Insight | Business & Career

Alasan Mengapa Milenial dan Gen Z Lebih Cepat 'Burnout' Saat Bekerja

Kamis, 23 Jun 2022 12:00 WIB
Alasan Mengapa Milenial dan Gen Z Lebih Cepat 'Burnout' Saat Bekerja
Foto: FREEPIX
Jakarta -

Work-Life Balance, ungkapan ini rasanya tak berlaku lagi bagi kaum muda yang masuk kategori generasi milenial dan generasi Z (gen Z). Kini, hampir sebagian besar dari kita tak banyak memiliki waktu luang untuk bersantai melepas lelah usai bekerja di kantor. Saat sampai rumah saja, kita harus membuka laptop lagi untuk menyelesaikan side job demi memenuhi kebutuhan sehari-hari sampai gaya hidup yang tak sebanding dengan penghasilan.

Tidak heran bila kini para pekerja generasi milenial dan gen Z cenderung lebih cepat 'burnout' saat bekerja ketimbang pekerja dari generasi mereka sebelumnya. Dilansir BBC, sebuah survei tahun 2021 dari situs pekerjaan menunjukkan bahwa pekerja milenial dan gen Z mengalami tingkat kelelahan tertinggi, yakni 59 persen (milenial) dan 58 persen (gen Z). Sementara itu, survei yang dilakukan pada tahun 2022 menunjukkan bahwa pekerja gen Z di Amerika Serikat merasa lebih lelah daripada kelompok usia lainnya.

Lantas, apa alasan yang menyebabkan kita cenderung lebih cepat 'burnout' kala bekerja?

Situasi Pandemi Jadi Faktor Utama

Sejak dimulainya pandemi COVID-19 tahun 2020, semua generasi tak siap menghadapi perubahan secara tiba-tiba, terlebih soal pekerjaan. Mulai dari harus beradaptasi dengan Work From Home dalam waktu yang lama, hingga sulitnya membagi waktu antara bekerja dan beristirahat saat di rumah. Dan generasi Z adalah kelompok pekerja yang mengalami stres terburuk.

Alasan timbulnya stres yang tinggi dikarenakan kurangnya tenaga kerja di kantor hingga membuat pekerjaan dua orang dikerjakan satu orang, normalisasi budaya bekerja, ketidakstabilan keuangan di tengah pandemi, hingga sulitnya untuk membagi waktu bekerja dan bersantai. Salah satu yang paling mempengaruhi kesehatan mental mereka adalah finansial.

Sebuah survei Deloitte tahun 2021 menunjukkan 41 persen pekerja dari kalangan generasi milenium dan 46 persen responden Gen Z merasa stres sepanjang atau sebagian besar waktu karena keadaan keuangan mereka. Apalagi anggaran rumah tangga terpaksa harus ditingkatkan mengingat harga-harga bahan pokok di saat pandemi justru naik karena keterbatasan sumber daya. Padahal gaji mereka tidak sejalan dengan kenaikan harga-harga kebutuhan sehari-hari.

"Mereka menyelesaikan pekerjaan apa pun yang mereka kerjakan untuk rencana karir yang mereka inginkan, dan alih-alih bersantai, mereka mengerjakan pekerjaan sampingan untuk mendapatkan sedikit uang ekstra," jelas Kim Hollingdale, asisten profesor psikologi di Universitas Pepperdine California, Amerika Serikat.

Tak hanya itu, hubungan antar teman kantor di kala pandemi juga mempengaruhi kestabilan dalam bekerja generasi muda ini. Sulitnya mengembangkan hubungan sesama pekerja di tengah pandemi, membuat pekerja dari generasi milenial dan gen Z sulit menumbuhkan optimisme dan motivasi.

Pulihkan Diri dari Burnout

Kita telah memahami bahwa faktor situasional seperti pandemi yang belum menemui titik akhir adalah penyebab terbesar terjadinya burnout. Namun, bukan tidak mungkin kondisi ini bisa kita atasi bahkan hindari. Begini caranya!

1. Tetap Seimbang

Sangat penting untuk mengisi kembali energi fisik dan emosional kita, bersama dengan kapasitas untuk fokus. Caranya adalah memprioritaskan kebiasaan tidur yang baik, makan makanan bergizi, olahraga, berhubungan sosial, dan latihan yang bisa meningkatkan keseimbangan dan kesejahteraan, seperti bermeditasi, menulis jurnal, dan menikmati alam. Jika kamu masih kesulitan memasukkan aktivitas seperti itu ke dalam jadwal padat kamu, beri dirimu satu minggu untuk menilai dengan tepat bagaimana kamu menghabiskan waktu untuk bersantai.

2. Ubah Perspektif

Mengubah perspektif dapat menahan dampak negatif dari aspek yang tidak fleksibel. Bila kelelahan adalah masalah utama, tanyakan pada dirimu tugas mana   termasuk yang urgent   yang dapat kamu kerjakan lebih dulu supaya kamu lebih mudah untuk mengerjakan pekerjaan yang mudah setelahnya.

3. Hindari Penyebab Stres

Kamu juga harus menargetkan sampai mana kamu melakukan aktivitas yang masih memicu stres tidak sehat. Ini membuat kamu harus mengatur kerja sama dengan rekan kerja, klien, dan bahkan anggota keluargamu sendiri. Siapa tahu dengan mengatur porsi masing-masing, mereka bisa menjadi motivatormu dan menciptakan produktivitas dalam pekerjaan serta melindungi kesehatan mentalmu.

[Gambas:Audio CXO]



(DIR/HAL)