Interest | Art & Culture

Antara Iwan Fals, Merahnya Panggung, dan Gaung yang Menyala

Senin, 03 Jun 2024 19:30 WIB
Antara Iwan Fals, Merahnya Panggung, dan Gaung yang Menyala
Antara Iwan Fals, Merahnya Panggung, dan Gaung yang Menyala/Foto: Istimewa
Jakarta -

Millenium baru sudah menginjak tahun ke-24. Atas nama zaman, banyak hal yang telah berganti dengan pesat. Namun, perubahan itu tidak kentara saat kita membahas nama: Iwan Fals. Sesosok musisi, yang tidak pernah tidak riuh diagungkan orang Indonesia dari masa ke masa.

Meski raganya bertambah tua, rambutnya yang dulu hitam lebat dan liar kini luntur memutih sempurna hingga ke bagian janggut, spirit serta rasa cinta Iwan Fals terhadap musik juga tanah airnya, Indonesia, tidak sama sekali mengendur. Panggung-panggungnya pun tak pernah sepi dari perhatian, kendati ikon musisi muda terus bermunculan.

Mungkin, itu pula yang menjadi alasan kuat mengapa Iwan Fals kembali diandalkan Gaung Merah SeGALAnya sebagai penampil utama, pada rangkaian tur ke puluhan kota se-Indonesia yang akan bergulir dalam waktu dekat.

Sejak mengorbit di akhir era-70 an, lantang suara pria bernama lengkap Virgiawan Liestanto itu memang terus melenggang di sirkuit musik Indonesia. Dikenal dengan kecakapannya menulis musik yang begitu puitik, sarat kritik, dan sanggup menembus sanubari, konsistensi Iwan Fals di blantika musik turut menjelmakan dirinya sebagai salah satu musisi terpenting di negeri ini. Ia pandai menjadi jenaka, getir sekaligus heroik, cerdik bermain satir, serta sanggup membingkai asmara tanpa terasa cengeng di saat yang hampir bersamaan.

Anak sekarang bilang, Iwan Fals adalah musisi dengan karya yang everlasting. Satu hal yang selaras dengan fondasi "One stop entertainment of everlasting experience" milik Gaung Merah SeGALAnya. Faktanya, meskipun zaman telah jauh berganti, magis karya-karya Iwan Fals tetap relevan. Terbukti dengan lagu populer "Aku Sayang Kamu" (Aku Sayang Kamu, 1986) yang belakangan ramai melintas di TikTok, juga senandung "Buku Ini Aku Pinjam" (1910) dari tahun 1988 yang masih diandalkan anak sekolah bercelana abu-abu untuk merayu kekasihnya.

Tak jarang, musik gubahannya juga kencang menggaungkan progresi revolusioner. Sebagaimana para calon "Sarjana Muda" dan "Robot Bernyawa" yang tetap ngotot menantang ketidakadilan sambil menyanyikan hit semacam, "Manusia Setengah Dewa", "Tikus-tikus Kantor", maupun "Bongkar".

Lagu "Bongkar" sendiri punya catatan yang lebih gemilang, karena menduduki posisi pertama dari 150 lagu terbaik sepanjang masa versi Majalah Rolling Stone Indonesia tahun 2009. Jadi pantas saja, jika Orang Indonesia-yang juga nama organisasi massa loyal Iwan Fals-mantap menahbiskan sang pencipta "Obat Awet Muda" sebagai panutan; segelintir orang menjulukinya sebagai dewa, beberapa yang lain menggap Iwan adalah pahlawan, dan tidak sedikit yang memposisikan dirinya sebagai penghibur utama setiap kaum kusam yang kurang liburan.

Panggung Merah Iwan Fals

Iwan Fals lahir di masa orde lama dan beranjak besar ketika rezim orde baru sedang gagah-gagahnya. Walaupun umurnya kini telah menginjak 62 tahun, akan tetapi, suara hatinya masih terasa murni seperti saat muda; kegusarannya, sikap kritisnya, juga kepeduliannya terhadap kondisi sosial bangsa ini tetap sama besar.

