Inspire | Human Stories

Akal-akalan Konten Bersimbol Agama Atas Nama Toleransi

Minggu, 11 Sep 2022 18:00 WIB
Akal-akalan Konten Bersimbol Agama Atas Nama Toleransi
Foto: Pexels
Jakarta -

Jagad maya dihebohkan lagi karena konten berbau agama. Sayangnya, kali ini bukan soal cinta kasih yang mendamaikan hati, tapi perkara fesyen yang kadung dilekatkan dengan nilai agama. Masalahnya, dalam beberapa video yang jelas-jelas provokatif tersebut, terdapat pelabelan yang menghakimi, pemaksaan berkedok dakwah, juga cerita yang direkayasa.

Di era digital semua memang bisa viral, sekalipun hanya memuat konten penuh bualan. Belakangan, ada yang terkenal hanya karena pesan bluder kepada hacker. Ada yang menjadi heboh karena hobi mempertengkarkan paranormal. Dan   sialnya   masih ada pula, yang terkenal karena konten menyerempet agama, atau dengan kata lain, menjadikan agama sebagai komoditas.

Bak lagu lama kaset kusut, kan? Sebab bukan sekali dua kali, perkara agama   dalam hal ini kerudung-bermuara pada konflik sosial. Anehnya, kekisruhan tercipta dari konten-konten yang dicap empunya sebagai Islamic Social Experiment. Entah, sebenarnya si pembuat paham atau tidak dengan tajuk tersebut. Pasalnya, jika menengok konten-konten kontroversial rekaannya, boro-boro mencerminkan Islamic Social Experiment. Disiplin dalam membuat social experiment saja mereka luput. Nah, apa lagi Islamic?

Maksud saya, jangan mentang-mentang talent utama dalam konten mengajak orang asing berinteraksi di ruang publik, lantas pede menyebutnya sebagai eksperimen sosial. Karena pada kenyataannya, eksperimen sosial tidak berarti memaksa orang, apalagi mengatasnamakan toleransi secara agresif. Atau jangan hanya karena si talent membalut pakaian dari ujung jempol sampai ubun-ubun sambil membawa-bawa kerudung, lalu boleh mengklaim kalau konten tersebut Islami. Pun menjejali kerudung kepada orang yang tidak memiliki consent, bukanlah bentuk dakwah, juga jauh dari makna toleransi beragama. Itu namanya pemaksaan.

Jika pada pangkalnya, konten tersebut dibuat atas niat baik untuk saling mengingatkan sesama, kenapa terkesan memaksakan? Maksudnya, sejak kapan hal baik pantas disampaikan dengan cara tidak baik? Yang paling menyebalkannya adalah, ternyata, semua kekisruhan akibat konten tersebut berasal dari settingan si pemilik konten. Peliknya lagi, embel-embel agama di konten tersebut sangat jauh dari nilainya yang luhur dan esensial, tapi sekadar dijadikan konten yang berorientasi pada uang dan bukan kebaikan.

Sejatinya, eksperimen sosial adalah bentuk percobaan di masyarakat, yang diharapkan dapat menjadi tolok-ukur baru pada suatu nilai yang revolusioner. Sedangkan makna Islami, tidak pernah bercerita tentang keburukan. Tapi sebaliknya, yang seharusnya ada adalah kebaikan, kedamaian, dan keindahan. Bukan paksaan, apalagi memaksakan. Sematan Islamic Social Experiment itu sendiri hanya berada di ranah konten belaka, tanpa benar-benar memperhatikan makna dari Islamic hingga Social Experiment yang diwacanakan.

[Gambas:Audio CXO]

(RIA/DIR)