Inspire | Human Stories

Mengenang Warisan Shireen Abu Akleh

Rabu, 18 May 2022 18:00 WIB
Mengenang Warisan Shireen Abu Akleh
Jakarta -

Dunia berduka atas kepergian jurnalis senior Al Jazeera, Shireen Abu Akleh, yang mati tertembak ketika sedang meliput operasi militer di tepi barat Kota Jenin, pada tanggal 11 Mei 2022. Kematian Shireen tak hanya meninggalkan duka yang mendalam, tapi juga membangkitkan kemarahan dunia internasional. Sebab, menurut beberapa jurnalis yang ada di tempat kejadian, tembakan yang menewaskan Shireen berasal dari tentara Israel. Untuk menjamin investigasi yang independen, Presiden Palestina Mahmoud Abbas, mengatakan akan membawa kasus ini ke Mahkamah Pidana Internasional.

Ribuan warga Palestina pun berkumpul di Kota Ramallah untuk mengantarkan Shireen yang dimakamkan di Mount Zion Cemetery di Kota Yerusalem. Mereka juga turut mengibarkan bendera Palestina dan meneriakkan "the honest voice never dies" dan "we sacrifice our blood and spirit for you, Shireen". Prosesi pemakaman Shireen berlangsung hingga 3 hari, dan merupakan salah satu pemakaman terpanjang dan terbesar di Palestina. Jurnalis, diplomat, hingga Presiden Palestina juga turut hadir dalam prosesi tersebut. Shireen Abu Akleh bukanlah anggota keluarga kerajaan dan bukan juga seorang politikus. Namun, ia merupakan seorang ikon dan pahlawan di mata banyak orang. Apa saja peninggalannya bagi dunia?

.Shireen Abu Akleh/ Foto: Agence France-Presse

Shireen Abu Akleh adalah jurnalis berkebangsaan Palestina-Amerika. Ia dilahirkan di Yerusalem pada 1971, namun mendapatkan kewarganegaraan Amerika melalui keluarga ibunya. Setelah menempuh pendidikan tinggi, ia memutuskan untuk kembali ke Palestina dan bekerja untuk beberapa media seperti Voice of Palestine dan Amman Satellite Channel. Pada tahun 1997, Shireen bergabung dengan Al Jazeera-setahun setelah media tersebut didirikan   dan menjadi salah satu koresponden lapangan pertama. Al Jazeera sendiri merupakan media berbahasa Arab yang berbasis di Qatar.

Nama Shireen semakin dikenal setelah ia meliput peristiwa Intifada yang kedua yang berlangsung dari tahun 2000 hingga 2005. Intifada sendiri merupakan gerakan pemberontakan warga Palestina terhadap pendudukan Israel. Peristiwa ini dipicu oleh kunjungan Perdana Menteri Israel ke Temple Mount yang dikawal oleh ratusan polisi. Temple Mount sendiri merupakan Bukit Bait Suci yang berlokasi di Kota Lama Yerusalem, di mana kawasan ini dianggap sakral oleh tiga penganut agama samawi.

Selama lebih dari 25 tahun terakhir, Shireen telah menjadi wajah dari berbagai liputan mengenai peristiwa yang terjadi di Timur Tengah, terutama konflik Palestina-Israel. Konflik antara Israel dan Palestina yang telah berlangsung sejak tahun 1947 memang telah memakan banyak korban jiwa. Di tengah perang dan kekerasan yang terjadi selama bertahun-tahun ini, peran Shireen amatlah penting dalam mengangkat perspektif mereka yang menjadi korban perang.

.Shireen/ Foto: Detik.com

Sebagai koresponden lapangan, pekerjaan Shireen mengharuskannya untuk melaporkan langsung dari tempat-tempat yang rawan konflik. Shireen dipuji bukan hanya karena profesionalitasnya, tapi juga karena keberaniannya untuk menjadi jurnalis yang berpihak kepada suara-suara yang terpinggirkan. Selama ini, media-media Barat cenderung memiliki bias dalam memberitakan konflik yang terjadi di Timur Tengah. Sementara itu, Shireen sendiri kerap meliput warga Palestina yang menjadi korban kekerasan dari tentara Israel.

Dalam sebuah potongan video, Shireen mengatakan bahwa ia memilih menjadi jurnalis untuk bisa lebih dekat dengan orang-orang di sekelilingnya. Ia juga mengatakan meski tak mudah untuk mengubah realita, tapi setidaknya ia bisa menjembatani suara mereka kepada dunia. Selain itu, Shireen juga mematahkan stereotip gender dalam profesi jurnalisme. Pada saat itu, tak banyak jurnalis perempuan yang terjun ke lapangan untuk meliput perang. Keberanian Shireen telah menginspirasi banyak jurnalis untuk mengikuti langkahnya.

Shireen mendedikasikan hidupnya untuk meliput kekerasan dan ketidakadilan yang terjadi dalam konflik Israel-Palestina   tak seharusnya ia kehilangan nyawa karena keberanian tersebut. Kontribusi Shireen membuatnya menjadi salah satu sosok paling berpengaruh dalam media Arab dan dunia jurnalisme secara umum. Kiprah Shireen sebagai jurnalis juga membuktikan bahwa jurnalis memiliki peran penting dalam membentuk realita mengenai konflik yang terjadi hari ini. Selamat jalan dan terima kasih, Shireen.

[Gambas:Audio CXO]

(ANL/DIR)