Tampaknya, sebab itu pula, seorang yang pernah didapuk "Asian Heroes" oleh majalah Times tahun 2002 lalu rela meninggalkan kediaman asrinya di daerah Leuwinanggung, untuk kembali "mengamen" mengitari tanah air. Bersama Gaung Merah SeGALAnya, Iwan Fals dan bandnya mengagendakan rangkaian tur panjang dari 8 Juni 2024 sampai Februari 2025 mendatang.

Ia akan beraksi di 25 kota berbeda. Mulai dari Cirebon, Tasikmalaya, Kotabumi, Palembang, Dumai, Padang, Pontianak, Manado, Palu, Makassar, Lhokseumawe, Padang Sidempuan, Pematang Siantar, Denpasar, Jember, Kediri, Surabaya, Magelang, Solo, Tegal, Purwokerto, Bogor, Serang, dan berakhir di Jakarta. Satu jalan yang lebih panjang dan berliku dibanding tur 10 kota bersama Gaung Merah SeGALAnya tahun 2023 kemarin.

Jika sedikit melirik ke belakang, pentas Gaung Merah SeGALAnya nanti memang bukan hajat terakbar yang pernah dan/atau akan dilakoni Iwan Fals. Dirinya pernah tampil di hadapan 350.000 orang di Gelora Bung Karno tahun 2014, serta telah tampil di banyak panggung bertajuk amal maupun kebangsaan dengan dampak yang tak kalah besar.

Hanya saja, apabila kita melihat perpaduan Iwan Fals dengan Gaung Merah SeGALAnya tahun ini, pentas mendatang boleh dibilang lebih serius mewujudkan visi luhur yang absen dari banyak panggung sebelumnya: Gaung Merah SeGALAnya kembali berkomitmen melakukan aksi tanam pohon berskala besar di dalam rangkaian tur. Tahun lalu, mereka telah menanam 1.958 bibit pohon.

Satu gestur nyata, yang justru tak kuasa diwujudkan pihak lain, tidak terkecuali, oleh mereka yang kerap mengecam sokongan industri tembakau di ranah hiburan. Apalagi, seperti yang kita ketahui, Iwan Fals yang sudah kenyang hisap-kebul kehidupan ternyata punya relasi ironik dengan produk tembakau-yang sempat rutin pula dihisapnya.

Sewaktu mewacanakan promo album Mata Dewa tahun 1989, misalnya, ia yang berniat mampir ke 100 kota dari Sabang sampai Merauke harus memupus asa karena beberapa alasan, termasuk spekulasi intervensi dari sesama produsen tembakau saingan promotornya pada saat itu. Satu peristiwa penuh teka-teki yang menyisakan kesedihan di hati Iwan Fals.

Di lain waktu, ia juga sempat menolak kesempatan manggung saat hendak disponsori produsen tembakau. Merujuk tulisan panjang Andreas Harsono dalam blognya, kala itu, istri sekaligus manajernya, Yos Rosanna, sempat mengkhawatirkan kondisi sang suami yang baru memutuskan berhenti merokok. Jadi ia terpaksa bersikap keras terhadap rencana tersebut. Iwan Fals sendiri sudah terbebas dari rokok sejak menggarap album Hijau (1991).

Namun begitu, sejarah yang lalu justru tak menggugurkan niat baik Iwan Fals bersama Gaung Merah SeGALAnya di dua tahun ini. Serupa pepatah "Mati satu, tumbuh seribu", setalian problema yang hinggap dari masa lampau itu lantas boleh dikubur dalam-dalam. Sebab pada akhirnya, pentas yang mengusung semangat penuh kualitas dari zaman ke zaman ini malah akan menumbuhkan tunas-tunas yang siap bermekaran, sekalipun Iwan Fals atau orang-orang yang mengenal dan mengaguminya telah tiada.

GAUNG ABADI

Iwan Fals merupakan sosok yang istimewa. Bak wali Tuhan zaman modern, tuah karyanya sedikit demi sedikit menstimulasi bangsa ini menuju titik terang. Khususnya, lewat irama-irama indah, yang turut mewakili kepeduliannya terhadap situasi politik maupun kelestarian alam di negeri ini.

