Interest | Home

No Place Like: Wae Rebo

Selasa, 21 Jun 2022 14:00 WIB
No Place Like: Wae Rebo
Foto: Melodya Lukita
Jakarta -

Wae Rebo merupakan satu desa yang terletak di ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut Flores, Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Tidak pernah terbayang sebelumnya bahwa saya akan pergi ke negeri di atas awan ini, di mana untuk mencapai tujuan saja harus dengan mendaki selama 2 jam dalam medan yang cukup curam dan curah hujan yang cukup tinggi. Kesiapan fisik dan mental jadi hal yang paling penting dalam trip ini, namun semua terbayarkan pada akhirnya.

.Wae Rebo/ Foto: Melodya Lukita

Untuk sampai ke desa Wae Rebo, saya terbang ke Labuan Bajo dan menginap semalam untuk mengemas ulang baju dan perlengkapan yang penting untuk dibawa selama 2 malam di Wae Rebo. Cuaca di desa Wae Rebo dapat mencapai 17 derajat celsius pada malam hari, dan 25 derajat celsius pada siang hari   yang bisa dikategorikan cukup sejuk dengan potensi hujan yang cukup tinggi; jadi baju hangat dan raincoat jadi hal yang cukup krusial untuk menikmati Wae Rebo.

Dari Labuan Bajo membutuhkan perjalanan 1-2 jam dengan mobil ke Desa Denge, lalu 30 menit dengan motor untuk mencapai pos 1 sebelum mendaki ke Desa Wae Rebo. Untungnya jalanan motor ini sudah tersedia sekarang, jika belum pendatang harus jalan kaki selama 3-4 jam hanya untuk mencapai pos 1. Di Desa Denge terdapat jasa sewa porter yang bisa membantu untuk menjadi guide jalur hiking sampai jasa untuk membawakan tas. Jadi jika merasa lelah di tengah jalan, mereka siap membantu.

.Wae Rebo/ Foto: Melodya Lukita

Setelah hampir 2 jam, akhirnya saya sampai ditemani oleh rintik hujan yang membuat pemandangan Wae Rebo menjadi lebih indah dengan kabut yang menyelimuti pegunungan dan seluruh desanya. Ketika sampai, saya diberi tahu untuk tidak mengambil foto dulu sampai upacara kedatangan yang diadakan oleh kepala desa di rumahnya. Saat upacara, kepala suku juga memberi tahu tentang pantangan yang kami harus patuhi, seperti untuk tidak menginjak batu-batu untuk upacara, dan juga memberikan wejangan untuk para pendatang untuk menghargai alam serta menjaga kebersihan sekitar.

.Mbaru Niang/ Foto: Melodya Lukita

Desa Wae Rebo memiliki 7 rumah adat "mbaru niang" yang berbentuk kerucut dan memiliki beberapa tingkat untuk warga menyimpan stok makanan. 3 dari 7 rumah adat tersebut sudah diubah menjadi bentuk berbeda yang digunakan sebagai tempat wisatawan bermalam. Pada tahun 2010 lalu, pemugaran dan penambahan fasilitas mbaru niang pun juga dilakukan yang didukung oleh donatur seperti Danone Indonesia, Laksamana Sukardi, Arifin Panigoro, dan Tirto Utomo Foundation sebagai bentuk konservasi pada salah satu world heritage yang dilindungi UNESCO ini.

.Biji Kopi Wae Rebo/ Foto: Melodya Lukita

Di Wae Rebo seluruh aliran listrik diambil dari energi matahari melalui solar panel dan genset. Jadi setiap pukul 9-10 malam seluruh desa akan gelap gulita   pada saat inilah pengunjung dapat menikmati banyaknya bintang di langit Wae Rebo dan jika beruntung milky way pun bisa dilihat dengan mata telanjang. Selain itu, pada siang hari pengunjung dapat menikmati kebun milik penduduk sambil menikmati kopi khas Wae Rebo yang cukup terkenal. Makanan akan tersedia tiga kali sehari; pagi, siang, dan malam dengan menu seperti nasi putih, tahu dan tempe goreng, telur dadar, mie goreng, dan sambal ulek yang sangat pedas. Penduduk Wae Rebo tidak memakan binatang, jadi ayam yang banyak terlihat di sekitar rumah hanya dikhususkan untuk ternak. Saya sarankan untuk membawa snack favorit jika membutuhkan variasi makanan.

Desa yang unik dan cantik ini memang tidak mudah untuk dikunjungi, namun bagi saya menjadi pengalaman sangat worth it untuk para traveler. Bagaimana, apa semakin tertarik untuk mengunjungi Desa Wae Rebo?

[Gambas:Audio CXO]



(MEL/DIR)