya dia [adalah sosok influential]. Pada saat itu, gue nonton TV dan ada iklan lagunya Hikaru yang "First Love". mungkin memang agak lebay sih, tapi karena musik dia, gue jadi ada minat untuk belajar bahasa Jepang bahkan sampai untuk kuliah di sana.

Sosoknya tuh bikin gue jadi punya keinginan untuk bisa menjadi kayak Utada Hikaru yang influential, mendorong dan memberikan dampak besar ke kehidupan orang-orang kayak gue saat itu.

Ada nggak sih satu lagu Barasuara yang membuat Puti bangga karena menjadi bagian dari Barasuara?
Sebenarnya ada di album baru ini yang belum bisa gue bocorin, hehehe. Karena awalnya kan selama ini Iga yang paling banyak berkontribusi untuk pembuatan lagu Barasuara, sedangkan di album ini gue ikut turun tangan dalam perihal musiknya, meskipun lirik itu kan memang Iga banget. Jadi untuk album ini, either you hate it or you love it.

[Gambas:Audio CXO]

(DIP/alm)

NEW RELEASE
CXO SPECIALS