Insight | General Knowledge

Hal-hal yang Luput Dibahas dalam Debat Cawapres Kedua

Senin, 22 Jan 2024 17:04 WIB
Hal-hal yang Luput Dibahas dalam Debat Cawapres Kedua
Jakarta -

Debat calon wakil presiden (cawapres) yang diselenggarakan Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada Minggu (21/1) malam menyisakan perdebatan yang seru di media sosial. Meskipun tampak seru, namun debat yang mengusung tema pembangunan berkelanjutan, energi, sumber daya alam, pangan, pajak karbon, lingkungan hidup, agraria, masyarakat adat, dan desa ini juga belum secara keseluruhan membahas topik yang lebih mendalam.

Beberapa pengamat dan aktivis pun menyayangkan ada hal-hal yang justru penting untuk dibahas sebagai gagasan memajukan Indonesia, justru banyak diisi dengan berbagai gimmick, sindiran, hingga pengulangan topik yang itu-itu saja. Lantas, apa saja hal-hal yang luput dibahas dalam debat cawapres kedua?

Empat Hal yang Seharusnya Dibahas dalam Debat Cawapres

Tema pembangunan berkelanjutan, energi, sumber daya alam, pangan, pajak karbon, lingkungan hidup, agraria, masyarakat adat, dan desa ini memang hal yang tidak bisa diperdebatkan hanya satu kali. Sebab, ada banyak unsur yang kini masih menjadi permasalahan pelik yang belum terselesaikan hingga hari ini. Apa saja?

1. Isu sampah

Mengutip Antara, beberapa aktivis lingkungan kecewa sebab topik soal sampah dan polusi yang menjadi permasalahan yang fundamental di Indonesia belum dibahas dalam debat tersebut. Aktivis Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik, Tiza Mafira mengatakan topik ini sudah lama menjadi masalah darurat di Indonesia dan masyarakat layak untuk tahu kebijakan yang akan diterapkan oleh masing-masing cawapres.

"Isu sampah hanya dijadikan serangan personal dan disebut sambil lalu, tanpa membahas kebijakannya," kata Tiza. Sementara, aktivis Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Muhammad Aminullah pun mengatakan sampai saat ini, Indonesia masih terjebak dalam paradigma pengelolaan sampah kumpul-angkut-buang yang membuat tempat pembuangan akhir (TPA) semakin menggunung.

2. Peran perempuan dalam pembangunan

Soal pembangunan, ketiga calon belum membahas seperti apa pentingnya keterlibatan perempuan di dalamnya. Menurut Ketua Pusat Studi Agama, Lingkungan, dan Perubahan Iklim, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Maila Dinia Husni Rahiem, para cawapres tidak secara tegas menyoroti peran penting perempuan dalam pelestarian lingkungan dan partisipasi mereka di pembuatan kebijakan pemerintah.

Dalam debat, moderator membacakan pertanyaan kepada cawapres nomor urut 3, Mahfud Md, bahwa sejak 2014, terjadi perampasan 8,5 juta hektare wilayah adat, mengakibatkan 678 kasus kriminalisasi dan pemiskinan perempuan adat. Tanggapannya pun beragam.

Mahfud mengusulkan penertiban birokrasi pemerintah dan aparat penegak hukum, cawapres nomor urut 1, Muhaimin Iskandar berpegang pada prinsip tidak ada satupun masyarakat yang boleh ditinggalkan, sementara cawapres nomor urut 2, Gibran Rakabuming Raka mengatakan perlunya keterlibatan pengusaha dan UMKM lokal dengan fokus mencari titik tengah keseimbangan dalam perkembangan industri.

"Seharusnya, para calon wakil presiden bisa lebih rinci dan menjelaskan pentingnya perempuan dalam aspek-aspek tersebut. Dengan demikian, program-program mereka bisa menjadi lebih inklusif dan mengakomodasi kontribusi perempuan dan kebutuhan perempuan serta anak-anak secara lebih efektif," ujarnya.

3. Topik pulau kecil dan pesisir tak terbahas

Aminullah juga menyoroti permasalahan lingkungan dan sosial yang dihadapi masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil tidak terbahas dalam debat. Padahal saat ini, dunia sedang menghadapi krisis iklim yang membuat beberapa pulau di dunia menghilang karena kenaikan air laut setiap tahun. Bukan tidak mungkin masalah ini akan datang kepada Indonesia.

Selain itu, pulau-pulau kecil juga sedang menghadapi ancaman krisis iklim yang mempengaruhi keberlanjutan ekologis, kedaulatan pangan, ketersediaan air bersih dan keberlanjutan ekonomi masyarakat. Selain itu, penguasaan pulau oleh korporasi pariwisata dan reklamasi perluasan pulau tanpa izin juga menjadi topik yang semestinya dibahas.

4. Program penyuluhan yang dilupakan

Penyuluhan adalah program yang semestinya menjadi sorotan penting dalam debat tersebut. Tapi tidak ada satupun yang menyinggung peran penting dari penyuluhan. Padahal penyuluhan merupakan salah satu cara untuk membantu petani dalam mengadopsi inovasi yang sudah dihasilkan oleh para peneliti.

Keberhasilan Indonesia dalam swasembada beras pada masa Orde Baru, merupakan bukti dari suksesnya penyuluhan di Tanah Air. Adapun penyuluhan yang bisa diterapkan seperti Latihan dan Kunjungan (LAKU), pendekatan sistem pertanian, keterkaitan penyuluh, peneliti, petani, dan Sekolah Lapang.

Kegiatan ini pun bukan hanya memberikan informasi terbaru kepada masyarakat daerah terpencil, namun membantu masyarakat setempat dalam mengembangkan daerahnya. Misalnya memberantas buta huruf, adanya Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat, Sanggar Kegiatan Bersama, dan dalam bidang kesehatan pun, penyuluhan bisa membantu masyarakat lebih peduli soal kesehatannya.

Walaupun penyuluhan mungkin menjadi kegiatan komunikasi gaya lama, tetapi tidak bisa dimungkiri bahwa penjelasan dan pembelajaran secara langsung akan lebih dimengerti oleh masyarakat, khususnya masyarakat daerah yang masih sulit akses internet maupun minim sumber daya manusia yang berkualitas.

Itulah beberapa hal yang luput dan seharusnya menjadi topik yang 'seksi' untuk dibahas dalam debat cawapres kedua. Memang, ada banyak faktor yang membuat topik-topik yang tersebut pada akhirnya terlupakan. Semoga di debat selanjutnya, topik-topik yang sekiranya dekat dengan masyarakat bisa dibahas di meja diskusi ketimbang harus adu gagasan dan gimmick yang tak terlalu penting.

(DIR/tim)

NEW RELEASE
CXO SPECIALS