Interest | Art & Culture

Final yang Kolosal: Review John Wick: Chapter 4

Kamis, 23 Mar 2023 14:00 WIB
Final yang Kolosal: Review John Wick: Chapter 4
Foto: Lionsgate Picture
Jakarta -

Apa yang audiens cari ketika menyaksikan film dari franchise John Wick? Adegan aksi tanpa henti? Karakter-karakter ikonik? Atau mungkin penceritaan tentang lore ekstensif sindikat kriminal The High Table yang telah dihadirkan sejak film pertamanya? Dalam instalasi keempatnya, John Wick: Chapter 4, franchise ini sekali lagi memberikan apa yang dicari oleh penggemarnya-dalam skala yang lebih kolosal dibanding seluruh pendahulunya.

Film dibuka dengan montage latihan yang langsung dilanjutkan dengan pencarian John Wick (Keanu Reeves) terhadap "The Elder"-individu yang memimpin The High Table-ke Maroko untuk meminta kebebasannya. Setelah menerima pernyataan bahwa tak ada yang bisa ia lakukan untuk mengubah nasib Wick, Wick pun membunuhnya-tindakan yang memulai rangkaian kejadian film ini.

Setelah pembalasan dendam dan pencarian kebebasan tanpa akhir di film-film sebelumnya, plot di film keempat ini pun langsung melanjutkan narasi panjang yang telah dibangun. Terhitung repetitif dan straightforward memang, tapi siapa pula yang menonton John Wick untuk cerita yang kompleks? Hal ini tentu bukan sepenuhnya berarti buruk, karena penceritaan John Wick sendiri memang efektif bagi formula dan narasi yang dibawanya.

Karakterisasi Kuat dari John Wick: Chapter 4

Masih menjadi antagonis utama, The High Table kali ini diwakili oleh Marquis Vincent de Gramont (Bill SkarsgÄrd), karakter "jahat" aristokratik yang komikal-lengkap dengan pakaian mewah berdetil tinggi dan adegan menonton balet. Untuk menghabisi Wick, Marquis Gramont mengutus Caine (Donnie Yen), pembunuh bermata buta yang merupakan teman lama Wick. Jajaran karakter baru juga meliputi teman lama Wick lainnya, Shimazu Koji (Hiroyuki Sanada) yang mengelola Continental Hotel Osaka bersama anaknya, Akira (Rina Sawayama) sebagai concierge. Tidak berhenti di situ, nyawa Wick yang dihargai tinggi juga diburu oleh seorang Tracker atau pembunuh bayaran tanpa nama (Shamier Anderson) yang menjadi wildcard sepanjang film.

Wajah-wajah lama seperti Winston Scott (Ian McShane) turut hadir bersama concierge-nya, Charon (Lance Reddick, salah satu peran terakhirnya sebelum meninggal). Lore mengenai The High Table sendiri diperkaya dengan kehadiran karakter Harbinger (Clancy Brown), agen operasional sindikat tersebut. Berbagai karakter yang memiliki daya tariknya masing-masing ini adalah kekuatan dari franchise John Wick, yang dieksplorasi lebih jauh dalam film.

Framing Megah dan Memukau

Salah satu keberhasilan terbesar sutradara Chad Stahelski dalam John Wick: Chapter 4 adalah dalam membuat beragam scene yang secara instan langsung memukau audiens. Mengikuti alur cerita yang melompat-lompat antara Maroko, New York, Osaka, Berlin, dan Paris, film ini memberikan highlight pada karakter distingtif tiap tempat yang menjadi setting.

