Interest | Home

No Place Like: Laweyan

Selasa, 03 May 2022 12:00 WIB
No Place Like: Laweyan
Foto: Cagar Budaya Kemdikbud
Jakarta -

Solo atau Surakarta yang banyak orang Indonesia tahu, hanyalah sebatas tempat kelahiran Presiden Indonesia, Joko Widodo. Padahal kota kecil ini lebih dari sekadar tempat asal keluarga orang nomor satu di Indonesia tersebut, melainkan memiliki banyak sejarah dan budaya yang tak kalah dengan kota yang mengapitnya, Semarang dan Yogyakarta. Bahkan julukannya sebagai Kota Batik seakan tak terdengar gaungnya daripada kedua kota yang mengapitnya tersebut. Padahal salah satu distrik di kota Solo mempunyai sejarah kebudayaan yang panjang mengenai batik, yakni Laweyan.

.Sejarah Laweyan/ Foto: Cagar Budaya Kemdikbud

Sejarah Laweyan

Kampung Laweyan merupakan sebuah kawasan sentra industri batik yang unik, spesifik dan bersejarah. Berdasarkan sejarah yang ditutur oleh R.T. Mlayadipuro, Desa Laweyan atau Kampung Laweyan sudah ada sebelum munculnya Kerajaan Pajang. Sejarah Laweyan baru dimulai ketika Kyai Ageng Henis, putra dari Ki Ageng Sela, keturunan langsung Raja Brawijaya V, raja terakhir Majapahit, bermukim di Desa Laweyan, pada tahun 1546 Masehi, di sebelah utara Pasar Laweyan   sekarang Kampung Lor Pasar Mati   dan membelakangi jalan yang menghubungkan antara Mentaok dengan Desa Sala   sekarang jalan Dr. Rajiman. Hingga akhir hayatnya pun, Ki Ageng Henis tetap berada di Laweyan hingga dimakamkan di Pasarean Laweyan.

Selain itu, Pasar Laweyan atau Pasar Lawe sangat ramai dikunjungi banyak orang dari berbagai wilayah. Bahan baku kapas yang disebut Lawe itu pun banyak dihasilkan dari Desa Pedan, Juwiring, dan Gawok yang masih termasuk daerah Kerajaan Pajang. Sebagai bagian budaya adiluhung Indonesia yang berkembang pada masa Kerajaan Majapahit, Batik Laweyan merupakan kain yang dibuat dengan bahan ramah lingkungan. Sebab kebanyakan industri batik di Laweyan adalah batik tulis dan menggunakan pewarna alami.

Seiring berkembangnya teknik batik tulis dan cap, Batik Laweyan mengalami puncak kejayaan di era 1900an sampai 1970an. Pada tahun 1991, Kampung Laweyan semakin populer ketika Haji Samanhudi yang merupakan tokoh Pergerakan Nasional mendirikan Serikat Dagang Islam (SDI). Pada masa itu muncullah nama Tjokrosoemarto, seorang tokoh juragan batik yang fenomenal. Ia mempunyai industri batik terbesar di Laweyan, dan omzetnya luar biasa didukung oleh pengrajin-pengrajin batik dari berbagai daerah di pulau Jawa. Wilayah pemasarannya tak hanya di dalam negeri, Tjokrosoemarto juga memasarkan batik ke mancanegara, ia juga merupakan seorang eksportir batik pertama di Indonesia.

.Laweyan/ Foto: Cagar Budaya Kemdikbud

Tak ke Laweyan, Tidak ke Solo

Tak lengkap rasanya bila kamu pergi ke kota Solo tidak mampir ke Kampung Batik Laweyan. Kampung ini memberikan pilihan lebih dari 50 gerai Batik Laweyan yang menjual aneka produk batik berkualitas dengan harga yang cukup bersahabat. Selain itu, suasana tempo dulu yang masih kental, menambah daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang mengunjungi distrik ini.

Mulai dari rumah-rumah kuno yang artistik juga bersejarah peninggalan masa lampau milik Mbok Mase dan Mas Nganten, bisa melihat langsung proses pembuatan batik tulis di berbagai industri batik, bahkan kamu juga bisa mencoba membatik karena tersedia paket kursus batik singkat yang bisa ditempuh dalam waktu dua jam saja. Hasil karya batikmu pun bisa langsung dibawa pulang sebagai buah tangan dari kampung batik ini.

Setelah dimanjakan dengan berbagai kegiatan menyenangkan, di Laweyan kamu bisa merasakan makanan tempo dulu, perpaduan warisan Belanda dan Indonesia. Seperti bistik, setup makaroni, galantine, apem, ledre, semar mendem, dan kroket dengan secangkir teh dan kopi, bisa kamu nikmati di berbagai sudut Laweyan. Bahkan untuk rombongan turis, tersedia paket wisata kuliner spesial dengan menu masakan tradisional 'Laweyan Tempo Doeloe' disajikan prasmanan di rumah kuno milik Mbok Mase.

.Makanan khas Laweyan/ Foto: Cagar Budaya Kemdikbud

Nah, dalam rangka libur panjang Lebaran tahun ini, distrik Laweyan di Solo bisa jadi list jalan-jalan kamu bersama keluarga atau pasangan. Kota Solo memang tidak terlalu besar layaknya Semarang atau Yogyakarta, namun keindahan dan sejarahnya tak kalah menarik untuk dinikmati selama masa libur Lebaran ini.

[Gambas:Audio CXO]

(DIR/HAL)