Interest | Art & Culture

Eksperimen Kami: Seminggu Mendengar Lagu Korea

Kamis, 11 Aug 2022 20:00 WIB
Eksperimen Kami: Seminggu Mendengar Lagu Korea
Foto: CXO Media
Jakarta -

Kalau orang bilang "Tak kenal, maka tak sayang," maka asumsi "tak kenal, maka jangan membenci" seharusnya juga boleh dijadikan patokan; paling tidak dalam menyikapi Hallyu Wave atau gelombang musik asal Korea—ke dunia dan Indonesia—yang selama ini digilai dan disudutkan pada saat yang bersamaan.

Saya pribadi mengaku: tidak sayang juga tidak membenci musik Korea. Bukan berarti main aman, tetapi karena memang saya belum pernah mencoba berkenalan, baik secara sengaja atau atas dasar kesadaran. Oleh karena itu, saya mencoba mengalami musik Korea selama satu minggu melalui eksperimen kali ini.

Walaupun sebenarnya, saya pun kurang pasti menyebut hal ini sebagai eksperimen. Karena faktanya, banyak sekali orang yang sudah rutin mendengarkan musik-musik asal Korea Selatan dan menjadikannya sebagai pilihan utama. Selain itu, fanatisme militan terhadap idola populer asal Korea Selatan juga sudah jauh menjangkiti banyak rekan di sekitar saya.

Hal-hal itulah yang pada akhirnya menggerakan saya untuk melakukan eksperimen ini. Ditambah suatu keniscayaan, di mana sedikit demi sedikit, orang-orang yang meremehkan musik Korea justru mulai hijrah dan menikmatinya karena satu dan lain hal. Dengan kata lain, semua akan Korea pada waktunya.

Pada kesempatan kali ini, saya yang terbilang awam perihal musik, mencoba membuktikan sendiri kenikmatan dari musik-musik Korea—yang amat digilai muda-mudi generasi ini. Ya, walaupun pada akhirnya, saya tidak menjamin akan ikut suka atau tidak; percobaan ini tetap patut dilakukan, menimbang preferensi pribadi kental berperan pada proses menikmati musik, yang konon sejatinya, tercipta dari suara penuh kebebasan dan kesenangan.

Seminggu bersama alunan Korea

Dalam hal ini, saya tidak akan berbual soal teknis musik yang laik dan berkualitas atau mendebat perihal musikalitas. Akan tetapi, saya mencoba menjelaskan perasaan dan pengalaman pribadi saat mendengar lagu-lagu Korea yang tersaji. Oleh karenanya, eksperimen kali ini akan sarat dengan preferensi pribadi—dan mohon maaf apabila kurang objektif.

Untuk memulainya, saya yang clueless tentang per-Korea-an, lantas meminta petunjuk dari beberapa rekan pecinta musik Korea. Simsalabim. Dalam waktu yang singkat, terkumpul sekitar 70-an lagu di dalam sebuah playlist yang mengantarkan saya ke depan pintu gerbang megah industri musik Korea, untuk didengarkan selama satu minggu ke depan.

Jujur, kesan pertama saya penuh dengan kebingungan. Sebab dari sederet nama idola beserta lagu-lagu yang tercantum di dalam playlist, hanya sebagian kecil yang saya kenali dari media sosial atau sempat beberapa kali terputar secara acak di siaran radio atau iklan-iklan televisi. Paling tidak, ada nama-nama seperti BTS, Twice, atau NCT, yang sempat hangat dibincangkan. Sisanya, sungguh saya tidak mengerti sama sekali.

Usai scrall-scroll beberapa saat dan mulai merasa kebingungan, saya pun memutuskan untuk memainkan satu per satu lagu berturut-turut dari bagian atas playlist. Hasilnya, persis seperti kesan yang selama ini saya pegang: musik Korea penuh dengan boyband enerjik bermusik berisik. Oleh sebab itu, dengan berat hati, sajian yang didominasi oleh NCT 127 rekomendasi NCTzen cabang Cibinong yang begitu mood setiap mendengarnya, sulit saya terima dengan baik.

Walaupun demikian, setidaknya, ada satu lagu yang cukup meninggalkan kesan di benak saya dari nomor-nomor lagu urutan atas. Yaitu rima "DU DU DU DU DU DU" yang dilantunkan Stray Kids pada lagu berjudul God's Menu. Sebetulnya, lagu ini masih terdengar berisik bagi saya, seperti beberapa lagu sebelumnya.

Hanya saja, "DU DU DU" yang penuh penekanan tersebut, berhasil menempel dan berputar berulang-ulang di kepala saya hingga malam tiba. Sama halnya dengan After School milik Weeekly atau What is Love andalan TWICE, yang saya rasa cukup menyenangkan.

Setelah melahap sekitar belasan lagu di hari pertama, perjalanan saya mendengar lagu Korea berlanjut ke beberapa lagu yang sepenuhnya bernuansa berbeda. Bahkan awalnya saya sempat curiga, kalau lagu-lagu tersebut bukanlah asli berpaspor Korea. Misalnya lagu BTBT, Counting Stars, hingga Scaredy Cats milik DPR Ian, yang mana jelas memberikan kesan bertolak belakang dari bayangan musik Korea yang selama ini saya bayangkan. Atau paling tidak, ada pula alunan dari Good Boy sampai Bad Boy, yang cukup melunakkan nuansa berisik dari telinga saya.

