Insight | General Knowledge

Busting Myths: 7 Doppelganger

Selasa, 05 Apr 2022 16:00 WIB
Busting Myths: 7 Doppelganger
Jakarta -

Menelusuri media sosial membuat kita mendapatkan banyak informasi mengenai banyak hal dan bertemu dengan orang-orang yang tidak terpikirkan sebelumnya. Bahkan, akhir-akhir ini saya sempat merasa kaget saat menemui seseorang yang memiliki wajah persis seperti Nagita Slavina yang sedang asyik berjoget ria di TikTok. Tidak lama setelah itu, diketahui bahwa perempuan tersebut bernama Nada Azka.

Hal ini pun membuat saya mengingat kembali beberapa orang yang sempat viral di platform tersebut karena memiliki wajah yang sama dengan artis-artis ternama, contohnya seperti Micera yang dikatakan mirip sekali dengan Jennie BLACKPINK, Allisha Shin yang memiliki paras hingga warna rambut yang identik dengan Rose BLACKPINK dan masih banyak lagi.

Kemunculan nama-nama ini membuat banyak orang berspekulasi bahwa mereka adalah Doppelganger dari artis-artis tersebut karena kemiripannya yang dapat dikatakan sangat identik sekali. Sebenarnya, istilah doppelganger ini sudah cukup familiar di tengah masyarakat. Namun, alih-alih dianggap sebagai sebuah hal yang unik, doppelganger justru malah kental dengan mitos menyeramkan. Mitos seperti apa yang dimaksud, ya?

Konon, setiap orang dikatakan memiliki tujuh doppelganger yang terdapat di seluruh belahan dunia. Pasalnya, doppelganger di dalam cerita rakyat Jerman adalah penampakan dari orang yang hidup, namun berbeda dengan hantu. Doppelganger ini secara umum dianggap sebagai pertanda nasib buruk atau bahkan tanda-tanda kematian yang akan datang. Masyarakat percaya bahwa apabila orang lain melihat doppelganger kita maka hal tersebut menandakan bahwa penyakit atau bahaya akan menimpa kita, sementara apabila kita melihat doppelganger kita sendiri, merupakan sebuah pertanda kematian.

Bahkan, doppelganger pun terkadang disebut sebagai evil twin karena dipercaya mencoba untuk memberikan nasihat kepada orang yang mereka bayangi, tetapi nasihat ini dapat menyesatkan atau bersifat jahat. Karena alasan inilah, orang-orang disarankan untuk menghindari berkomunikasi dengan doppelganger-nya. Mitos mengenai doppelganger ini ternyata pernah dialami oleh beberapa orang pada zaman dahulu yang sampai saat ini menjadi misteri di dalam sejarah.

Salah satu dari cerita tersebut datang dari Catherine the Great, atau yang dikenal sebagai Permaisuri Rusia sepanjang abad ke-18. Kisah tentang pertemuan dengan doppelganger-nya ini terjadi tidak lama sebelum ia meninggal pada tahun 1796. Menurut sejarah, pelayan Catherine membangunkannya pada suatu malam dengan panik karena ia mengaku melihat Catherine lainnya yang diduga sebagai doppelganger-nya sedang duduk di singgasana miliknya. Karena kebingungan, Catherine pun mengikuti mereka ke ruang singgasana untuk membuktikan benar adanya kembaran Catherine yang duduk di sana. Catherine pun tak lama langsung memerintahkan pelayannya untuk menembak si doppelganger. Tak lama setelah kejadian ini, Catherine dilaporkan meninggal secara tiba-tiba karena stroke. Menurut kamu, apakah mungkin hal ini ada hubungannya dengan hadirnya sosok doppelganger?

Tidak hanya Catherine the Great, ada pula cerita mengenai orang-orang lainnya yang melihat doppelganger-nya sendiri seperti novelis Jerman, Johann Wolfgang von Goethe. Menurut sejarah, ia pernah melihat seseorang yang menunggangi kuda berjalan ke arahnya. Semakin dekat dengannya, ia menyadari bahwa orang tersebut memiliki paras yang sama dengannya dan mengenakan pakaian abu-abu.

Namun tak lama, doppelganger itu hilang begitu saja dari pandangannya. Delapan tahun kemudian, ia berjalan di jalan yang sama untuk mengunjungi kerabatnya. Saat di jalan, ia menyadari bahwa tanpa sengaja ia mengenakan pakaian yang sama dengan doppelganger yang ia temui pada saat itu.

Terlepas dari mitos yang beredar mengenai doppelganger, sebenarnya ada teori mengenai hal ini yang dapat dijelaskan secara ilmiah. Teori yang paling mungkin dapat menjawab fenomena doppelganger adalah karena adanya kemiripan instruksi gen. Umumnya, gen manusia memang hampir mirip satu sama lain, di mana yang membedakannya adalah instruksi yang diberikan oleh gen tersebut untuk membuat kontur wajah dan tubuh seseorang.

Kemungkinannya memang banyak, dan kita pun tidak boleh lupa bahwa terdapat lebih dari 7 miliar orang yang mengisi populasi di bumi, sehingga hal ini bisa saja membuat kita memiliki paling tidak 7 sampai 9 orang kembaran atau doppelganger yang tersebar di seluruh belahan dunia. Meskipun demikian, hasil investigasi yang diungkap oleh BBC Future menyimpulkan bahwa replika seseorang yang tidak memiliki hubungan darah tak mungkin akan sangat identik secara 100 persen, pasti ada perbedaan dalam beberapa aspek yang dapat dilihat apabila kita mengkomparasikannya secara langsung.

Selain itu, peneliti dan ilmuwan juga menganggap bahwa fenomena melihat kembaran yang persis miripnya dengan diri sendiri dan tidak bisa dilihat orang lain merupakan gejala dari skizofrenia. Skizofrenia adalah kondisi di mana seseorang sulit untuk berkonsentrasi karena tidak dapat membedakan realita dengan khayalan sehingga penderitanya pun sering berhalusinasi.

Dengan adanya penjelasan secara ilmiah mengenai doppelganger, seharusnya hal ini dapat membuka pandangan kita mengenai keberadaan doppelganger di dunia dan tidak selalu mengasosiasikannya dengan pertanda buruk, karena setiap orang sudah memiliki garis takdirnya masing-masing dan kematian adalah suatu hal yang memang tidak dapat kita hindari. Tanpa bertemu dengan doppelganger pun, seseorang sudah pasti akan bertemu dengan ajalnya kapan pun itu.

[Gambas:Audio CXO]


(DIP/DIR)