Insight | General Knowledge

Shopping Street dan Shopping Mall, Mana yang Lebih Baik?

Senin, 19 Sep 2022 12:09 WIB
Shopping Street dan Shopping Mall, Mana yang Lebih Baik?
Jakarta -

Baru-baru ini warganet dihebohkan dengan hadirnya gerai Uniqlo yang berada di pinggir jalan, di Kota Bandung. Kehebohan ini muncul lantaran selama ini warga Indonesia hanya bisa menemukan gerai brand asal Jepang tersebut di dalam mall. Padahal kalau ditelusuri, gerai pertama Uniqlo di Jepang juga berwujud toko di pinggir jalan kota Hiroshima. Memang, shopping district atau shopping street adalah konsep yang asing bagi warga Indonesia    terutama warga kelas menengah ke atas.

Sebenarnya kalau melihat konteks Bandung, hadirnya Uniqlo di pinggir jalan tidak begitu mengejutkan. Kota yang dikenal sebagai pusatnya brand lokal ini dipenuhi dengan distro-distro (distribution store) pinggir jalan, yang menjamur sejak tahun 2000an. Bagi anak muda Bandung, berbelanja di pinggir jalan pun mungkin telah menjadi hal yang lumrah. Tapi dalam konteks perkotaan di Indonesia secara keseluruhan, gerai di pinggir jalan   apalagi dari brand internasional    masih menjadi anomali.

Berbelanja di mall memang memiliki kelebihannya tersendiri. Pertama, pengunjung bisa berbelanja dengan nyaman di dalam gedung ber-AC sehingga pastinya akan terlindungi dari cuaca Jakarta yang terik dan lembab. Kedua, pengunjung bisa mengunjungi beberapa toko sekaligus tanpa harus berpindah-pindah lokasi. Ketiga, ada banyak kegiatan lain yang bisa dilakukan sambil berbelanja-mulai dari nonton di bioskop hingga menyantap makanan di food court.

Tanpa disadari, semua leisure activities warga kelas menengah atas perkotaan terpusat di dalam mall. Maka tak heran, warga heboh ketika melihat ada brand premium sekelas Uniqlo membuka tokonya di pinggir jalan. Tapi, bagaimana sebenarnya perbandingan antara shopping street dan shopping mall?

.Shopping Street/ Foto: Pexels

Mal Lebih Efisien, Tapi Membuat Tata Kota Lebih Eksklusif

Shopping street adalah konsep yang asing bagi banyak warga kelas menengah Indonesia yang lebih terbiasa pergi ke mall. Di sini, brand-brand premium dan high-end tak pernah membuka tokonya di pinggir jalan. Hal ini mungkin berbeda dengan kota metropolitan mancanegara seperti Singapura, Tokyo, dan New York di mana gerai brand high fashion sekalipun bisa dikunjungi di pinggir jalan.

Tapi, bukan berarti di Indonesia tak ada shopping street. Beberapa daerah seperti Braga di Bandung atau Pasar Baru di Jakarta pernah menjadi pusat perbelanjaan elit bagi warga Eropa di masa kolonial. Namun sejak pembangunan mal digencarkan, pamor shopping street pun semakin menurun. Jalan Braga sekarang didominasi oleh coffee shop dan rumah makan, sedangkan Pasar Baru kini dikenal sebagai kawasan perbelanjaan yang menawarkan produk berharga miring    sehingga lebih identik dengan konsumen kelas menengah ke bawah.

Sekarang, mal bisa ditemukan di hampir setiap sudut kota dan pinggiran kota. Bahkan, Jakarta menjadi kota dengan mal terbanyak di dunia. Berdasarkan data dari jakarta.go.id, jumlah mal di Jakarta tahun 2017 mencapai 84. Jumlah ini belum ditambahkan dengan mal-mal yang dibangun 5 tahun terakhir. Kemudian rencananya, tujuh mal baru akan dibuka dalam kurun 2022 - 2024.

.Ilustrasi shopping mall/ Foto: Pexels

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Christoph Teller dari University of Stirling di Skotlandia, tren pergeseran dari shopping streets ke shopping malls dipengaruhi oleh perbedaan daya tarik antara keduanya. Faktor-faktor yang mempengaruhi di antaranya adalah aksesibilitas, ketersediaan lahan parkir, infrastruktur penunjang (toilet, tempat makan, dan lain-lain), atmosfer, dan keberagaman tenant. Semakin beragam tenant-nya, semakin menarik pusat perbelanjaannya. Dari segi kenyamanan pengunjung dan bisnis, mal sebenarnya menawarkan efisiensi yang tak dimiliki oleh shopping street. Semua kebutuhan bisa didapatkan di satu tempat, dan adanya infrastruktur penunjang seperti toilet dan lahan parkir membuat aktivitas berbelanja menjadi lebih nyaman.

Masalahnya, pembangunan mal yang tak terkontrol juga memiliki sisi gelap    ia mengubah wajah kota yang seharusnya inklusif menjadi lebih eksklusif. Menurut Sergio Grassi, Direktur Yayasan Friedrich-Ebert-Stiftung, pembangunan mal yang masif di Jakarta telah meminggirkan masyarakat kelas bawah. Ruang publik pun semakin terkikis karena lahannya habis dibangun untuk mal-mal mewah. "Jakarta berubah menjadi kota yang lebih memprioritaskan kelompok kelas atas dengan kendaraan pribadi mereka, dibanding menjadi kota yang inklusif, walkable, dan people-oriented," ucapnya.

Pada akhirnya, shopping street versus shopping mall adalah isu yang kompleks karena tidak hanya menyangkut kenyamanan pengunjung dan profit bisnis, tapi juga menyangkut tata kota yang berimbas pada kehidupan warganya. Melihat infrastruktur perkotaan di Indonesia yang belum memprioritaskan pejalan kaki, rasanya akan sulit untuk mengembalikan shopping street ke masa kejayaannya. Di sisi lain, fenomena ini menunjukkan bahwa pembangunan mal yang masif juga harus dipikirkan ulang.

[Gambas:Audio CXO]

(ANL/DIR)