Insight | General Knowledge

Indonesia Peringkat Pertama Negara Malas Jalan Kaki, Mungkin Ini Penyebabnya

Selasa, 19 Jul 2022 16:00 WIB
Indonesia Peringkat Pertama Negara Malas Jalan Kaki, Mungkin Ini Penyebabnya
Jakarta -

Belum lama ini, sebuah studi yang dilakukan Stanford University meneliti 46 negara dan menempatkan Indonesia sebagai posisi pertama sebagai negara yang paling malas jalan kaki. Berdasarkan penelitian ini, rata-rata masyarakat Indonesia hanya berjalan kaki sebanyak 3.515 langkah per hari, dan angka ini jauh lebih sedikit apabila dibandingkan oleh catatan global yang berada pada angka rata-rata 5.000 langkah per harinya. Di dalam penelitian ini pula, Hong Kong dinobatkan sebagai negara dengan penduduk yang paling banyak berjalan kaki dengan rata-rata 6.880 langkah per hari.

Penelitian ini dilakukan terhadap 717.627 orang dalam waktu 95 hari dengan menggunakan pelacakan pergerakan smartphone. "Sebagai perbandingan, Hong Kong adalah negara yang paling aktif, dengan warganya berjalan kaki rata-rata 6.880 langkah per hari, dibandingkan dengan rata-rata 3.513 di Indonesia," ujar Scott Delp selaku profesor bioteknologi yang merupakan salah satu peneliti dalam studi ini. Lalu, mengapa Indonesia bisa menjadi negara yang masyarakatnya sangat malas untuk berjalan kaki, ya?

.Ilustrasi pejalan kaki/ Foto: Freepik

Sebagai masyarakat Indonesia, kita pasti menyadari bahwa infrastruktur di negara ini tidak begitu mendukung masyarakatnya untuk berjalan kaki dengan nyaman. Meskipun memang beberapa spot di jalan protokol utama seperti Jalan Sudirman dan Jalan MH Thamrin, terdapat trotoar yang lebar dan nyaman. Namun sayangnya, fasilitas seperti ini cukup terbatas, terlebih lagi untuk di daerah luar jantung Ibu Kota Jakarta. Jika kita bergeser sedikit saja ke daerah yang bukan menjadi jalan utama, trotoar untuk berjalan kaki tidak 'semewah' atau sememadai jalan-jalan besar.

Bahkan, untuk menyebrang jalanan saja terkadang kita harus mendapati situasi diklakson motor atau mobil yang sedang lalu lalang karena sangat sedikit sekali fasilitas untuk menyebrang. Tidak hanya itu, kita juga pasti mendapati trotoar yang seharusnya menjadi fasilitas para pejalan kaki malah dipenuhi oleh pedagang kaki lima yang memenuhi lahan trotoar, sehingga mau tidak mau kita bergeser sedikit ke tengah yang mengganggu para pengendara. Selain infrastruktur yang tidak mendukung, alasan mengapa masyarakat Indonesia malas jalan kaki juga dipengaruhi oleh sarana transportasi umum yang tidak memadai.

.Ilustrasi orang Indonesia jalan kaki/ Foto: Pexels

Di luar negeri, khususnya negara-negara maju, sarana transportasi umum sudah sangat memadai dan terintegrasi dengan baik. Sehingga para pejalan kaki tidak perlu lagi kesulitan untuk mencari transportasi umum atau berjalan menuju lokasi yang dituju setelah menaiki transportasi umum. Di Indonesia sarana transportasi memang sudah disediakan di beberapa kota, seperti Transjakarta dan Commuter Line yang dapat mengangkut banyak penumpang. Namun realitanya, transportasi umum ini merupakan sebuah privilese yang tidak didapatkan oleh semua daerah. Sehingga, masyarakat kian malas untuk menggunakan transportasi umum ini dan lebih memilih untuk menggunakan kendaraan pribadi atau transportasi online.

Alasan yang satu ini mungkin menjadi alasan yang paling sering digunakan oleh masyarakat. Ya, cuaca panas. Indonesia yang merupakan negara tropis memiliki iklim yang cenderung sangat panas pada siang hari. Rata-rata temperatur di Jakarta adalah 31-33 derajat Celcius setiap harinya. Berjalan kaki tidak lebih dari 10 menit saja, kita pasti sudah mandi keringat. Selain itu, berjalan kaki bagi perempuan juga merupakan hal yang sangat dihindari, terlebih lagi pada malam hari.

.Ilustrasi jalan kaki/ Foto: Pexels

Sudah menjadi hal umum sepertinya apabila aksi catcalling adalah hal yang sangat sering dialami oleh perempuan ketika berjalan kaki. Catcalling itu sendiri adalah bentuk pelecehan seksual di ruang publik, dan di dalam kasus ini adalah di jalanan. Siulan, godaan hingga tawaran tumpangan bukan lagi menjadi hal yang jarang dialami oleh perempuan. Hal ini pun mendorong masyarakat terutama para perempuan untuk menghindari berjalan kaki di ruang publik dan merasa lebih aman ketika menggunakan kendaraan pribadi.

Peringkat Indonesia yang menjadi negara paling malas untuk berjalan kaki seharusnya menjadi sebuah teguran halus untuk pemerintah agar dapat memperbaiki beberapa aspek yang dapat diperbaiki. Seperti infrastruktur yang lebih baik dan meluas, menjamin keamanan dan kenyamanan pejalan kaki, serta penyediaan transportasi umum yang lebih memadai dan terintegrasi.

[Gambas:Audio CXO]

(DIP/HAL)