Insight | General Knowledge

Lebaran: Momen Perayaan yang (Harusnya) Ramah Lingkungan

Jumat, 13 May 2022 18:00 WIB
Lebaran: Momen Perayaan yang (Harusnya) Ramah Lingkungan
Foto: Pexels Richard Dacker
Jakarta -

Momen Lebaran tahun ini memang terasa berbeda daripada dua tahun ke belakang. Kali ini, kita tidak lagi menggelorakan keagungan-Nya dalam sepi, melainkan kembali meriah seperti sedia kala. Misalnya dengan kembali diadakannya salat Idul Fitri secara berjamaah; prosesi mudik ke kampung halaman yang kembali diperbolehkan; hingga rangkaian silaturahmi yang bisa dilakukan secara offline.

Namun sayangnya, meski Lebaran kembali bisa kita rayakan sebagaimana mestinya, terdapat satu kebiasaan buruk yang justru belum berubah ketika menyambut Lebaran. Yakni tidak kunjung kapoknya merayakan Lebaran dengan cara yang malah merusak lingkungan. Misalnya membakar mercon berlebihan saat malam takbir, menggunakan barang-barang sekali pakai saat silaturahmi, memproduksi makanan dan minuman secara berlebih, hingga menumpuk polusi saat mudik atau liburan.

Padahal sedari dulu, terdapat beberapa fenomena unik ketika Lebaran yang sejatinya bersifat ramah terhadap lingkungan   jika kita sadari bersama. Lebaran mengajarkan kita untuk tetap sederhana meski dalam perayaan kemenangan fitri. Misalnya dengan berbagi sedekah berupa hidangan hari raya. Hal ini juga berguna agar nantinya tidak ada makanan yang mubazir, dan dapat meminimalisir sampah sisa makanan rumah tangga.

Selain itu, Lebaran juga meliputi tradisi belanja hari raya. Dengan adanya pakaian baru, maka koleksi baju lama yang menumpuk dan tidak terpakai bisa dipindahtangankan kepada mereka yang membutuhkan. Jadi, kontinuitas suatu barang bisa terus bersambut sehingga mengurangi borok industri pakaian, yang kerap kali menimbulkan permasalahan lingkungan.

Kemudian, orang tua kita di rumah juga sebenarnya telah mengajarkan kita untuk menjadi lebih ramah lingkungan saat Lebaran. Contohnya dengan kembali mempergunakan wadah makanan bekas sebagai tempat menyimpan makanan. Seperti kaleng biskuit yang malah berisikan rengginang, atau bahkan toples coklat yang malah berisi emping dan kerupuk. Secara tidak langsung, sebenarnya ada harapan untuk perbaikan lingkungan, yang tersirat di dalam perayaan Lebaran.

Pada dasarnya, agama Islam memang mengajak kita untuk menjadi lebih baik ketika Lebaran tiba. Untuk itu, ada kewajiban membayar zakat fitrah sebelum memasuki hari kemenangan, yang nantinya akan diberikan kepada masyarakat yang lebih berhak menerima. Islam juga mengajarkan kita bahwa momen Lebaran atau Idul Fitri, adalah sebuah titik balik kemenangan yang suci. Di mana setiap hamba yang telah beribadah sepenuh hati di bulan Ramadan, akan mendapat ganjaran rahmat, ampunan, dan penyucian dari Allah SWT, sebagaimana seorang bayi yang baru saja dilahirkan.

Oleh karena itu, seharusnya manusia yang kembali disucikan oleh Tuhan, turut melakukan hal-hal yang juga menjaga kesucian lingkungan tempatnya tinggal. Maksudnya adalah merayakan lebaran dengan meriah namun sambil berupaya melestarikan bumi. Tempat kita berpijak, beribadah, dan merayakan kemenangan.

Jika kita sebagai manusia, tidak ingin kemeriahan Lebaran kembali tereduksi akibat permasalahan global, khususnya kerusakan lingkungan, seharusnya kita mulai sadar dan bergerak menjaga kelestarian bumi, yang kian hari justru kian buruk keadaannya. Terlebih jika kita menyadari bahwa dampak kerusakan lingkungan akan membawa petaka yang lebih besar daripada sekadar Pandemi COVID.

Untuk itu, di momen seperti lebaran yang penuh kesucian dan kemenangan, agaknya ide dan perwujudan aksi pelestarian lingkungan patut menjadi misi utama bagi kita semua dan bukan sebaliknya. Seperti halnya terus bersedekah di saat Lebaran, berhenti menggunakan alat makan, amplop, dan parsel yang bersifat sekali pakai, memilih kendaraan mudik yang lebih ramah lingkungan dan lain sebagainya.

Di momen ini kita juga sebenarnya lebih bisa menghemat energi, di mana aktivitas silaturahmi yang bisa dilakukan di luar ruangan, dapat meminimalisir penggunaan listrik berlebih. Semua ini memang perlu kita upayakan bersama, demi terus menjaga kesucian bumi lingkungan, agar terus bisa menjadi tempat kita tinggal dan beribadah dengan nyaman.

Lebaran memang sudah berlalu dan kita masih melaluinya dengan kebiasan yang kurang ramah terhadap lingkungan. Tetapi sebagaimana bayi yang telah disucikan, kita bisa mulai kembali dari nol. Di mana setiap upaya-upaya menjaga kesucian lingkungan, bisa kembali diterapkan sejak hari ini hingga Lebaran dan hari-hari yang akan datang. Mari bersama-sama berefleksi. Mari berkelakuan baik untuk bumi, demi kemenangan sejati bagi kita semua, yang semoga akan benar-benar mendapat rahmat dan anugerah dari Tuhan.

(RIA/DIR)