Insight | General Knowledge

Gelombang Panas di India, Tanda Krisis Iklim Semakin Parah

Selasa, 10 May 2022 14:00 WIB
Gelombang Panas di India, Tanda Krisis Iklim Semakin Parah
Jakarta -

Pemanasan global telah memicu serangkaian kerusakan ekologi dan perubahan iklim di berbagai negara. Akan tetapi, beberapa negara harus menanggung dampak yang lebih parah dibandingkan negara yang lain. Salah satunya adalah India yang mengalami gelombang panas sepanjang April kemarin. Melansir Bloomberg, suhu di kota New Delhi pada siang hari bisa mencapai 44℃ sedangkan pada malam hari suhunya tidak pernah lebih rendah dari 30℃.

Meski gelombang panas adalah fenomena yang rutin terjadi dari bulan Mei hingga Juni, tahun ini gelombang panas datang lebih awal dan bisa dirasakan mulai dari bulan Maret. Suhu rata-rata pada bulan Maret pun tercatat sebagai suhu tertinggi selama 122 tahun terakhir. Selain kenaikan suhu rata-rata dan durasi yang lebih lama, cakupan wilayah yang terdampak juga amat luas yaitu sebesar 15 negara bagian. Hal ini menunjukkan bahwa meski gelombang panas merupakan fenomena alamiah, tapi pemanasan global turut mendorong perubahan yang membuat fenomena ini menjadi semakin ekstrem.

Gelombang panas ekstrem bisa berakibat fatal terhadap kesehatan manusia. Apabila suhu di malam hari tidak menurun, tubuh manusia tidak punya kesempatan untuk memulihkan diri. Kondisi ekstrem ini telah membuat jutaan penduduk India kesulitan untuk bertahan. India sendiri merupakan negara dengan populasi terpadat kedua di dunia, dengan jumlah penduduk yang mencapai 1,38 miliar. Sementara itu, diperkirakan sebanyak 800 juta penduduk India hidup di bawah kemiskinan. Mereka yang hidup di bawah garis kemiskinan harus menanggung kondisi ekstrem ini dengan sedikit opsi untuk bisa bertahan hidup, terutama bagi mereka yang tak bisa mengakses air bersih ataupun berlindung di ruangan yang memiliki air conditioner.

Gelombang panas tak hanya memengaruhi kondisi hidup penduduk dari segi biologis, tapi juga menyebabkan permasalahan di sektor lain yang bisa menurunkan kualitas hidup. Beberapa permasalahan yang timbul akibat gelombang panas di antaranya adalah gagal panen dan juga meningkatnya permintaan pasokan listrik yang berimbas pada pemadaman di berbagai daerah.

Aspek yang paling mengkhawatirkan dari gelombang panas yang terjadi di India saat ini adalah tingginya level kelembaban udara di sana. Suhu panas lebih berbahaya di kondisi udara dengan kelembaban yang tinggi, dibandingkan dengan kondisi udara yang kering. Para ilmuwan menggunakan wet-bulb temperature untuk mengindikasikan seberapa banyak evaporasi yang bisa diserap oleh udara. Tubuh kita bisa melepas panas dengan cara berkeringat, namun dengan kondisi udara yang lembab hal ini menjadi semakin sulit. Apabila wet-bulb temperature mencapai 35℃ atau lebih, maka tubuh manusia akan semakin sulit untuk berkeringat dan berpotensi terkena heatstroke bahkan setelah beberapa jam terpapar udara panas di luar ruangan.

Apa yang terjadi di India mungkin juga terjadi di negara lain. Indonesia pun tak lolos dari kepungan udara panas yang semakin hari semakin terik. Selama awal bulan Mei ini, tercatat suhu tertinggi di Indonesia mencapai 36,1℃. Meski BMKG sudah mengeluarkan pernyataan bahwa cuaca panas terik di Indonesia bukan disebabkan oleh gelombang panas, tapi ini tak mengurangi fakta bahwa suhu bumi semakin naik dan iklim telah berubah. Dengan demikian, gelombang panas yang terjadi di India bukanlah peristiwa yang terisolasi. Ia merupakan alarm tanda bahaya akan ancaman krisis iklim yang telah ada di depan mata.

[Gambas:Audio CXO]



(ANL/MEL)