Insight | General Knowledge

Mengenal Storynomics Tourism Untuk Promosi Pariwisata Indonesia

Selasa, 10 May 2022 20:00 WIB
Mengenal Storynomics Tourism Untuk Promosi Pariwisata Indonesia
Foto: SHUTTERSTOCK
Jakarta -

Industri pariwisata menurun drastis selama dua tahun terakhir kala pandemi COVID-19 melanda. Daerah yang kegiatan ekonominya banyak bergantung pada pariwisata merasakan dampak yang luar biasa pula karena menurunnya wisatawan mancanegara dan domestik. Menurut data BPS, kunjungan wisatawan mancanegara turun hingga 89,05% pada Januari 2021, dari 1,29 juta kunjungan pada Januari 2020 menurun hingga 141.260 pada Januari 2021. Maka dari itu, pemerintah mengupayakan untuk dapat mendorong kembali industri pariwisata dalam rangka pemulihan ekonomi. Storynomics tourism digadang-gadang menjadi strategi marketing yang efektif dan cocok untuk mempromosikan pariwisata Indonesia pasca pandemi. Jadi, sebenarnya apa itu storynomics tourism?

Robert McKee (2018) penulis buku Storynomics menjelaskan bahwa storynomics adalah pemasaran berbasis cerita di dunia post-advertising, di mana pendekatan pemasaran dilakukan menggunakan teknik bercerita dalam sebuah konten yang kreatif. Storynomics tourism merupakan pendekatan pariwisata yang menitikberatkan pada narasi, konten kreatif, living culture serta menggunakan kekuatan budaya sebagai DNA destinasi pariwisata.

Sebuah brand storytelling seperti ini memerlukan tiga kunci utama. Pertama, memiliki hook yang kuat agar mencocokkan dengan kebutuhan wisatawan; kedua, diperlukan adanya kisah yang dramatis dan menarik perhatian sehingga membuat wisatawan secara emosional terhubung dengan destinasi wisata tersebut; terakhir, puncak cerita ditutup guna membuat pendengar bisa segera mengunjungi destinasi wisata yang diceritakan.

Strategi seperti ini digunakan untuk menarik minat wisatawan, terutama yang memiliki ketertarikan dengan tradisi, kuliner, cerita adat dan budaya destinasi wisata lokal. Melalui strategi ini akan dihasilkan organic reach, sebuah istilah yang juga disebut oleh Robert McKee, di mana orang-orang akan mulai menyebarkan cerita di media sosial mereka secara berulang mengenai tempat pariwisata yang mereka dengar atau ketahui dan mereka sukai. Sehingga, banyak orang akan mengenal tempat wisata tersebut dan menarik wisatawan untuk mengunjunginya juga. Melalui strategi ini, keindahan dan kekayaan budaya serta alam Indonesia dapat disampaikan dalam bentuk storytelling, yang diharapkan akan memberikan pengetahuan (awareness) dan pengalaman (experience) mengenai beragam destinasi wisata di Indonesia. Selain itu, metode storytelling ini juga dapat mengemas pengalaman wisata keseluruhan yang berkaitan dengan faktor 3A yaitu aksesibilitas (sarana dan infrastruktur untuk menuju destinasi), amenitas (fasilitas pendukung yang dapat memenuhi kebutuhan), dan atraksi (sumber-sumber alam, budaya, etnis, dan hiburan) di tempat wisata.

Dalam rangka mendukung konsep storynomics tourism, upaya yang dilakukan adalah dengan menghadirkan pemandu wisata, influencers, serta sign/barcode berisi informasi destinasi. Daerah yang akan mengembangkan strategi storynomics tourism di Indonesia tercakup dalam lima destinasi super prioritas yakni Danau Toba, Borobudur, Mandalika, Labuan Bajo, dan Likupang. Namun, ke depannya tidak hanya lima lokasi ini saja yang akan diterapkan storynomics tourism. Pada tahun 2020-2024, program ini juga akan diberlakukan di 244 desa wisata yang dikategorikan prioritas oleh Kemenparekraf.

Mengembangkan pariwisata Indonesia membutuhkan kerja sama dan sinergi dari berbagai pihak, apalagi di tengah upaya pemulihan ekonomi sektor pariwisata dan ekonomi kreatif pasca pandemi seperti ini yang tidak mudah. Storynomics tourism menjadi salah satu strategi untuk mendorong kembali destinasi pariwisata Indonesia agar semakin dikenal tidak hanya oleh warga Indonesia sendiri tapi oleh seluruh dunia.

[Gambas:Audio CXO]



(SAS/HAL)