Interest | Art & Culture

King Royal Pride 2022: Spray Nation!

Rabu, 21 Sep 2022 13:00 WIB
King Royal Pride 2022: Spray Nation!
Jakarta -

Ajang King Royal Pride 2022, megah terlaksana di Diton Headquarter, Sunter, Jakarta Utara pada akhir pekan (17-18/9/2022) lalu. Acara ini merupakan agenda tahunan bagi skena grafiti di Indonesia, yang diselenggarakan Diton King, produsen cat semprot khusus grafiti asal dalam negeri, dengan melibatkan lebih dari 800 seniman grafiti lokal juga internasional.

Sepanjang hari Sabtu dan Minggu, seniman-seniman grafiti, secara serempak menggarap 70 dinding, yang berada di lebih dari 60 kota, pada 18 provinsi di Indonesia. Berpusat di Diton Headquarter, Jakarta, King Royal Pride tahun ini mengusung tema: Spray Nation.

Acara King Royal Pride 2022 dibuka dengan pertunjukan palang pintu khas masyarakat Betawi pada hari Sabtu (17/9) dan pentas Barongsai di hari Minggu (18/9) kemarin. Pada pelaksanaannya, Royal King Pride turut menghadirkan banyak nama artisan dunia seperti, BAD.K, NOMAD dan DIZY dari Jerman; FASO1 dan GINZ asal Taiwan; trio Filipina: EGGFIASCO, QUICCS, dan TRIPP63; juga sejumlah nama lain dari negara-negara di Asia Tenggara.

Tak lupa, graffiti writers hebat asal Tanah Air juga dilibatkan. Sebut saja SHAKEYACAN, WACKY, BLESMOKIE, FORTES, YOPEDEYZ, hingga CAULS, salah satu seniman grafiti perempuan dalam negeri. Semua nama-nama di atas, bersatu padu menggarap Diton HQ yang tadinya lusuh, menjadi lebih hidup dan bernyawa lewat karya mereka, tanpa mengurangi karakteristik dan ciri masing-masing.

Principal Diton King & Project Director King Royal Pride Ricky Yanuardi menuturkan, acara ini merupakan persembahan Diton King, kepada skena grafiti di Indonesia pasca-pandemi. "King Royal Pride merupakan bentuk apresiasi terhadap skena grafiti di Indonesia yang dimulai sejak tahun lalu," katanya, kepada tim CXO Media, pada Sabtu (17/9).

"Selaras dengan visi kami, acara ini adalah persembahan dari [grafiti] writers dan untuk writers, terutama seusai masa pandemi yang membuat lesu ekonomi. Nah kita [King Royal Pride] ini sebagai bentuk pergerakan dari sisi grafiti, kita ingin membakar kembali, kita ingin menjadi pemantik sekaligus api, yang menghidupkan kembali skena grafiti di seluruh Indonesia," jelas Ricky.

Selain menjadi wadah yang luas bagi skena grafiti di Indonesia, King Royal Pride 2022 juga memadukan genre street lifestyle lainnya, yang memiliki akar serupa dengan grafiti. Seperti, penampilan musik spesial dari musisi rap: Mario Zwinkle dan Tuan Tigabelas. Tanpa menjadi berlebihan, perhelatan King Royal Pride 2022 layak disebut sebagai salah satu event grafiti besar yang sukses terselenggara di Indonesia.

.SHAKEYACAN, WACKY dan BLESMOKIE di King Royal Pride 2022/ Foto: Istimewa

Salah seorang graffiti artist dalam negeri yang ikut andil dalam King Royal Pride 2022, WACKY, merespon perhelatan ini dengan gembira. "Acara grafiti jamming kayak gini bernilai lebih okay. Maksudnya, setelah pandemi, kita kan, vakum lama ya. Nah menurut gue, ini ajang reuni-an sama temen-temen [grafiti writers] yang lain, dan intinya, event kayak gini jadi waktu bersenang-senang buat pelaku grafiti," ungkap WACKY.