Sementara pada beberapa hari berikutnya, saya merasakan sebuah perjalanan naik turun dari musik-musik Korea yang tersimpan di dalam playlist. Artinya, saya mulai menyadari kalau tidak semua musisi Korea memainkan musik yang intens dan mengharuskan penggemar untuk turut bermanuver ria, tetapi ada juga yang enjoy dan pelan—dalam arti yang menyenangkan. Contohnya lagu I Love You dari DAY6, Born Hater, hingga sajian HYUKOH berjudul Comes and Goes dan Gondry yang pantas dimainkan di sore hari.

Sampai di sini, saya merasa bahwa kebanyakan lagu-lagu Korea sangat gemar memilih tema percintaan. Terdengar dari rentetan frasa sarangheo pada juga sejumlah lagu, meski terpisahkan oleh dentuman musik yang berbeda. Lalu, ada satu hal lain yang mulai saya sadari. Yakni situasi saat mendengarkan lagu-lagu Korea di dalam playlist, ternyata cukup berpengaruh pada penerimaan saya terhadap lagu tersebut.

Misal, saat melahap nomor-nomor di urutan atas, saya tengah berpacu dengan deadline. Makanya, lantunan intens dengan bit-bit kencang tersebut sulit saya cerna dengan baik karena pada saat itu, saya tengah membutuhkan ketenangan dan rasa fokus. Adapun lagu-lagu berikutnya yang saya tangkap secara lebih adem di telinga, dialami dalam situasi yang jauh lebih tenang. Tak heran jika lagu-lagu tersebut lebih mudah dinikmati, karena tampak mendukung keadaan.

Beralih pada bagian tengah hingga bawah playlist, suguhan musik yang lebih enjoy kembali mampir ke telinga. Persis ketika beberapa lagu milik offonoff, OOHYO, dan Zion.T terputar. Pada masa ini, saya semakin sadar dengan kekayaan alunan musik Korea; yang mana tidak melulu diselingi dentuman enerjik ala kelompok vokal nan ramai.

Pada titik ini pula, perlahan saya mulai meruntuhkan pandangan kolot terhadap musik Korea, yang selama ini sebisa mungkin saya hindari dari daftar putar. Sebab nyatanya, sependek ini, saya semakin merasa kalau musik Korea cukup menyenangkan. Dan faktanya, ada pula beberapa lagu yang tidak melulu terdengar berisik namun tetap mengalunkan keseruan di kepala. Misal CROOKED dari G-DRAGON, BIGBANG dengan Love Song, SOLO-nya JENNIE, Friday IU ft. Jang Yi-jeong, I punya TAEYEON dan Verbal Jint, sampai hit Outro: Wings milik sang superstar, BTS.

Terlebih lagi, saya juga mendapat insight mencerahkan dari seorang mentor yang kini turut doyan kekoreaan, meski awalnya menolak dengan keras dan merasa nyaman mendengarkan musik tanpa irama khas Korea. Ya, walaupun sang mentor pun mengaku, awalnya terjerumus ke dalam K-Pop karena tuntutan pekerjaan dan lebih tergoda dengan paras para idola yang rupawan.

Akhirnya, setelah seminggu penuh mendengarkan musik Korea yang sebelumnya sangat asing, perlahan saya bisa melihat keunikannya secara lebih jernih dan mulai menyikapinya dengan lebih santai. Ya, meskipun, saya pribadi masih jauh dari kata menggemari musik Korea atau sebaliknya. Paling tidak, saya bisa mengaku kalau ada beberapa lagu di dalam playlist, yang masih bisa pula dinikmati meski tidak terlalu membekas di hati.

Karena itu pula, kelak saya tidak akan menyangkal untuk kembali mendengar beberapa lagu Korea, meski masih jauh dari pilihan utama. Setidaknya, dari seminggu mencoba lagu Korea, saya agak tersadar kalau musik Korea jauh dari tuduhan sampah apalagi sulit untuk dinikmati. Sebab perihal kesukaan dan selera musik, masing-masing individu memiliki indikator dan preferensi masing-masing yang sulit digugat.

Pada pangkalnya, eksperimen kali ini justru membantu saya memahami lebih jauh soal kegirangan total dari rekan-rekan penggemar K-Pop yang militan. Menurut hemat saya, hal ini terbangun karena asupan konten K-Pop yang intens, di mana para penggemar terus mengikuti para idola: dari mendengarkan setiap lagunya, terkesima dengan koreografi dan aksi panggung para idola, hingga terus memantau keseharian mereka lewat ragam reality show, atau paling tidak via media sosial. Alhasil, terciptalah suatu militansi berwujud kecintaan yang sangat amat terhadap idola dari negeri Ginseng tersebut.

Percobaan ini sendiri akan saya akhiri dengan mengutip pernyataan sang mentor yang baru saja hiatus dari kantor tapi turut memperkenalkan lagu-lagu Korea kepada saya. Katanya, "Terkadang musik itu cuma angin. Nggak perlu terlalu diribetin, cuma perlu dinikmatin." Saya pun setuju. Tiada musik yang tidak bisa dinikmati. Pun Bob Dylan yang berdedikasi dalam musik pernah bilang, "The answer, my friend, is blowing in the wind, the answer is blowing in the wind~"

[Gambas:Audio CXO]



(RIA/HAL)

NEW RELEASE
CXO SPECIALS