Tak terasa tahun 2025 akan segera berakhir dan tahun 2026 akan segera tiba. Namun pernahkah kamu bertanya-tanya mengapa tahun baru ditandai pada tanggal 1 Januari? Padahal ada tanggal-tanggal lainnya dalam 12 bulan di kalendar masehi.
Lantas siapa yang berinisiatif untuk menentukan penandaan tahun baru dan masih diamini hingga saat ini?
Ilustrasi perayaan tahun baru./ Foto: iStock |
Sejarah Perayaan Tahun Baru
Sebelum mengetahui siapa yang mencanangkan tanggal 1 Januari, mari kita kilas balik perayaan tahun baru sebelumnya. Mengutip Time, perayaan tahun baru tertua yang pernah tercatata berasal dari tahun 2000 SM di Mesopotamia Kuno yang sekarang merupakan wilayah Irak.
Perayaan tahun baru saat itu bernama Akitu yang berlangsung selama 12 hari, dimulai pada hari bulan aru pertama setelah ekuinoks musim semi--hari ketika panjang siang dan malam sama---dan biasa jatuh pada bulan Maret. Bagi orang Babilonia pada masa itu, festival ini menandai penobatan raja baru atau penegasan kembali kesetiaan kepada raja yang berkuasa.
Berbeda lagi di Tiongkok yang memiliki sejarah perayaan tahun baru selama 3.500 tahun, tahun dimulai pada bulan baru kedua setelah titik balik musim dingin yang biasanya jatuh sekitar akhir Januari atau Februari awal, menandai awal musim semi. Sementara di Mesir Kuno, tahun baru dimulai ketika Sirius--bintang paling terang di langit--muncul di sekitar pertengahan Juli.
Dan karena kalendar Mesir Kuno memiliki 12 bulan yang masing-masing terdiri dari 30 hari, mereka akan merayakan tahun baru selama lima hari sebelum menghitung awal bulan pertama untuk mempertahankan siklus bulan.
Kalau dikatakan penadaan dimulai dari Romawi, memang tak salah. Namun dalam Roma Kuno, kalendar paling awal yang diketahui di sana dibuat oleh raja pertama yakni Romulus dimulai pada Maret. Tapi kaledar ini hanya ada 304 hari atau 10 bulan saja. Lalu pada abad ke-7, raja kedua Roma Kuno, Numa Pompilius menambahkan 50 hari ke tahun kalendar untuk menutupi periode musim dingin dan membagi tahun secara tidak merata menjadi 12 bulan dengan menambahkan Ianuarius dewa permulaan dan Februarius yakni festival menyucian.
Kemudian ketika Julius Caesar menjadi diktator Roma pada tahun 46 SM dia meminta nasihat dari para astronom dan matematikawan Sosigenes untuk membuat kalendar baru berdasarkan matahari. Pada tahun 45 SM, kalendar Julian yang beru tercipta dan tahun sipil di Roma secara resmi dimulai pada tanggal 1 Januari, seperti sekarang ini.
Julius Caesar yang pertama kali menandakan tanggal 1 Januari sebagai awal tahun baru./ Foto: iStock |
Kesalahan pada Kalendar Julian
Dengan kekuasaan Romawi yang kuat, penggunaan kalendar Julian pun ikut menyebar. Namun, setelah jatuhnya Roma pada abad ke-5 M, banyak negara kristen mengubah kalendar agar lebih mencerminkan agama mereka dan tanggal 25 Maret menjadi Hari Raya Kabar Gembira dan 25 Desember menjadi Natal.
Kemudian kalendar Julian mengalami banyak kesalahan dalam penentuan waktu dan penanggalan pada tahun kabisat. Efek kumulatif dari kesalahan ini selama beberapa abad menyebabkan berbagai peristiwa terjadi pada musim yang salah. Hal ini juga menimbulkan masalah dalam penentuan Paskah.
Oleh karena itu, Paus Gregorius XIII memperkenalkan kalendar yang direvisi pada tahun 1582. Selain menyelesaikan masalah tahun kabisat, kalendar Gregorian mengembalikan tanggal 1 Januari sebagai awal Tahun Baru. Sementara Italia, Prancis, dan Spanyol termasuk negara yang segera menerima kalendar baru tersebut, namunnegara-negara Protestan dan Ortodoks lambat untuk mengadopsinya.
Britania Raya dan koloni-koloni Amerikanya baru mulai mengikuti kalender Gregorian pada tahun 1752. Sebelum itu, mereka merayakan Hari Tahun Baru pada tanggal 25 Maret. Seiring waktu, negara-negara non-Kristen juga mulai menggunakan kalender Gregorian. Cina (1912) adalah contoh yang terkenal, meskipun negara itu terus merayakan Tahun Baru Imlek menurut kalender lunar.
Tapi ada juga negara yang tidak pernah mengadobsi kalendar Gregorian karena mereka memiliki penandaan tanggal sendiri. Salah satunya adalah Ethiopia, mereka merayakan Tahun Baru Imlek atau yang dikenal sebagai Enkutatash pada bulan September setiap tahunnya.
Itulah alasan mengapa tanggal 1 Januari ditandai menjadi awal tahun. Berkat inovasi yang dilakukan oleh para peradaban pertama di Mesopotamia hingga Paus Gregoriu XIII kini kita bisa merayakan awal tahun setiap tanggal 1 Januari.
(DIR/DIR)
Ilustrasi perayaan tahun baru./ Foto: iStock
Julius Caesar yang pertama kali menandakan tanggal 1 Januari sebagai awal tahun baru./ Foto: iStock