Insight | General Knowledge

Belajar dari Kasus Mattdicx, Sejauh Mana Amati, Tiru, Modifikasi?

Rabu, 28 Feb 2024 19:12 WIB
Belajar dari Kasus Mattdicx, Sejauh Mana Amati, Tiru, Modifikasi?
Foto: Istimewa
Jakarta -

Istilah ATM (Amati, Tiru, Modifikasi) sudah menjadi kata "resmi" di tengah-tengah masyarakat. Berbagai sektor bisnis tidak akan pernah terlepas dari ATM yang selalu berada di kolam abu-abu karena batasannya dengan plagiarisme hanya setipis benang. Apakah hal ini masih terhitung relevan dan etis untuk dilakukan? Atau malah sudah harus ada batasan yang dipahami setiap orang? Permasalahan sejauh mana praktik Amati, Tiru, Modifikasi menjadi buah bibir setelah muncul kasus content creator bernama Mattdicx.

Kasus Mattdicx Atas Nama Konten

Mattdicx selama ini dikenal dengan konten edukasi "atas nama konten" dengan bio bertuliskan "Bantuin ningkatin kualitas konten lo". Sebuah statement yang sama sekali tidak salah, jika kita scrolling video Mattdicx di TikTok dan Instagram. Kontennya yang berfokus soal proses editing video memang berhasil dinikmati semua orang, hingga membuat nama Mattdicx tidak hanya sebagai content creator doang, tapi telah diidolakan.

Masalahnya, beberapa waktu lalu, Mattdicx membuat video yang menghardik content creator lainnya yang masih "bocil" atau anak-anak. Ia merasa anak itu meniru konsep KV (Key Visual) dari video miliknya.

Positioning kamera, penempatan mikrofon, tone warna, hingga ada video api unggun yang membuat videonya selalu aesthetic. Semuanya dirasa oleh Mattdicx bahwa sudah ditiru oleh anak tersebut. Akhirnya apa yang terjadi?

Mattdicx lebih banyak dihujat, sedangkan si "bocil" mendapatkan dukungan dari content creator lainnya. Bagaikan pedang bermata dua, apa yang dilakukan Mattdicx membuatnya serba salah. Ia merasa dialah yang menciptakan KV yang sekarang dipakainya, padahal dari fakta di lapangan, tidak seperti itu aslinya.

Namun di sisi lain, banyak orang tidak suka cara Mattdicx untuk menyerang anak kecil yang sebenarnya masih dalam tahap mencari jati diri sebagai seorang content creator. Anak sekecil itu, setidaknya ia mau push the limit dengan membuat konten, kan?

Sejauh Mana Amati, Tiru, Modifikasi?

Setelah apa yang terjadi pada Mattdicx, kasus Amati, Tiru, Modifikasi jadi lebih sering dibahas. Di dunia per-konten-an, cara seperti ini sangat lumrah terjadi. Satu content creator meniru konten orang lain seperti menjadi mencari jarum di antara tumpukan jarum. Gampang, kan?

Bahkan proses ATM bisa sangat jauh, hingga menyentuh persona individunya sendiri. Ketika ada nama content creator yang sering berkata kasar lalu dianggap jenaka, maka banyak pula yang mengikutinya. Toh, memang semua orang lagi suka konten seperti itu. Sayangnya hal ini tetap berada di kolam abu-abu.

Mattdicx sendiri tidak bisa mengatakan kalau dirinya dijiplak oleh si anak kecil, karena banyak pula di kolom komentar yang menyatakan kalau Mattdicx sendiri juga mengikuti KV dari orang lain. Kalau sudah begini, siapa yang salah atau siapa yang benar, tidak ada yang tahu.

Jika berkaca terhadap genre musik hip-hop, ada proses kreatif bernama sampling, di mana para musisi mengambil beberapa potongan nada dari lagu lain untuk diproses ulang sehingga menjadi satu karya musik baru. Terkadang malah secara terang-terangan beneran menunjukkan kalau lagu tersebut di-sampling dari lagu ini, seperti "Through the Wire" milik Kanye West yang diambil dari "Through the Fire" Chaka Khan. Namun, pihak yang melakukan sampling akan membayar royalti atas apa yang dilakukan karena ini akan menyangkut perizinan perilisan lagu dan hal-hal lainnya.

Namun untuk kasus content creator, tidak ada yang mengurusi hal seperti ini. Apakah ada aturan khusus membayar royalti kalau melakukan ATM konten orang lain? Ya, tidak ada. Akhirnya kita hanya bisa kembali kepada diri masing-masing.

Sejauh mana kompas moral kita akan ATM bisa ditolerir. Apakah seperti Mattdicx? Atau seperti Reza Arap yang cuek saja dengan orang-orang yang ingin menjadi seperti dirinya?

Seperti kata J. Cole dalam "Under The Sun", memang "nothing new under the sun". Paling penting adalah tetap ciptakan konten seorisinal mungkin walaupun pasti ada inspirasi dari orang lain. Setidaknya ada "modifikasi" yang bisa membuat konten kamu lebih rich daripada konten yang jadi inspirasi awal.

[Gambas:Audio CXO]

(tim/alm)

Author

Timotius P

NEW RELEASE
CXO SPECIALS