Interest | Art & Culture

Perjalanan Komedi di Indonesia: Mengapa Kita Tidak Tertawa Sekeras Dulu?

Rabu, 25 May 2022 16:00 WIB
Perjalanan Komedi di Indonesia: Mengapa Kita Tidak Tertawa Sekeras Dulu?
Jakarta -

Entah sudah berapa lama sejak terakhir kali kita benar-benar tertawa terbahak-bahak dan bukan sebatas emoticon atau ketikan kata berbunyi tawa belaka. Di masa ini, tawa lepas yang disebabkan oleh karya komedi perlahan-lahan memudar dan sirna. Entah karena komedi itu sendiri telah jauh berkembang atau memang esensi dari tawa yang mulai tergantikan oleh kalimat "HAHAHA", "LOL", atau bahkan sekadar "wkwk".

Sebenarnya hal ini tidaklah salah atau dilarang. Hanya saja, absennya keaslian tawa yang penuh suka ria, membuat tawa itu sendiri terkesan pura-pura, juga formalitas belaka. Atau dalam beberapa kasus, tawa yang muncul di era ini malah berupa sindiran balik kepada hal yang ditertawakan.

Jika ditelusuri, fenomena ini bisa jadi tercipta karena banyak alasan. Salah satunya disebabkan oleh teknologi yang terlampau berkembang, di mana media penghasil tawa berupa platform digital yang terlalu mudah diakses. Namun jika dicermati lebih jauh, rasanya, materi pemantik tawa itu sendiri telah sepenuhnya berevolusi dan memiliki perbedaan kental dengan apa yang sebelumnya beredar.

Contoh paling nyata bisa dilihat pada gaya berkomedi di layar media mainstream. Praktis, semuanya jauh berubah. Sebab sebelum segala sesuatu menjadi lebih instan dan menciptakan "kerecehan", konten komedi di media lebih dulu tampil dengan skema yang tidak sederhana namun terencana. Namun ironisnya, pada masa ini, hal tersebut dianggap terlampau ringan dan kurang edukatif.

Meski begitu, jejak kesenangan dari skema komedi masa lalu-yang memang lekat dengan keseharian, pada akhirnya kembali dipakai dan direproduksi pada masa ini. Misalnya, penggunaan akronim dan slang lawas oleh kaum muda, juga munculnya film yang mereproduksi tokoh pelawak lampau, seperti halnya 'Benyamin Biang Kerok' yang dimainkan Reza Rahadian, 'Warkop DKI Reborn', hingga yang terbaru 'Srimulat: Hil yang Mustahal' yang diperankan oleh Bio One dengan penuh totalitas.

.Film Srimulat: Hil yang Mustahal/ Foto: IMDb

Sekilas Perkembangan Komedi di Indonesia

Melalui media-media konvensional seperti radio, televisi, media cetak, hingga film-film di layar lebar, produksi hingga konsumsi komedi masyarakat tumbuh menyesuaikan zaman. Mulai dari aksi komedi individual khas Charlie Chaplin yang melegenda di era 60an, merajalelanya kelompok lawak tradisional seperti Ludruk, Ketoprak, Lenong Betawi, juga Srimulat, sampai hijrahnya grup lawak konvensional ke media populer seperti kiprah Warkop DKI dan teman-teman seangkatan.

Kemudian, tonggak komedi di Indonesia pernah pula beralih ke tayangan sinetron komedi (sitkom) televisi, sebagaimana kesuksesan serial "Bajaj Bajuri". Selang beberapa saat, industri komedi di Indonesia juga pernah mampir ke program televisi yang memuat teknik komedi slapstick murahan. Hingga datangnya stand up comedy, yang hingga kini rajin memproduksi karya jenaka di banyak platform media.

Secara general, komedi di Indonesia sendiri berkembang dengan karakteristik masing-masing sesuai zamannya. Menurut hemat pandangan saya, teknik komedi yang digemari audiens selalu berubah-ubah. Pada suatu masa, set up cerita lucu dan penuh patahan absurd pernah digilai masyarakat seperti yang dimainkan kelompok tradisional Srimulat. Pernah pula dipenuhi cerita satire ala Warkop DKI, sindiran sarkastis khas Benyamin Sueb, hingga menyentuh candaan sensual plus teknik slapstick, pada acara televisi mainstream di era 2000an ke atas.