Menyikapi rangkaian tur 25 kotanya, pria yang belakangan akrab disapa Om Iwan ini menyebut kolaborasi mereka sebagai satu semangat baru untuk terus berkarya. "Dalam acara ini kita bisa mengapresiasi tentang kualitas yang dibutuhkan sebuah karya agar abadi dan menyala sepanjang masa," tukasnya dalam keterangan pers.

Tante Yos sendiri tak mau ketinggalan mendukung sang suami. "Setelah kemarin tur dan menanam, sekarang kita juga lagi fokus menyiapkan tim untuk merawat pohon," katanya, dalam konferensi pers di Pos Bloc, Jakarta Pusat (Kamis, 30/5/24).

Kepedulian Iwan Fals dan keluarga terhadap alam memang luar biasa. Dibuktikan dengan didirikannya Yayasan Suara Hati Iwan Fals, yang berfokus mengupayakan alam Indonesia menjadi lebih lestari secara mandiri.

Pada praktiknya, selain mengagendakan tur dan aksi konservasi menanam ribuan pohon, hajat Iwan Fals bersama Gaung Merah SeGALAnya mendatang juga akan dikemas secara lebih paripurna, merupai gala apresiasi seni dan budaya lintas zaman.

"Gaung Merah SeGALAnya bukan hanya tentang nostalgia, tapi melalui acara ini kami ingin berbicara tentang karya yang mampu melampaui zaman, agar dapat menginspirasi generasi berikutnya," kata perwakilan Gaung Merah, Fabio Junot Ardelto.

Fabio menambahkan, bahwa acara ini terbuka untuk masyarakat tanpa dipungut biaya. "Kami juga kembali mengedepankan tiga pilar everlasting Gaung Merah SeGALAnya. Ada Musikaria, Sinemaria, dan Kulineria," lanjut Fabio. Seluruh hal yang disebut, merupakan ikhtiar Gaung Merah SeGALAnya dalam mendukung kelestarian alam, hingga keragaman budaya populer dan kuliner yang tersaji di Nusantara yang maha kaya.

Keputusan tersebut juga seakan mendukung lantang suara Iwan Fals bersama Gaung Merah yang sudah lebih dulu menusuk hati. Sedikit banyak, hal ini dipengaruhi program Suara Hati Ramadan, yang dua tahun belakang menampilkan Iwan dengan Fahrudin Faiz, dan laras dipandu aktris berbakat sekaligus teman akrab (Alm.) Galang dari masa silam, Sha Ine Febriyanti. Tak lupa dengan kesuksesan 10 pentas Gaung Merah SeGALAnya tahun lalu.

Tante Yos yang ditunjuk sebagai kurator setlist juga telah menyiapkan materi terbaik. "Dari ratusan lagu [Iwan Fals], saya sudah menyiapkan banyak lagu berbeda untuk dibawakan selama 2 jam di 25 kota," jelasnya. Dirinya juga mengaku sudah menyisipkan tiga lagu Iwan Fals bertema kebangsaan seperti, "Bangunlah Putra Putri Pertiwi", "Aku Menyayangimu", dan "Merah Putih" sebagai lagu wajib yang nantinya bisa dimainkan di seluruh kota.

Pangkalnya, kita hanya bisa menunggu seberapa abadi aksi Iwan Fals dalam rangkaian Gaung Merah SeGALAnya yang akan segera terlaksana. Semoga, hajat ini bisa melebihi silaturahmi Iwan Fals dengan OI, tapi juga mengingatkan nyala abadi seorang Iwan Fals saat berada di atas panggung megah. Semoga hal yang diniatkan dengan baik dapat bergaung abadi, agar dampaknya pun bisa lebih terasa oleh generasi kiwari, yang cenderung akrab dengan rasa frustasi.

***

Informasi selengkapnya mengenai tur 25 kota Iwan Fals bersama Gaung Merah SeGALAnya dapat diakses lewat kanal Instagram @gaung_merah.

[Gambas:Audio CXO]

(RIA/tim)

NEW RELEASE
CXO SPECIALS