Insight | General Knowledge

Atas Nama Bola: Lebih dari 100 Orang Meninggal Dunia di Kanjuruhan, Malang

Minggu, 02 Oct 2022 10:54 WIB
Atas Nama Bola: Lebih dari 100 Orang Meninggal Dunia di Kanjuruhan, Malang
Kerusuhan di Stadion Kanjuruhan, Malang Foto: AFP via Getty Images/STR
Jakarta -

Siapa yang tidak setuju dengan kalimat, "Tidak ada satu kemenangan pun yang sebanding dengan nyawa," yang pernah diucapkan Mas Bepe beberapa tahun silam? Rasanya, quotes barusan wajib dipegang oleh seluruh pencinta sepak bola di dunia   khususnya Indonesia, agar tidak bertindak bodoh saat menyatakan cintanya terhadap sepak bola.

Hanya saja, pernyataan tersebut justru selalu datang bersama ironi: Setiap kali quotes tersebut ramai disuarakan, berarti ada satu nyawa lagi yang hilang karena sepak bola. Dan hari ini, tepatnya sejak malam tadi, ungkapan tersebut kembali ramai bertebaran, menyusul insiden kelam yang terjadi di Stadion Kanjuruhan, Malang, Sabtu (1/10) kemarin.

Per detikcom, Kapolda Jawa Timur melaporkan, setidaknya terdapat 127 korban meninggal dunia akibat kerusuhan besar pasca pertandingan Arema Malang melawan Persebaya Surabaya. Sementara, sumber lain di Twitter menyebutkan, total 153 orang telah dinyatakan meninggal dunia. (diakses Minggu (2/10) pukul 06.00 WIB)

Kerusuhan Sepakbola 1 oktoberFoto: Detik

Merujuk berbagai sumber yang beredar, pertandingan derby Jawa Timur-antara Arema dan Persebaya   sebenarnya terbilang kondusif, meski beberapa kali terdapat ketegangan. Sialnya, keadaan baru mulai memanas, ketika peluit akhir dibunyikan. Kekacauan pun bermula saat beberapa penonton dari area timur tribun mulai memasuki lapangan untuk menyambangi staff, pelatih, dan pemain Arema, yang sedang menyampaikan gestur permintaan maaf.

Tak lama berselang, aksi tersebut lantas ditiru penonton lainnya, diikuti dengan aksi pelemparan ke arah lapangan. Keadaan pun menjadi di luar kontrol. Terutama, setelah para pemain dan staf Arema dikawal aparat menuju ruang ganti, yang mana kian memanaskan keadaan, terlihat dari aksi saling serang antara aparat dengan para penonton.

Pada beberapa unggahan di media sosial, terlihat sejumlah aksi agresif penonton yang berbalas tindakan represif dari petugas keamanan. Chaos pun terjadi di seluruh penjuru stadion. Keadaan ini diperparah dengan tembakan gas air mata aparat yang mengepung tribun, dan berlanjut pecah hingga ke luar lapangan.

Patah hati terbesar di era sepak bola modern
Di Indonesia, meski belum pernah lebih parah dari kali ini, insiden yang menyebabkan meninggalnya penonton telah terjadi secara berulang-ulang. Tercatat sejak tahun 1995, ada 76 orang suporter yang tewas. Artinya, dalam kurun 27 tahun ke belakang, lebih dari 200 orang meninggal dunia karena sepak bola di Tanah Air. Suatu pencapaian yang berbanding terbalik, dengan prestasi sepak bola kita sendiri.

Pada skala yang lebih luas, tragedi di Kanjuruhan (1/10) kemarin bahkan masuk ke salah satu yang paling buruk di dunia. Kasus ini sendiri menempati peringkat kedua dengan korban meninggal terbanyak, tepat di bawah insiden Lima, Peru tahun 1964 silam, yang memakan 300 korban jiwa. Dengan kata lain, kasus ini merupakan tragedi terbesar di era sepak bola modern.

Sungguh nahas. Sepak bola yang sejatinya tumbuh bersama rasa cinta, pada titik terburuk, justru berubah menjadi masalah besar yang mencabut banyak nyawa pencintanya. Suatu hal yang tidak akan pernah sebanding dengan apapun, apalagi dengan sebuah permainan 2x45 menit yang dimainkan oleh 22 orang. Kalau sudah begini jadinya, lantas siapa yang mau disalahkan, kalau permainan yang kita cintai ini malah merawat dan menimbulkan kebencian?

