Insight | General Knowledge

Ratusan Mahasiswa dan Ibu Rumah Tangga di Kota Bandung Terjangkit HIV

Kamis, 25 Aug 2022 19:00 WIB
Ratusan Mahasiswa dan Ibu Rumah Tangga di Kota Bandung Terjangkit HIV
Jakarta -

Tingginya jumlah kasus HIV/AIDS di Kota Bandung menjadi perhatian pemerintah daerah dan masyarakat. Berdasarkan data dari Komisi Penanggulangan AIDS Kota Bandung, per Desember 2021 tercatat ada 12.358 pengidap HIV/AIDS yang melakukan pelayanan kesehatan di Kota Bandung. Dari jumlah tersebut, sebanyak 5.943 di antaranya ber-KTP Kota Bandung.

Melansir dari Detikcom, Ketua Sekretariat KPA Kota Bandung Sis Silvia Dewi mengatakan bahwa penularan HIV/AIDS yang saat ini terjadi didominasi oleh warga dengan usia produktif 20    29 tahun. Selain itu, dari data ini diperoleh juga fakta bahwa penyebaran HIV/AIDS cukup tinggi di kalangan mahasiswa dan Ibu Rumah Tangga. Berdasarkan data tersebut, sebanyak 664 kasus (11.18 persen) merupakan Ibu Rumah tangga dan sebanyak 414 kasus (6.97 persen) merupakan mahasiswa.

Terkait tingginya penularan di kalangan Ibu Rumah Tangga, Sis Silvia Dewi mengatakan bahwa hal ini kemungkinan besar diakibatkan oleh para suami yang melakukan hubungan seksual tanpa menggunakan pengaman bersama dengan orang lain selain istri mereka. Lalu terkait tingginya penularan di kalangan mahasiswa, Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (PPKB) Kota Bandung berencana untuk melakukan sosialisasi di kalangan usia remaja-dewasa.

.Ilustrasi pengidap HIV/Aids/ Foto: Veectenzy

Fenomena ini kembali mengingatkan kita mengenai pentingnya edukasi seksual, termasuk dengan meningkatkan literasi mengenai penularan HIV/AIDS. Gejala HIV/AIDS bisa dibagi menjadi tiga tahap yaitu Infeksi HIV akut, infeksi HIV Kronis, dan AIDS. Berikut adalah gejala untuk masing-masing tahapannya:

Tahap 1: Infeksi HIV Akut
Tahap pertama infeksi HIV akut terjadi pada beberapa bulan pertama setelah seseorang terinfeksi HIV. Pada tahap ini, sistem kekebalan tubuh orang yang terinfeksi membentuk antibodi untuk melawan virus HIV. Beberapa gejalanya adalah demam hingga menggigil, muncul ruam di kulit, muntah, nyeri pada sendi dan otot, pembengkakan kelenjar getah bening, hingga sakit kepala.

Tahap 2: Infeksi HIV Kronis (Masa Laten)
Setelah beberapa bulan, infeksi HIV akan memasuki tahap laten. Pada tahap ini, virus HIV tetap aktif merusak daya tahan tubuh, tetapi berkembang biak dalam jumlah yang lebih sedikit. Infeksi pada tahapan ini berlangsung sampai beberapa tahun. Beberapa gejala yang muncul di tahap ini adalah berat badan menurun, berkeringat di malam hari, diare, mual dan muntah, hingga munculnya herpes zoster.

Tahap 3: AIDS
Apabila infeksi tahap laten terlambat ditangani, infeksi HIV akan memasuki tahap ketiga yaitu AIDS. Pada tahap ini, sistem kekebalan tubuh akan mengalami kerusakan sehingga penderita akan lebih mudah terserang infeksi penyakit lain. Beberapa gejalanya adalah muncul bercak putih di lidah, mulut, kelamin, dan anus; diare kronis; infeksi jamur di mulut, tenggorokan, atau vagina; gangguan saraf; dan muncul ruam atau bintik di kulit.

.Ilustrasi tes HIV/ Foto: Veectenzy

Lalu, kapan seharusnya kita melakukan Tes HIV? Tes HIV bisa dilakukan ketika:

  • Melakukan hubungan seksual dengan berganti-ganti pasangan tanpa menggunakan kondom.
  • Ingin melangsungkan pernikahan sebagai upaya pencegahan.
  • Ingin memulai program kehamilan sebagai upaya pencegahan.
  • Menggunakan jarum suntik secara bersamaan.

Sudah ada banyak rumah sakit dan klinik di Indonesia yang menawarkan tes HIV, baik rumah sakit umum yang dikelola pemerintah maupun swasta. Beberapa di antaranya adalah Pelayanan Terpadu HIV di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Rumah Sakit St. Carolus, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD), Laboratorium Prodia dan Pramita, dan Klinik Globalindo. Untuk biayanya sendiri dimulai dari Rp 150.000 hingga Rp 1.500.000.

Selain itu, tes HIV juga tersedia di Puskesmas dan tidak dikenakan biaya bagi peserta BPJS Kesehatan. Sementara bagi yang tidak memiliki kartu BPJS Kesehatan akan dikenakan biaya administrasi sebesar Rp5.000 - Rp10.000.

Literasi terkait penularan HIV/AIDS akan membuat kita memahami dan menyadari informasi mengenai penyakit menular ini. Selain itu, literasi juga bisa mengurangi stigma dan diskriminasi terhadap orang yang terjangkit HIV/AIDS. Sudah saatnya stigma terhadap HIV/AIDS dihilangkan agar edukasi mengenai penyakit ini juga semakin bisa disebarluaskan.

[Gambas:Audio CXO]

(IND)