Permainan palet warna dan lighting menjadi elemen krusial yang membangun mood dari film neo-noir ini. Lampu-lampu neon yang memberi dikotomi antara karakter dan lingkungannya di Osaka, kelap-kelip lampu klub di Berlin, hingga muramnya Paris, seluruhnya turut membangun tensi sesuai progresi film. Pembangunan scene dan desain set juga tidak kalah baiknya, dengan latar yang megah dan framing yang efektif. Sebut saja sequence adegan aksi kontra sejumlah pembunuh kiriman The High Table di Continental Hotel Osaka yang berpindah-pindah mulai dari lobby, dapur, galeri artefak penuh kaca, hingga taman luar ruangan lengkap dengan kolam-atau pertarungan di tengah klub malam di Berlin, penuh crowd yang terjebak dalam trance. Keduanya dieksekusi secara masterful dan stylish, menempatkan seri ini di atas film lain dalam genre sejenis. Salah satu highlight lain adalah sequence pertarungan Wick dengan pembunuh yang tak terhitung jumlahnya di satu bangunan kosong di Paris. Seluruh adegannya diambil dari angle atas, memperlihatkan pembagian ruangan bangunan tersebut, serta pergerakan seluruh karakter di antaranya.

Cepat Sekaligus Lambat

Sepanjang film, karakter Wick membunuh seluruh lawan yang datang ke arahnya bagai kecoa-tidak mematikan, namun sulit dibunuh dan jumlahnya tak kunjung habis. Entah berapa persentase adegan aksi dalam keseluruhan film, namun John Wick: Chapter 4 kadang terlalu larut dalam hal ini. Durasi 169 menit jelas cukup lama untuk ukuran film aksi, dan adegan-adegan yang sebenarnya memukau secara teknis malah jadi terasa terlalu panjang dalam sejumlah kasus. Plot yang melompat dari satu kota ke kota lain, disandingkan dengan adegan aksi serta pertarungan yang ekstensif membuat film ini terasa cepat sekaligus lambat. Di tengah-tengah banyaknya kematian dan pertarungan, film ini juga menyisipkan sejumlah humor gelap, yang tak seluruhnya dieksekusi dengan baik.

Moralitas Abu-Abu

Di balik plotnya yang sederhana, salah satu aspek menarik John Wick: Chapter 4 adalah pertanyaannya tentang moral dan hubungan interpersonal bagi karakter-karakter yang sejatinya adalah kriminal. Terdapat paralel antara ikatan Wick dengan anjingnya-yang merupakan pemantik seluruh franchise ini-dan karakter Tracker yang juga berkelana ditemani seekor anjing. Caine yang memburu Wick dengan enggan hanya melakukannya karena keselamatan putrinya diancam, walau untuk melindungi putrinya tersebut ia terpaksa harus berhadapan dengan kawan lamanya, Shimazu, yang juga protektif terhadap putrinya. Konflik Shimazu dan Caine sendiri dipengaruhi oleh "pelanggaran" Caine terhadap kode persaudaraan yang mereka miliki sebagai teman lama atas upaya Caine membunuh Wick-sesuatu yang Shimazu tentang sepenuh hati. Semua karakter memiliki kompas moral dan motivasinya masing-masing, namun apakah mereka bisa disalahkan? Korban jiwa dari seluruh sisi konflik bisa dianggap expendable dalam film seperti ini, tapi jika dilihat lebih jauh, apakah tindakan protagonis kita bisa dibenarkan dalam mengambil nyawa yang tak terhitung ini? Pada akhirnya, seluruh moralitas dan kode yang berulang kali diperlihatkan pada audiens di film ini hanyalah shade warna abu-abu yang berbeda-tertutup dalam balutan neon.

Seperti audiensnya, John Wick: Chapter 4 juga menyadari bahwa ia tidak bisa mengulangi formula yang sama terus menerus. Hal ini membuat pengenalan karakter baru dan worldbuilding lebih luas dari seri John Wick menjadi menarik. Performa yang prima dari Donnie Yen, Rina Sawayama, serta Shamier Anderson memperlihatkan bahwa terdapat ruang untuk dieksplorasi lebih lanjut dalam franchise ini, tanpa melulu harus bergantung pada karakter utamanya. John Wick: Chapter 4 berhasil menutup cerita karakter titularnya secara epik, kelanjutan dari dunianya adalah hal paling exciting untuk dilihat.

(alm/tim)

NEW RELEASE
CXO SPECIALS