Insight | General Knowledge

Tren Upgrade Smartphone dan Dampaknya Bagi Lingkungan

Rabu, 21 Sep 2022 15:58 WIB
Tren Upgrade Smartphone dan Dampaknya Bagi Lingkungan
Foto: Cleantogreen
Jakarta -

20 tahun yang lalu, telepon seluler masih menjadi barang mewah yang tidak dimiliki semua orang. Fast forward ke hari ini, fungsi telepon seluler telah digantikan oleh smartphone. Telepon pintar yang menawarkan berbagai fitur ini telah menjadi barang esensial yang wajib dimiliki semua orang. Berbagai perusahaan teknologi pun berlomba-lomba menawarkan smartphone terbaru, tercanggih, hingga termodern. Bahkan setiap tahun, selalu ada model terbaru yang diluncurkan.

Sebenarnya, smartphone model terbaru belum tentu menawarkan terobosan atau inovasi yang revolusioner dari segi fungsi. Acap kali yang ditawarkan adalah fitur-fitur yang telah di-upgrade, seperti kamera yang lebih jernih dan baterai yang lebih tahan lama. Namun setiap kali model baru diluncurkan, brand-brand besar dan strategi pemasarannya membuat konsumen merasa 'membutuhkan' upgrade ini. Agar tak merasa ketinggalan alias FOMO, banyak orang akhirnya mengganti smartphone meski yang lama masih berfungsi dengan baik.

Di luar alasan FOMO, konsumen juga beberapa kali 'dipaksa' untuk meng-upgrade gawai mereka agar bisa mendapatkan fitur yang paling optimal. Sebab seringkali kasusnya adalah perbaikan-perbaikan yang dilakukan pada sistem perangkat hanya bisa dinikmati di model-model terbaru. Selain itu, semakin lawas model smartphone, semakin sulit juga untuk mencari perangkat pelengkap yang mendukungnya. Sebab ketika produk tersebut berhenti diproduksi, pabrik juga akan berhenti memproduksi perangkat pendukung seperti baterai dan charger.

Tren upgrade smartphone memiliki sisi gelap yang luput dari perhatian masyarakat, yakni dampaknya bagi lingkungan. Idealnya, teknologi yang sustainable adalah teknologi yang bisa digunakan untuk jangka waktu yang lama. Sedangkan tren ini bisa meningkatkan jejak karbon dan sampah elektronik yang mencemari lingkungan.

.Ilustrasi E-waste/ Foto: Freepik

Dua Masalah: Emisi Karbon dan E-Waste

Ketika tren smartphone bergulir dengan cepat, dan masyarakat berlari-lari untuk mengejarnya, smartphone akhirnya menjadi barang yang cepat dibeli dan cepat dibuang atau disposable. Berdasarkan riset YouGov, 45 persen pengguna smartphone lebih memilih untuk meng-upgrade atau membeli baru ketimbang memperbaiki gawai mereka.

Dua alasan utama yang mendorong mereka untuk membeli smartphone baru adalah biaya perbaikan yang tinggi dan gawai yang mereka miliki sudah terlalu lawas modelnya. Selain itu, riset ini juga menemukan bahwa anak muda menjadi kelompok yang paling sering meng-upgrade smartphone. 40 persen dari kelompok umur 18-24 tahun membeli smartphone baru dalam satu hingga dua tahun sekali.

Sementara itu, satu buah smartphone bisa menghasilkan 60-70 kg emisi karbon selama ia diproduksi dan digunakan. 80 persen dari jumlah emisi karbon tersebut dihasilkan ketika smartphone diproduksi, dan sisanya ketika smartphone digunakan. Sedangkan di seluruh dunia, jumlah produksi dan pembelian smartphone bisa mencapai ratusan juta unit. Sepanjang tahun 2021, Apple berhasil menjual lebih dari 180 juta unit iPhone sedangkan Samsung berhasil menjual lebih dari 70 juta unit Android. Apabila dikalkulasi, setiap tahunnya penjualan smartphone bisa menyumbang jutaan ton emisi karbon.

Selain emisi karbon yang signifikan, smartphone yang tidak terpakai bisa meningkatkan masalah sampah elektronik atau e-waste. Electronic waste atau e-waste adalah semua produk tidak terpakai yang menggunakan baterai dan mengandung bahan berbahaya bagi lingkungan. Menurut Laporan PBB, setiap tahunnya ada lebih dari 50 juta ton e-waste yang berakhir di tempat pembuangan. Sayangnya, hanya 20 persen saja yang akhirnya didaur ulang.

Lalu, bagaimana solusi atas permasalahan ini? Kuncinya ada di tangan konsumen dan produsen.

.Ilustrasi smartphone baru/ Foto: Getty Images

Upgrade seperlunya saja

Hal paling sederhana namun paling krusial adalah mengubah kebiasaan membeli smartphone baru. Selama smartphone-mu masih berfungsi dengan baik, urungkan niat untuk membeli yang baru. Jangan mudah tergiur untuk membeli hanya karena tampilannya lebih bagus atau modelnya lebih trendi. Selain itu tak perlu juga merasa FOMO ketika orang lain membeli smartphone model terbaru. Namun apabila gawaimu sudah tidak terselamatkan dan kamu harus menggantinya, pilihlah produk yang tahan lama dan kompatibel untuk berbagai update.

Perbaiki dulu sebelum membeli yang baru

Berbagai perusahaan smartphone menetapkan biaya yang tinggi untuk reparasi, oleh karenanya banyak yang enggan untuk memperbaiki dan langsung memutuskan untuk membeli gawai baru. Padahal, reparasi adalah solusi penting agar smartphone tak langsung dibuang. Apabila produsen menyadari pentingnya sustainability, seharusnya mereka mempermudah konsumen untuk memperbaiki gawai mereka dengan harga yang terjangkau. Namun selagi harga reparasi masih tinggi, cobalah mencari pihak ketiga di luar brand resmi yang menawarkan jasa reparasi dengan harga terjangkau.

Beralih ke smartphone modular

Solusi lainnya adalah bagi produsen atau konsumen untuk beralih ke gawai yang bersifat modular. Modular di sini artinya gawai tersebut memiliki komponen yang bisa dibongkar-pasang. Sehingga ketika ada komponen yang rusak atau perlu di-upgrade, pengguna tidak usah membeli gawai baru dan hanya perlu mengganti komponennya. Beberapa brand seperti Motorola dan Google sudah menyediakan modular phone, namun sayangnya kurang laku di pasaran. Selain itu, ada juga Fairphone yang menawarkan sustainable smartphone. Selain menawarkan smartphone modular, Fairphone juga menampung smartphone bekas untuk didaur ulang.

Sedari awal, memperbarui smartphone tidak seharusnya menjadi tren. Sebagai konsumen, kita harus berhenti memandang smartphone sebagai aksesori dan mengembalikan esensi smartphone kepada fungsi awalnya yaitu sebagai gawai komunikasi. Apabila mindset ini tidak segera diubah, bumi yang akan menanggung konsekuensinya.

[Gambas:Audio CXO]

(ANL/DIR)