Siapa yang harus bertanggung jawab?
Tragedi di Kanjuruhan adalah PR besar bagi sepak bola Indonesia secara menyeluruh. Sebab faktanya, kejadian ini melibatkan banyak pihak dan tidak semestinya mencuatkan kambing hitam di satu pihak. Akan tetapi, jika harus menatap pihak mana yang paling wajib bertanggung jawab atas kejadian yang mengerikan ini, lirikan paling tajam jelas wajib mengarah kepada PSSI, selaku badan tertinggi sepak bola di Indonesia, lengkap beserta operator Liga 1 berjalan.

Sebagai federasi, tentu peran PSSI dalam kasus ini teramat vital. Apalagi bisa dibilang, PSSI sendiri tidak pernah mengambil langkah dan perbaikan yang nyata pada setiap kasus serupa bertahun ke belakang. Jadi, alih-alih mengeluarkan pernyataan duka cita seperti sekarang, PSSI wajib bertanggung jawab penuh atas kasus ini, dan bukan sekadar sanksi si ini dan si itu secara arogan.

Kerusuhan Sepakbola 1 oktoberFoto: Detik

Hal yang sama juga berlaku bagi operator Liga 1 beserta panitia pelaksana pertandingan. Mengapa? Sudah jelas, hal ini harusnya bisa terhindar, apabila regulasi pertandingan sepak bola di Indonesia dipertimbangkan secara matang. Misalnya tidak menuruti waktu pertandingan di waktu malam, yang cenderung memanjakan broadcaster dan lebih berpotensi membahayakan penonton yang datang.

Tak lupa, sikap aparat keamanan di Kanjuruhan juga patut menjadi sorotan. Karena secara jelas, represi terhadap penonton bukanlah sikap yang bisa diindahkan. Selain itu, dalam aturan FIFA, penggunaan gas air mata di stadion juga terbukti dilarang. Jadi, dalih sesuai prosedur yang diucapkan pihak kepolisian, bisa dinyatakan tidak sesuai prosedur. Dalam hal ini, panpel adalah pihak yang turut lalai dalam tugas pengawasannya.

Kerusuhan Sepakbola 1 oktoberFoto: Detik

***

Kejadian ini adalah borok besar sepak bola di Indonesia. Alhasil, kita sebagai sebuah negara yang gila bola, wajib bertanggung jawab atas semua ini, dan berani menanggung konsekuensi berat yang bisa menerpa dunia persepakbolaan Tanah Air akibat ulah penggiat dan para pencintanya, termasuk para suporter yang acap kali melewati aturan.

Sebab bukan tidak mungkin, mimpi Timnas kesayangan kita di bawah asuhan Shin Tae-Yong yang sedang merangkak menuju perbaikan, bisa kandas begitu saja karena ketidakcakapan penyelenggaraan kompetisi domestik . Bukan tidak mungkin pula, hajat-hajat besar sepak bola di Indonesia yang akan datang seperti, Piala Dunia U-20 tahun depan akan dibatalkan.

[Gambas:Instagram]

Mau tidak mau, semua itu adalah harga yang harus kita bayar, demi sepak bola yang tidak mencabut nyawa. Sebab, sekalipun sepak bola itu maha besar dan disebut bernilai antara hidup & mati   serta kerap dijadikan senjata politik yang manjur, sepak bola itu sendiri tidak pernah sebanding dengan kehidupan seorang manusia. Apalagi, ratusan nyawa manusia, yang terenggut hanya karena bola.

Jadi, melalui kasus ini, selain ungkapan belasungkawa kepada korban yang meninggal dunia di Kanjuruhan, masyarakat pencinta sepak bola di Tanah Air sudah sepatutnya menyuarakan satu hal yang sama: EVALUASI BESAR-BESARAN! Lalu, satu lagi hal penting yang dituntut agar kebodohan semacam ini tidak kembali berulang: USUT TUNTAS! Atau, jika memang semua itu terlalu sulit untuk dilakukan, maka boleh lah jika kita menuntut untuk: SEPAK BOLA INI DIBUBARKAN SAJA!

[Gambas:Audio CXO]

(RIA/IND)

NEW RELEASE
CXO SPECIALS