"Secara value, acara ini harusnya bisa lebih ngembangin skena grafiti Indonesia sih. Kayak, di sini kan, mereka [Royal King Pride] juga mengundang orang luar tuh. Maksud gue, mereka (para grafiti writers global) bisa jadi barometer sama referensi sih buat temen-temen di indonesia. Jadi, di samping ada relasi, koneksi, mungkin ada juga pelajaran baik dari acara ini, yang bisa banget dipraktekin buat nantinya," lanjutnya.

Merayakan grafiti di Indonesia
Grafiti merupakan salah satu cabang seni modern yang berkembang pesat di komunitas urban. Sejak menjadi popular di dalam negeri pada awal 2000-an lalu, eksistensinya terus terjaga dengan baik, hingga sanggup menciptakan ekosistem subkultur yang subur. Tak heran, jika Indonesia didapuk sebagai salah satu rumah grafiti terbesar di Asia juga Dunia, dan berkembang menjadi "taman" istimewa untuk pelaku grafiti global.

Bagi BAD.K, salah satu grafiti artist asal Jerman yang berpartisipasi di King Royal Pride 2022, event ini memiliki makna yang luar biasa. "Ini [King Royal Pride] menakjubkan! Semua orang yang ada di sini tampak sangat nyaman, ramah, dan bergembira. Rasanya seperti bergabung ke sebuah keluarga besar grafiti, di mana banyak seniman dari Eropa maupun Asia yang hadir di sini," jelas Bad.K, yang akrab dipanggil Hati, sebagaimana username Instagramnya @hati.hati.mas.

"Event seperti ini tidak terjadi di Eropa, karena di sana yang ada hanya ego. Tapi di sini berbeda. Semuanya menjadi satu," tambahnya. Hati lantas menyebut, kalau Indonesia memiliki tempat spesial di dirinya. Ia pun merasa, kalau Indonesia punya potensi luar biasa di dunia grafiti secara global, pada masa yang akan datang.

Hadirnya King Royal Pride 2022, memang diharapkan dapat memperbaiki posisi grafiti nasional secara lebih meluas. Dengan kata lain, ke depannya, grafiti bisa dipandang secara lebih lengkap, tanpa melulu diberi tatapan sinis. Terlebih pada acara ini, melalui karya yang disemprotkan ke dinding seantero Indonesia, para seniman grafiti membagikan semangat kebebasan berekspresi kepada sesama, lewat spirit kolektivitas yang erat dan penuh kesenangan.

.King Royal Pride 2022/ Foto: Istimewa

Hal tersebut dirasakan pula oleh DIZY, female graffiti writer pertama asal India, yang kini meniti karir di Jerman. Sebagai writer, DIZY merasa sangat senang bisa bergabung pada event King Royal Pride. "Ini terasa sangat menyenangkan, bisa bertemu dengan sesama pelaku grafiti di Asia, khususnya dengan orang Indonesia yang hangat layaknya sebuah keluarga besar," ungkap DIZY, yang baru pertama kali "menggambar" di Tanah Air.

"Grafiti di Indonesia berkembang dengan baik, setidaknya jika dibandingkan dengan India. Di sini, antusiasmenya luar biasa. Saya pun senang bisa bertemu sesama grafiti writers perempuan seperti CAULS," sambungnya.

Apa yang dirasakan oleh BAD.K dan DIZY kemudian diaminkan oleh WACKY. Sebab menurutnya, event grafiti seperti ini wajib bisa dinikmati bersama-sama, dengan rasa bersenang-senang karena menyatukan tali persaudaraan. "Skena kan intinya nongkrong, ya, kan. Skill belakangan, yang penting attitude. Jadi yang penting enjoy aja dulu ke dalam, Sebab, selama kita merasa senang, siapapun juga akan ikut senang, kan. Lagian, ini kan hal baik. Nah pasti, kalo ngelakuin hal baik kan, kebawanya hal baik juga," ucap WACKY.

Ekosistem Inklusif untuk Semua Kalangan
Meski terlanjur lekat dengan ungkapan "liar" karena berlangsung di ranah "underground", grafiti sepenuhnya adalah soal bersenang-senang. Karena itu,kolektivitasnya yang solid, pada titik tertentu membawa grafiti diterima secara lebih baik oleh orang banyak. Setidaknya, hal ini bisa dilihat dari penyelenggaraan King Royal Pride 2022, yang turut dihadiri masyarakat umum, seperti unit keluarga, wisatawan, pelajar hingga anak-anak. 

