Insight | General Knowledge

Ekofasisme dan Bahayanya Bagi Kampanye Iklim

Jumat, 05 Aug 2022 16:00 WIB
Ekofasisme dan Bahayanya Bagi Kampanye Iklim
Foto: Chris LeBoutillier/Unsplash
Jakarta -

Ketika pandemi memaksa orang-orang untuk menghentikan seluruh kegiatan produksi, polusi udara dunia berkurang drastis. Menanggapi situasi ini, banyak orang teringat dengan sosok Thanos dari Marvel Cinematic Universe. Thanos adalah penjahat super yang menghapus separuh populasi semesta. Dulu saya merasa Thanos adalah karakter yang amat keren, karena meski yang dilakukannya jahat tapi ia memiliki tujuan yang sebenarnya cukup mulia. Thanos sadar bahwa semesta memiliki sumber daya yang terbatas, dan menurutnya cara terbaik untuk mengembalikan keseimbangan adalah dengan mengurangi populasi.

Sekilas, apa yang dilakukan Thanos terlihat masuk akal. Logikanya, dengan berkurangnya populasi maka bumi bisa memasuki fase healing. Saya dulu sempat memiliki pikiran yang serupa dengan Thanos—saya percaya bahwa satu-satunya solusi untuk mengatasi krisis lingkungan adalah dengan mengeliminasi populasi manusia yang menjadi sumber masalah. Tapi belakangan baru saya menyadari, bahwa pikiran seperti ini justru berbahaya dan tidak bisa menjadi solusi atas krisis iklim.

Ekofasisme dan Lifeboat Ethics

Cara pandang di atas merupakan sebuah ideologi yang disebut sebagai ekofasisme. Sejarawan lingkungan, Michael E. Zimmerman, mendefinisikan ekofasisme sebagai sistem pemerintahan totaliter yang mewajibkan warganya untuk berkorban bagi kesejahteraan lingkungan. Orang-orang yang menganut paham ekofasisme percaya bahwa kerusakan lingkungan disebabkan oleh overpopulasi, perpindahan penduduk, dan industrialisasi dalam skala besar.

Paham ekofasisme menjadi kian populer setelah ahli ekologi bernama Garret Hardin mempublikasikan esainya yang berjudul The Tragedy of the Commons pada tahun 1968. Ia mempromosikan apa yang disebut sebagai lifeboat ethics—ketika bumi dibayangkan sebagai perahu, orang-orang di atas perahu harus menjaga agar tidak terjadi kelebihan kapasitas dan semua penumpangnya bisa selamat. Hardin menuliskan:

"Metaphorically each rich nation can be seen as a lifeboat full of comparatively rich people. In the ocean outside each lifeboat swim the poor of the world, who would like to get in, or at least to share some of the wealth. What should the lifeboat passengers do?

First, we must recognize the limited capacity of any lifeboat. For example, a nation's land has a limited capacity to support a population and as the current energy crisis has shown us, in some ways we have already exceeded the carrying capacity of our land."

Paham ekofasisme tidak bisa menjadi solusi atas krisis iklim, karena ia problematis dari segala sisi. Paham ini mempromosikan pandangan bahwa krisis lingkungan disebabkan oleh ras manusia dan perkembangan hidup modern. Padahal, tak semua orang turut bersalah atas kerusakan lingkungan. Penelitian dari Oxfam menyebut kalangan 1 persen orang terkaya dunia sebagai penyumbang emisi karbon terbanyak.

Sementara itu, ekofasisme mempromosikan pandangan bahwa masyarakat dari negara dunia ketiga layak dikorbankan demi mengurangi populasi bumi. Padahal, mereka merupakan kelompok paling terdampak dari krisis yang terjadi. Orang-orang yang paling tidak bersalah atas kerusakan lingkungan justru harus menanggung risiko yang paling besar.

Kekerasan Atas Nama Lingkungan

Unsur rasisme dalam paham ekofasisme pun akhirnya menjadi pembenaran bagi beberapa fanatik sayap kanan yang mengatasnamakan lingkungan untuk meneror kelompok minoritas. Setidaknya ada dua peristiwa pembunuhan massal yang dipengaruhi oleh cara pandang ekofasisme. Peristiwa pertama adalah penembakan di dua masjid di Christchurch, Selandia Baru, pada tahun 2019 silam yang menewaskan 51 orang. Pelaku penembakan tersebut mendeklarasikan dirinya sebagai eco-fascist dan mengatakan bahwa menyebut imigrasi sebagai 'environmental warfare'.

Di tahun yang sama, penembakan massal juga terjadi di El Paso, Texas, yang menewaskan 22 orang warga keturunan hispanic. Sebelum melakukan penembakan, pelaku mengunggah manifesto di situs 8chan yang mengandung pesan anti-imigran dan percaya bahwa kerusakan lingkungan disebabkan oleh overpopulasi.

Meski kedua pelaku tersebut menunjukkan kepedulian terhadap isu lingkungan, tapi kepedulian tersebut bercampur dengan fanatisme dan rasisme. Walhasil, mereka percaya populasi bumi harus dikurangi dengan apa pun caranya—dimulai dari kelompok minoritas. Menurut Michelle Chan, wakil presiden Friends of the Earth, ekofasisme lebih menyerupai ekspresi supremasi kulit putih ketimbang ekspresi environmentalism.

Ketika kita berbicara mengenai krisis lingkungan, kita juga harus berbicara mengenai climate justice. Solusi totalitarian seperti ekofasisme tidak akan menyelesaikan apa-apa, dan justru akan semakin memperparah ketidakadilan dalam upaya-upaya mitigasi krisis lingkungan.

[Gambas:Audio CXO]



(ANL/HAL)