.Ilustrasi tertawa/ Foto: Tim Mossholder - Pexels

Komedi yang Menyebabkan Masalah

Hal utama yang disoroti pada pembahasan ini adalah, bagaimana komedi dirangkai dan disajikan dengan terus berubah-ubah mengikuti permintaan publik dan menyesuaikan zaman. Dinamika ini bergerak karena komedi yang dianggap jenaka pada suatu waktu, dapat seketika berubah menjadi pertentangan.

Salah satu contohnya adalah gaya bercanda sensual dan pemanfaatan body shaming, juga teknik slapstick yang sempat laku di pasaran. Pada mulanya, peragaan bercanda yang sedikit kasar itu diterima dengan baik. Namun dengan berkembangnya pemahaman masyarakat, gaya komedi tersebut dianggap tidak pantas serta dapat membahayakan.

Hal serupa juga dirasakan oleh para stand up comedian. Pada awal kedatangannya, mereka dianggap sebagai pendobrak haluan jemu industri komedi yang seakan berputar di situ-situ saja. Hasilnya, materi komedi mereka yang berasal dari keresahan pribadi tersebut, dianggap lebih pantas menjadi hiburan karena memiliki bobot. Namun secara ironis, keleluasaan para pelaku komedi tunggal tersebut juga mendapat kontra, berupa ketersinggungan liar atas materi-materi yang tersampaikan-yang mana sering menumpang pasal karet dari UU ITE yang berlaku di Indonesia.

Sedikit contoh kasus di atas, secara langsung atau tidak, menyebabkan ketidakleluasaan para seniman dalam berkomedi, sekaligus merombak penampilan komedi mereka secara besar-besaran.

Komedi adalah Soal Selera

Sesuatu yang dianggap lucu oleh sebagian orang, tidak serta merta bisa diterima oleh lainnya. Hal senada pun berlaku sebaliknya, di mana sesuatu yang dianggap menyinggung segelintir orang, belum tentu juga menyinggung yang lain. Hal ini lantas menciptakan strategi baru bagi para pemain komedi, yakni tetap berada pada jalur masing-masing, karena setiap gaya memiliki pasarnya sendiri-sambil tetap berhati-hati dalam memainkannya.

Singkat cerita, komedi memang selalu tentang selera. Jadi, sesuatu yang bisa ditertawakan    walau terus mengalami pembaharuan, akan tetap dianggap lucu oleh para penikmatnya masing-masing. Sebagaimana komedi populer dari masa lampau yang kembali diproduksi, contohnya film 'Srimulat: Hil yang Mustahal', atau candaan slapstick, jokes body shaming, dan gurauan sensual, yang masih dipergunakan sebagian pemain komedi di platform digital.

Walaupun saat ini komedi tidak selalu membawa kesenangan bagi semua pihak, kebingungan yang disebabkan olehnya justru membuat para pelaku komedi berkarya secara lebih bijak. Hal seperti ini juga patut disadari oleh semua lapisan masyarakat, yang ingin berkomedi lewat medianya masing-masing.

.Ilustrasi menonton film komedi/ Foto: Pavel Danilyuk - Pexels

Tertawalah Sebelum Dilarang

Kebingungan di industri komedi yang berkembang hari ini, sangat mungkin diakibatkan oleh sengkarut permasalahan baru yang lahir di era digital. Misalnya dengan keberadaan UU ITE, atau aturan penyiaran lain yang cukup ketat, serta akses media digital yang kelewat bebas.

Oleh karena itu, dalam mengakali perbedaan yang terlanjur mengakar, gaya berkomedi kita harus kian disesuaikan. Seperti kembali menerapkan gaya lama yang pernah populer namun dengan sejumlah pembaharuan dan perbaikan. Selain itu, kompetensi serta pemahaman para pelaku dan penikmat komedi juga harus berkembang. Sehingga ketersinggungan yang di luar konteks bisa diminimalisir.

Pada akhirnya, komedi selalu datang bersama esensinya. Yakni sebagai hiburan yang menyegarkan, sekalipun para pelakunya perlu cerdik berkelindan di antara rintangan yang bisa datang sewaktu-waktu. Karena sejatinya, komedi adalah kekuatan hiburan yang sanggup menyatukan masyarakat. Melalui "HAHAHA" di penjuru gang, atau "HIHIHI" di warung kopi, bukan sebatas emoji imut dan akronim tertawa terbahak-bahak di layar gawai, atau protes merepotkan mengenai pembicaraan jenaka yang diterima sebagai ketersinggungan. Memang benar kata Warkop DKI. Seharusnya kita tertawa sepuas-puasnya, sebelum pada akhirnya tertawa itu benar-benar dilarang.

[Gambas:Audio CXO]

(RIA/MEL)