.Zeba (wisatawan asal Bangladesh), berfoto bersama DIZY dan CAULS/ Foto: Istimewa

Di samping itu, sebagai sebuah pergerakan, grafiti turut aktif menyuarakan kebebasan dan mengedepankan nilai-nilai kesetaraan antarkalangan, Maksudnya, sebagai seni yang tumbuh di jalan, grafiti tidak pernah memberi jenjang pada orang-orang yang passionate di bidang ini. Baik secara kelas ekonomi, preferensi "gaya" dalam berkarya, apalagi perkara gender. Alasannya, tentu karena grafiti yang sejati, hidup di dalam solidaritas.

Contohnya, seperti yang dikatakan oleh DIZY dan CAULS, dua seniman grafiti perempuan yang ikut beraksi di Diton HQ. Buat DIZY, "Lingkungan grafiti sangatlah suportif dan nyaman untuk siapapun, termasuk untuk saya, sebagai writer perempuan. Hanya saja, di masyarakat yang lebih general, masih ada pandangan yang mengkhawatirkan bagi kami, para perempuan yang berkarya di jalan."

Serupa tapi tak sama, CAULS juga membenarkan bahwa, sejak memulai kiprahnya di skena grafiti pada akhir 2016 silam, ia merasa diterima dengan baik oleh sesama penggiat grafiti. "Selama ini sih gue merasa diapresiasi banget sama teman-teman yang lain. Ya, walaupun ada aja orang luar yang nyebelin, gue mah cuek aja, yang penting tetap bisa konsisten berkarya," kata CAULS.

Kendati grafiti memiliki kesulitan tersendiri bagi DIZY dan CAULS, karena aktivitas di dalamnya membutuhkan kesigapan serta fisik yang prima, keduanya setuju kalau rasa cinta mereka terhadap grafiti bisa menaklukan tantangan semacam itu. Apalagi, keduanya juga menyadari, bahwa tiada hal yang tidak bisa dilakukan oleh perempuan. Karena perempuan itu kuat.

.Aksi DIZY di King Royal Pride/ Foto: Istimewa

Ke depannya, DIZY dan CAULS sama-sama berharap, semoga lebih banyak perempuan yang bisa ikut berkarya dan bersenang-senang melalui grafiti. Sebab bagi mereka, kehadiran para puan di skena grafiti dapat menciptakan warna yang lebih baru, dan pastinya, akan menambah kesenangan mereka bersama-bersama.

Warna dan Karya Keindahan
Pada titik ini, akan terasa banal jika menyebut grafiti sebatas aktivitas yang ilegal. Walaupun memang, eksistensinya sangat bias dengan vandalisme, nyatanya grafiti tetap mampu menghadirkan ruang berkarya baru; sebuah seni dengan tuangan ekspresi yang utuh dan bebas, dari dan untuk semua kalangan. Entah itu bagi penggiat atau penikmat, grafiti begitu lepas diartikan.

Salah satunya, tampak melalui perhelatan King Royal Pride ini. grafiti berhasil memamerkan bahwa wajahnya tidak semata-mata coretan liar, namun dapat berupa satu kesatuan seni kolaboratif yang berimbang. Lalu, hal ini pun membuktikan, kalau grafiti cukup mampu menghadirkan nyawa di ruang kehidupan urban, sebagaimana keindahan visual yang kini dimiliki dinding atau gudang kosong, seusai diberi sentuhan oleh para seniman.

[Gambas:Instagram]




Meski pada akhirnya, subjektivitas penerimaan grafiti di habitat aslinya akan menghasilkan sudut pandang positif dan negatif pada dua sisi yang ada, grafiti tetap layak dipandang sebagai sentuhan murni yang menghadirkan warna indah di kehidupan urban. Menariknya lagi, eksistensi grafiti di hari ini justru diberi apresiasi tinggi oleh ranah komersil. Seperti beberapa karya yang membentang di salah satu pusat perbelanjaan mewah di Jakarta, atau coretan-coretan estetik lainnya yang kerap kali menghiasi tembok-tembok "warung nongkrong" modern, juga menjadi latar foto para seleb dunia maya.

[Gambas:Audio CXO]



(RIA/DIR)