Insight | General Knowledge

Ada Apa dengan Sri Lanka?

Selasa, 12 Jul 2022 17:00 WIB
Ada Apa dengan Sri Lanka?
Jakarta -

Presiden Sri Lanka, Gotabaya Rajapaksa, menyatakan akan mundur dari jabatannya pada 13 Juli 2022. Selain presiden, Perdana Menteri Ranil Wickremesinghe juga telah menyatakan akan mengundurkan diri dari jabatannya. Mundurnya Presiden dan Perdana Menteri Sri Lanka merupakan buntut dari demonstrasi besar-besaran yang terjadi di Sri Lanka pada hari Sabtu (9/7).

Ratusan warga turun ke jalan di ibu kota Kolombo demi menuntut pengunduran diri Presiden Rajapaksa. Dalam foto-foto yang viral, massa terlihat menyerbu dan menduduki istana kepresidenan. Mereka bersorak gembira dan terlihat bersantai di seluruh sudut istana. Tak hanya itu, di hari yang sama, massa juga membakar rumah Perdana Menteri Ranil.

.Pemerintahan Sri Lanka/ Foto: Getty Images

Demonstrasi yang terjadi pada hari Sabtu merupakan puncak dari aksi protes yang telah terjadi selama berbulan-bulan di Sri Lanka. Pasalnya, negara Asia Selatan tersebut dilanda kebangkrutan karena memiliki utang luar negeri yang jumlahnya sangat besar, yaitu US$51 miliar atau setara dengan Rp732 triliun.

Situasi ini membuat Sri Lanka menghadapi krisis ekonomi terburuk selama 70 tahun terakhir. Akibat utang tersebut, Sri Lanka kehabisan devisa dan mengalami inflasi besar-besaran. Selama berbulan-bulan, warga Sri Lanka hidup dalam kekacauan. Warga harus menghadapi pemadaman listrik berkepanjangan dan tak mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti pangan, obat-obatan, dan bahan bakar.

.Krisis di Sri Lanka/ Foto: REUTERS/DINUKA LIYANAWATTE

Krisis ekonomi bukanlah satu-satunya alasan yang membuat warga marah hingga menggeruduk istana kepresidenan. Faktor penting lain yang mempengaruhi situasi Sri Lanka hari ini adalah kemarahan dan ketidakpuasan warga terhadap dinasti politik Rajapaksa yang telah menguasai negara tersebut selama bertahun-tahun. Siapa sebenarnya dinasti Rajapaksa dan bagaimana sepak terjang mereka?

.Gotabaya Rajapaksa/ Foto: Getty Images/Pool

Selama bertahun-tahun, keluarga Rajapaksa menguasai Sri Lanka. Kekuasaan dinasti ini dimulai ketika Mahinda Rajapaksa memenangkan pemilihan presiden pada tahun 2005. Ia pun menunjuk adiknya, Gotabaya (yang sekarang menjabat menjadi presiden), untuk menjadi menteri pertahanan. Pada tahun 2009, kedua kakak beradik ini menumpas pemberontakan Tamil dan mengakhiri perang saudara. Karena peristiwa tersebut, masyarakat pun menganggap mereka sebagai pahlawan.

Mahinda Rajapaksa menjadi presiden Sri Lanka selama dua periode. Namun selama 10 tahun ia menjabat, Mahinda berhasil memposisikan anggota keluarganya ke dalam lingkaran kekuasaan. Selain Gotabaya, dua saudara Mahinda yang lain yaitu Basil Rajapaksa dan Chamal Rajapaksa juga diangkat menjadi menteri. Tak hanya itu, dua anak Mahinda yaitu Yositha dan Namal juga berhasil menduduki jabatan penting di pemerintahan. Dengan demikian, keluarga Rajapaksa berhasil memonopoli politik Sri Lanka.


Pada tahun 2015 ketika masa jabatannya berakhir, posisi Mahinda dalam politik melemah. Namun, dinasti ini berhasil menguasai Sri Lanka kembali ketika Gotabaya memenangkan pemilu pada tahun 2019. Ketika Gotabaya menjadi presiden, Mahinda kembali meraih kursi kekuasaan dengan menjadi Perdana Menteri. Sampai akhirnya di bulan Mei kemarin ia mengundurkan diri pasca demo anti-pemerintah dan posisinya digantikan oleh Ranil Wickremesinghe.

Sudah bukan rahasia lagi kalau pemerintahan Rajapaksa dipenuhi dengan dugaan kuat akan korupsi dan nepotisme. Banyak warga yang percaya kalau keluarga ini menjarah kekayaan negara untuk keuntungan finansial mereka sendiri. Hal ini jugalah yang membuat massa menggeruduk istana kepresidenan.

Mundurnya Gotabaya Rajapaksa dari kursi kepresidenan merupakan kemenangan bagi warga Sri Lanka. Tapi Sri Lanka masih memiliki banyak tantangan untuk bangkit dari situasi ekonomi yang kacau.

[Gambas:Audio CXO]



(ANL/MEL)