Interest | Art & Culture

Sigur Ros dan Musik yang Melampaui Nada Juga Kata-kata

Rabu, 24 Aug 2022 16:00 WIB
Sigur Ros dan Musik yang Melampaui Nada Juga Kata-kata
Jakarta -

Apabila musik adalah sebuah eskapisme, maka Sigur Rós menempati posisi tertinggi dengan musik-musiknya yang bisa membawa kita berkelana jauh. Setiap nada yang optimis dari lagu Sigur Rós bisa membuat kita seakan-akan terbang ke angkasa, sedangkan nada yang melankolis bisa membuat kita seakan-akan hanyut di lautan. Band yang terbentuk sejak tahun 1994 ini memang didapuk sebagai salah satu pionir dalam genre post-rock atau rock eksperimental. Album kedua mereka, Ágӕtis byrjun (1999), masih dianggap sebagai mahakarya hingga hari ini.

Pada April 2022 lalu, band asal Reykjavík, Islandia, ini mengumumkan bahwa mereka akan bertandang ke Asia sebagai bagian dari world tour. Ini adalah world tour pertama mereka pasca pandemi, berselang lima tahun dari tur yang diadakan pada tahun 2017. Hari Rabu (17/8) kemarin saya berkesempatan untuk menyaksikan penampilan dari Sigur Rós di The Star Theatre, Singapura. Setelah menyaksikan mereka secara langsung, saya berani mengatakan bahwa Sigur Rós memberikan salah satu penampilan live terbaik di dunia.

.Sigur Ros/ Foto: Hörður Óttarsson

Ketika Musik Melampaui Nada dan Kata-kata

Saya pertama kali "bertemu" dengan lagu Sigur Rós melalui sebuah film berjudul We Bought a Zoo. Lagu dalam film itu memiliki nada piano yang indah dan langsung terngiang-ngiang di kepala saya. Dari situ akhirnya saya mengetahui bahwa lagu tersebut berjudul Hoppipolla, dibawakan oleh sebuah band bernama Sigur Rós. Saya pun mencoba mendengarkan lagu-lagu Sigur Rós yang lain, dan langsung terpukau olehnya.

Band yang beranggotakan Jonsi, Georg Holm, dan Kjartan Sveinsson ini menyuguhkan musik berciri ambient, yaitu musik instrumental yang menonjolkan tekstur suara, mood, dan atmosfer. Sigur Rós bereksperimen dengan berbagai teknik untuk menciptakan bunyi-bunyian yang baru. Salah satunya, band ini dikenal dengan permainan gitar khas dari Jonsi yang menggunakan busur cello untuk memainkan gitar elektriknya. Tak hanya itu, suara angelic dari Jonsi juga menambah keindahan dari lagu-lagu yang mereka hasilkan.

Lagu-lagu Sigur Rós bagaikan semesta yang luas untuk dunia kita yang kecil. Apabila bentang alam Islandia yang megah dan elok dikemas menjadi musik, mungkin Sigur Rós adalah wujudnya. Sejak saat itu, saya memiliki sebuah keinginan untuk dapat menyaksikan Sigur Rós secara langsung di negara asal mereka. Tidak pernah terpikirkan, bahwa suatu saat separuh dari mimpi ini akan menjadi nyata.

.Penampilan Sigur Ros di Singapura/ Foto: Anastasya Lavenia - CXO Media

Penampilan yang Transendental

Pada hari Rabu sore, The Star Theatre dipenuhi oleh para penggemar yang sudah tidak sabar menyaksikan penampilan Jonsi, Georg, dan Kjartan. Suasana panggung yang dipenuhi dengan kabut menambah aura mendebarkan. Jam 8 malam waktu Singapura, lampu auditorium akhirnya diredupkan. Set panggung pun disulap dengan tata cahaya dan visual beraksen merah   tanda pertunjukkan sudah dimulai. Sigur Rós membuka penampilan mereka dengan membawakan Vaka. Mendengar suara Jonsi secara live untuk pertama kalinya adalah pengalaman yang tidak akan saya lupakan. Suara falsetto-nya yang memenuhi seluruh auditorium langsung membuat penonton masuk ke dalam suasana khidmat.

Selama 3 jam, Sigur Rós memberikan penampilan yang berhasil menyihir seluruh penonton. Mereka membawakan dua set yang  terdiri dari 18 lagu. 18 lagu ini adalah kombinasi dari album-album terdahulu yaitu Ágӕtis byrjun, ( ) (baca: Brackets), Takk, dan Valtari. Lagu-lagu andalan seperti Glósóli, Ekki múkk, dan Sæglópur pun sukses membuat para penonton terpukau. Penampilan yang syahdu dari Sigur Rós ini menjadi lengkap berkat tata cahaya dan desain visual panggung yang indah.

Penampilan Sigur Rós malam itu ditutup dengan Popplagið yang dibawakan secara apik dan menggebu-gebu. Setelah lagu ini selesai dibawakan, para personil Sigur Ros pun memberi hormat kepada penonton. Sontak, para penonton pun memberikan standing ovation yang meriah. Para personil Sigur Rós ikut bertepuk tangan seraya mengucapkan terima kasih-ini adalah satu-satunya momen dari seluruh pertunjukan di mana para personil berinteraksi dengan penonton.

Penampilan Sigur Rós melampaui semua ekspektasi. Meski mereka tidak membawakan Hoppipolla   lagu mereka yang paling dikenal   tetapi hal itu tidak menyebabkan kekurangan ataupun memunculkan kekecewaan. Sebab setiap lagu yang dibawakan pada konser ini mampu memberikan pengalaman yang transendental   kita seakan-akan berpindah ke dunia yang lain dan semua hal yang terjadi di luar gedung konser menjadi tidak signifikan.

Meskipun penonton tidak bisa sing-along ataupun menari-nari mengikuti irama selayaknya di konser-konser lain, tapi seperti yang sudah disebutkan di atas, musik Sigur Rós mampu melampaui nada dan kata-kata. Mungkin juga, tidak akan ada tulisan yang mampu menggambarkan Sigur Rós secara utuh. Tapi yang pasti, menghabiskan momen 17 Agustus dengan menyaksikan band ini adalah sebuah bentuk perayaan tersendiri yang patut disyukuri dan dikenang. 

[Gambas:Audio CXO]



(ANL/DIR)