Interest | Art & Culture

Mengapa Indonesia Jarang Dilirik oleh Musisi yang Melakukan World Tour?

Senin, 05 Sep 2022 17:00 WIB
Mengapa Indonesia Jarang Dilirik oleh Musisi yang Melakukan World Tour?
Jakarta -

Pengumuman world tour dari musisi internasional tentunya akan selalu menjadi hal yang dinanti-nanti. Ketika world tour diumumkan, hal pertama yang pasti kita lakukan adalah mengecek daftar negara yang akan dikunjungi dan apakah Indonesia menjadi salah satunya. Akan tetapi, tak jarang penonton konser Indonesia harus menelan kekecewaan tatkala negaranya di-skip oleh banyak musisi internasional.

Meski sudah ada banyak musisi internasional yang konser di Indonesia, tapi nyatanya Indonesia masih kalah menarik dibanding negara tetangganya seperti Singapura dan Thailand dalam hal menjadi tuan rumah. Di tahun 2022 ini, sudah ada beberapa musisi yang tidak mengikutsertakan Indonesia sebagai perhentian. Misalnya seperti Billie EIlish, Maroon 5 hingga Sigur Ros. Meski ketiganya datang ke Asia Tenggara, tapi mereka tidak berkunjung ke Indonesia.

Kalau dari segi animo, sebenarnya Indonesia tak kalah dari negara lainnya. Banyak penonton konser di sini siap merogoh kocek hingga jutaan rupiah demi bertemu musisi favorit mereka. Apalagi dengan jumlah penduduk yang banyak, seharusnya Indonesia bisa menjadi pasar yang menggiurkan bagi para musisi tersebut. Lantas, apa yang kira-kira menyebabkan Indonesia jarang dilirik oleh musisi internasional sebagai destinasi konser?

Track Record Buruk Sebagai Tuan Rumah?
Tak dapat dimungkiri, Indonesia memiliki beberapa track record buruk sebagai tuan rumah konser berskala internasional. Beberapa konser berskala internasional berakhir buruk karena kesalahan dari pihak promotor, salah satunya contohnya yaitu Lokatara Fest 2019. Beberapa jam sebelum festival dilangsungkan enam penampil internasional batal tampil, di antaranya The Drums, Sales, dan Great Good Fine OK. Meski sudah tiba di Indonesia, mereka urung naik panggung karena payment dari promotor yang tak kunjung turun dan masalah visa.

Masalah juga muncul ketika LANY mengadakan konser di Jakarta pada Agustus 2019. Band asal Amerika Serikat itu dijadwalkan untuk tampil dua kali pada 2 hari yang berbeda. Kala itu, penonton sudah antre berjam-jam namun hingga malam hari gate tak kunjung dibuka. Melalui media sosial, pihak promotor akhirnya mengumumkan bahwa acara LANY di hari pertama terpaksa dibatalkan karena ada kendala teknis. Meski akhirnya show hari pertama diganti ke hari kedua, tapi penonton terlanjur merasa kesal dan kecewa hingga akhirnya berujung ricuh.

Selain dari segi penyelenggaraan, kondisi Indonesia yang kurang kondusif juga pernah menyebabkan batalnya konser musisi mancanegara. Kita tentu masih ingat bagaimana penolakan dari ormas menyebabkan Lady Gaga batal konser di Indonesia tahun 2012. Alasan utama penolakan tersebut, lantaran menurut mereka Lady Gaga adalah pemuja setan dan busana yang ia kenakan tidak sesuai dengan norma kesopanan.


Tidak Sesederhana Baik-Buruk Track Record
Untuk mendalami lebih lanjut mengenai alasan di balik keenganan musisi internasional untuk menggelar konser di Indonesia, kami berbincang-bincang dengan Kiki Aulia Ucup, music festival creator. Menurut Ucup sendiri, faktornya bisa bermacam-macam sebab setiap musisi pasti memiliki pertimbangan yang subjektif terkait pemilihan negara yang akan dikunjungi untuk konser.

"Mungkin pertimbangannya ada tentang masalah-kalo masih jadi issue-tentang angka covid, ada tentang masalah infrastruktur event-nya. Harusnya sih (infrastruktur) tidak jadi masalah ya, soalnya Justin Bieber aja mau ke sini. Harusnya itu bisa jadi proof, gitu. Cuma kadang emang beberapa negara sekitar Indonesia kayak Singapura gitu ada terms di kontraknya mereka tidak diperbolehkan main di Indonesia berapa bulan sebelum dan berapa bulan setelah. Mungkin ada hal kayak gitu," jelas Ucup kepada CXO Media.

Terkait beberapa penyelenggaraan festival yang berakhir buruk, Ucup mengatakan seharusnya itu tidak menjadi faktor yang besar. "Harusnya setiap band atau agent itu kalau mau ambil event di Indonesia pasti melihat track record atau kredibilitas perusahaannya dulu, karena mereka pasti research, jadi gak mau gambling," ucapnya. Dengan demikian, buruknya penyelenggaraan satu event saja menurut Ucup tidak mungkin jadi alasan. Apalagi, kalau dilihat dari track record, musisi yang datang ke Indonesia dan konsernya sukses jumlahnya juga sudah banyak.

Pada akhirnya, baik-buruk track record penyelenggaraan konser di Indonesia tidak bisa dijadikan acuan tunggal untuk melihat mengapa Indonesia kerap di-skip oleh musisi mancanegara. Ada banyak faktor lain yang bekerja, misalnya seperti kondusifitas dari negara, kontrak atau terms dari musisi, dan lain-lain. Meski begitu, hendaknya fenomena ini menjadi refleksi bersama agar Indonesia bisa memiliki ekosistem pertunjukkan musik yang sehat dan tak kalah dari negara-negara lain.

[Gambas:Audio CXO]



(ANL/iyas)