Interest | Art & Culture

Membaca Nasionalisme Lewat Karya Raden Saleh

Jumat, 09 Sep 2022 12:00 WIB
Membaca Nasionalisme Lewat Karya Raden Saleh
Jakarta -

Siapa yang tak mengenal Raden Saleh? Pelukis yang mempelopori seni modern Indonesia ini terkenal berkat lukisannya yang berjudul Penangkapan Pangeran Diponegoro    sebuah karya seni bersejarah yang sangat berpengaruh. Apalagi baru-baru ini, namanya juga semakin dikenal berkat film Mencuri Raden Saleh besutan Angga Dwimas Sasongko. Tapi, siapa sebenarnya sosok Raden Saleh? Dan mengapa lukisannya sangat berpengaruh?

Raden Saleh Sjarif Boestaman dilahirkan di keluarga Jawa ningrat, pamannya adalah Bupati Semarang. Maka dari itu, sejak kecil ia sudah bergaul dengan orang-orang Belanda yang menjadi atasan pamannya. Bakat menggambar Raden Saleh sudah terlihat sejak ia mengenyam pendidikan di sekolah rakyat atau volksschool. Pada saat itu, pelukis asal Belgia bernama A. A. J. Payen tertarik dengan bakat melukis Raden Saleh dan mulai mengajarkannya gaya lukisan Eropa.

Payen bukan satu-satunya sosok yang berpengaruh terhadap pendidikan dan karir Raden Saleh sebagai pelukis. Beberapa orang Eropa yang berpengaruh akhirnya menjadi patron Raden Saleh, di antaranya adalah Prof. Reinwardt yang merupakan pendiri Kebun Raya Bogor serta Van der Capellen yang waktu itu menjabat sebagai Gubernur Jenderal. Pada tahun 1829, atas usulan Payen dan persetujuan Van der Capellen, Raden Saleh menerima beasiswa dari pemerintah kolonial untuk belajar di Belanda.

Menolak Narasi Kolonial Mengenai Penangkapan Diponegoro

Lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro yang dibuat Raden Saleh pada 1857 menggambarkan peristiwa 28 Maret 1830, ketika Belanda menangkap Pangeran Diponegoro. Pangeran Diponegoro sendiri merupakan pahlawan nasional yang memimpin Perang Jawa melawan Hindia Belanda dari tahun 1825 hingga 1830. Penangkapan Pangeran Diponegoro merupakan buntut dari pengkhianatan yang dilakukan oleh pihak Hindia Belanda. Pada masa itu, Pangeran Diponegoro dibujuk oleh Kolonel Jan Baptist Cleerens untuk hadir di Magelang dalam rangka membicarakan gencatan senjata. Namun setibanya di sana, Pangeran Diponegoro ditangkap oleh Jenderal Hendrik Merkus de Kock.

Keputusan Raden Saleh untuk melukis peristiwa tersebut merupakan responnya terhadap lukisan karya pelukis Belanda, Nicolaas Pieneman, yang waktu itu diberi judul Penyerahan Diri Diponegoro (1835). Lukisan Pienaman sangat kental dengan perspektif kolonial. Sebab, narasi yang digunakan adalah Pangeran Diponegoro menyerah dengan pasrah kepada Jenderal de Kock.

.Penyerahan Diri Diponegoro karya Nicolaas Pieneman (1835)/ Foto: Wikipedia

Dalam lukisan Pienaman, peristiwa tersebut digambarkan dari sisi kanan dengan angin dari Barat yang mengibarkan bendera Belanda. Sosok Raden Saleh yang berdiri di di anak tangga juga seakan-akan menyimbolkan kedudukannya yang lebih rendah dibanding Jenderal de Kock. Di situ, ia terlihat lesu dan pasrah sedangkan de Kock terlihat lebih tinggi, garang, dan berwibawa.

.Penangkapan Pangeran Diponegoro karya raden Saleh (1857)/ Foto: Wikipedia

Sementara itu dalam lukisan karya Raden Saleh, peristiwa tersebut digambarkan dari sisi kiri tanpa ada hembusan angin, latar waktu yang jelas, dan bendera Belanda. Raden Saleh dilukiskan berdiri tegak dengan kepala yang mendongak dan menunjukkan perlawanan. Jenderal de Kock dilukiskan memiliki kepala yang lebih besar dan posisi berdirinya setara dengan Raden Saleh. Selain itu, di lukisan ini juga ada sosok Jan Baptist Cleerens yang sebenarnya tidak hadir di peristiwa tersebut. Namun sosoknya dilukis oleh Raden Saleh untuk menegaskan posisinya sebagai pengkhianat yang membuat Raden Saleh ditangkap.

Perbedaan dari kedua lukisan di atas menunjukkan bahwa karya Raden Saleh memiliki fungsi sebagai narasi tandingan terhadap perspektif kolonial. Peristiwa penangkapan Pangeran Diponegoro digambarkan secara lebih akurat dan yang terpenting, Pangeran Diponegoro digambarkan sebagai sosok yang tidak menyerah sampai akhir.

Raden Saleh mempersembahkan lukisan ini sebagai hadiah kepada Raja Willem III. Baru kemudian di tahun 1978 lukisan ini dikembalikan ke Indonesia dan kini dipajang di Istana Negara. Berkat lukisan Raden Saleh, pemerintah Belanda akhirnya merevisi narasi lukisan Pieneman. Lukisan Pienaman dipajang di Rijksmuseum, Amsterdam. Di bawahnya terdapat keterangan bahwa Pangeran Diponegoro ditangkap saat perundingan damai dan lukisan ini tidak menggambarkan pengkhianatan yang terjadi.

Raden Saleh mungkin mendapatkan privilese yang tak dimiliki oleh banyak pelukis nusantara pada saat itu-ia memiliki banyak patron Eropa dan diberi kesempatan untuk mengenyam pendidikan di Belanda. Meski Raden Saleh menetap di Belanda selama dua dekade, tapi nyatanya ini tak membuatnya lupa terhadap negeri asalnya. Lukisan Raden Saleh menyimpan semangat nasionalisme yang tumbuh di masa penjajahan    inilah yang membuat karyanya bersejarah dan berpengaruh.

[Gambas:Audio CXO]

(ANL/DIR)