Insight | Business & Career

Menjaga Kewarasan di Kantor Ketika Punya Atasan Toxic

Senin, 22 Jan 2024 18:43 WIB
Menjaga Kewarasan di Kantor Ketika Punya Atasan Toxic
Jakarta -

Setiap kantor punya cerita masing-masing, terutama soal atasan yang kerap menjadi pembicaraan para pegawainya. Bicara soal atasan di kantor, pasti tidak pernah lepas dari seperti apa sosoknya dan bagaimana ia memperlakukan semua pegawainya.

Namun yang paling utama, seorang atasan harus punya sifat kepemimpinan atau leadership yang dianggap mampu memberikan pengaruh pada anak buah atau pengikutnya, sehingga mereka terinspirasi untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik dalam hal pekerjaan mereka. Tapi, tidak semua mampu menjadi pemimpin yang punya leadership yang baik.

Dikutip The Conversation, para ilmuwan kritis dalam bidang organisasi dan kepemimpinan telah meneliti bagaimana kepemimpinan bisa dilakukan dengan proses yang buruk sehingga memicu luka secara psikologis bahkan fisiologis bagi bawahannya. Ini menimbulkan dampak berantai berupa lingkungan kerja yang toxic, bahkan memicu kehancuran organisasi yang dipimpinnya.

Toxic leadership adalah serangkaian tindakan yang dilakukan oleh seorang pemimpin yang disengaja atau tidak yang merusak semangat para karyawan mereka. Pemimpin semacam ini cenderung mementingkan diri sendiri dan menempatkan keuntungan pribadi atau kelompoknya di atas kebutuhan organisasi maupun anak buahnya.

Kondisi inilah yang menciptakan kondisi demoralisasi anggota organisasi dan merusak organisasi dari dalam. Pemimpin semacam ini muncul karena memiliki keterbatasan kualitas sumber daya, rendahnya tingkat pendidikan, dan adanya tiga kepribadian seperti narsisisme, psikopati, dan Machiavellianisme-yaitu suatu ciri kepribadian yang licik, manipulatif, dan menghalalkan segala cara untuk tujuan politis.

Menjaga diri agar tetap waras di kantor dengan atasan toxic

Memang tidak mudah berada di kepemimpinan yang toxic. Di sisi lain, hati dan tubuh sudah tidak kuat dengan perlakukan yang mereka lakukan kepada kita. Namun di sisi lainnya, kita masih membutuhkan pekerjaan tersebut untuk menyambung kehidupan. Bagi kamu yang berada dalam posisi yang tidak menguntungkan ini, para ahli menyarankan beberapa strategi untuk menjaga kewarasan.

1. Katakan 'tidak'

Berikan batasan profesional yang jelas. Sebab, pemimpin yang toxic sering meminta kepatuhan tanpa batas. Belajarlah mengatakan tidak jika diperintahkan untuk melakukan hal-hal yang tidak etis atau tidak masuk akal. Catat jika ada kejadian-kejadian yang tidak wajar dan selalu cek kebijakan organisasi terkait.

2. Fokus kembangkan diri

Fokus pada pengembangan diri dan profesional. Pemimpin toxic cenderung mengintimidasi mereka yang dianggap lemah atau kurang berketerampilan. Kompetensi dan keterampilan tinggi akan membuat kamu menjadi lebih percaya diri dan tidak mudah dimanipulasi.

3. Cari dukungan

Cari dukungan yang luas. Pastikan kamu tidak berjuang sendirian dengan menghubungi rekan kerja, mentor, dan memperluas jaringan sosialmu. Jaringan yang luas akan memberikan dukungan penting, terutama jika kamu perlu perlu exit plan ketika hubungan dengan pemimpin toxic macam ini sudah sulit untuk diperbaiki.

4. Cari alternatif pekerjaan

Kalau memungkinkan, putuskan rantai perilaku toxic di lingkungan kerjamu. Carilah alternatif pekerjaan yang menawarkan lingkungan yang lebih sehat dan memberikan peluang bagi perkembangan pribadi dan profesional dirimu.

5. Evaluasi diri

Kehadiran mereka jangan hanya jadi angin lalu saja, tapi jadikan sebagai pembelajaran dan evaluasi diri bahwa orang semacam ini bisa kamu temui di mana pun, bahkan di tempat kerjamu yang baru.

Pemimpin toxic pasti cenderung memanfaatkan posisi kepemimpinannya untuk menyembunyikan kelemahan dan keterbatasan mereka dalam memimpin kelompok. Untuk membuatmu tetap waras, penting untuk selalu mengingat value diri dan nilai-nilai seperti apa yang kamu pegang ketika bekerja.

Jangan sampai, permintaan dari atasan toxic kamu sudah mempengaruhi value dirimu sendiri. Apalagi sebagian besar waktu kamu adalah di tempat kerja, maka dari itu sangat penting untuk tidak membiarkan hal-hal negatif yang dilakukan oleh atasanmu mempengaruhi kualitas hidup dan kesehatan mentalmu.

Ciri-ciri pemimpin toxic

Pemimpin yang toxic cenderung intimidatif, manipulatif, kerap melakukan bullying, menuntut pekerjaan dilakukan dengan caranya, arogan, narsis, serta sering melakukan perbuatan yang tidak etis dan kasar terhadap anak buah yang dipimpinnya.

Yang harus kamu bedakan adalah pemimpin toxic itu tidak sama dengan pemimpin yang tegas. Pemimpin toxic sering menggunakan kekuasaannya untuk memanipulasi, menyakiti, bahkan memutarbalikkan fakta demi kepentingannya sendiri, ia juga memiliki kecenderungan bersifat otoriter dan menuntut kepatuhan anak buahnya secara mutlak.

Contohnya, mereka cenderung menuntut anak buahnya untuk mengikuti perintahnya tanpa memberikan ruang untuk bertanya atau menyanggah. Jika anak buah atau pengikutnya melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kehendaknya, mereka tidak segan mempermalukan mereka di depan umum.

Sifat narsis membuat mereka alih-alih merefleksi diri dari kesalahannya, justru menyalahkan kolega, anak buah, atasan lainnya, atau sistem karena kegagalan mereka dalam memimpin suatu kelompok. Dampaknya pun bisa menurunkan semangat kerja anak buah, menimbulkan stres anggota, menciptakan lingkungan kerja yang tidak sehat, dan tingginya perputaran pegawai seperti keluar-masuknya pegawai.

(DIR/alm)

NEW RELEASE
CXO SPECIALS