Interest | Art & Culture

They Don't Talk About: Fan Fiction

Selasa, 26 Apr 2022 20:00 WIB
They Don't Talk About: Fan Fiction
Jakarta -

Ketika saya di usia remaja, saya menghabiskan banyak waktu untuk menjelajahi Wattpad-sebuah situs di mana pengguna bisa membaca cerita fiksi yang ditulis oleh orang biasa alias penulis amatir. Tak hanya itu, kita juga bisa menuliskan cerita kita sendiri dan mengunggahnya di Wattpad untuk dibaca banyak orang. Di situs ini, saya bisa menemukan berbagai genre cerita, mulai dari teen romance, chick lit, fantasi, hingga thriller. Namun, salah satu genre yang paling populer di situs ini adalah fan fiction, yaitu cerita fiksi yang ditulis oleh para penggemar berdasarkan karya fiksi populer.

Pernahkah kalian membayangkan kalau Hermione Granger tidak menjalin hubungan romansa dengan Ron Weasley, tapi dengan Draco Malfoy? Atau, pernahkah kalian membayangkan di suatu semesta lain Harry Styles bukanlah penyanyi terkenal tapi seorang barista di coffee shop? Skenario-skenario yang berbeda ini, bisa kalian temukan di dalam fan fiction. Fan fiction memberi kesempatan bagi para penggemar untuk membayangkan idola atau karya fiksi dengan cara yang berbeda. Namun, fan fiction mungkin adalah karya sastra yang paling sering disalahpahami. Tak jarang, ia dipandang aneh, dungu, atau bahkan dipandang tak layak disebut sebuah karya. Padahal, ada banyak hal yang bisa ditawarkan oleh fan fiction.

Dunia Fan Fiction, Dunia yang Luas
Fan fiction bisa berangkat dari canon atau materi asli dari karya populer yang sudah ada. Misalnya, penggemar Harry Potter yang tidak puas dengan akhir di cerita aslinya bisa menulis fan fiction dengan alternate ending yang mereka inginkan. Tapi, banyak juga fan fiction yang menghadirkan semesta yang benar-benar baru namun dengan karakter dari karya fiksi populer. Di dalam fan fiction sendiri, ada berbagai macam tropes yang bisa dijelajahi.

Tropes sendiri merupakan sebutan untuk alur cerita atau mekanisme plot yang umum ditemui dalam cerita fanfic, sehingga ia berbeda dengan genre. Beberapa tropes paling populer dalam fanfic di antaranya adalah best friends to lovers-dua karakter yang bersahabat namun pada akhirnya jatuh cinta satu sama lain, love triangle   kisah cinta segitiga, dan fake relationship   dua karakter yang tidak menyukai satu sama lain berpura-pura menjalani hubungan. Selain tiga tropes ini, ada banyak tropes lainnya seperti crossovers, coffeeshop plot, atau enemies to lovers.

Beragam tropes di atas memang didominasi oleh tema romansa. Sebab, dalam dunia fan fiction ada istilah populer yang dikenal dengan shipping. Shipping, turunan dari kata relationship, merupakan keinginan yang dimiliki para penggemar untuk menjodohkan dua karakter fiksi atau idola yang mereka sukai. Mereka pun bisa mencari cerita fan fiction yang menyediakan ship ini di karya-karya yang tersedia.

.Membaca buku digital./ Foto: Maarten Van Den Heuvel via Unsplash

Saya pun berbincang dengan beberapa pembaca fan fiction untuk mengetahui apa yang membuat mereka menyukai jenis cerita ini. Salah satunya, Anisa (bukan nama asli) yang sudah menjadi pembaca fan fiction selama 4 tahun belakangan. Ia mengaku membaca fan fiction untuk mendapat closure dari film yang akhir ceritanya tidak memuaskan. Ia sendiri pertama kali tertarik untuk membaca fan fiction karena tidak puas dengan akhir cerita Twilight Saga. Di filmnya, Bella dan Edward menikah setelah mereka lulus SMA dan tak lama kemudian, mereka memiliki anak. Anisa mengaku tak puas dengan proses yang terlalu cepat dalam hubungan mereka dan akhirnya memutuskan untuk mencari alternatif lain. Dalam fan fiction yang ia baca, alih-alih memiliki anak Edward dan Bella justru melanjutkan pendidikan di universitas. Alur cerita yang berbeda ini mampu memberikan fulfillment bagi Anisa.

Lain lagi halnya dengan Maya (bukan nama asli), yang baru membaca fan fiction selama dua bulan belakangan. Ia bisa membaca fan fiction karena mendapatkan rekomendasi dari seorang teman. Meski ia tergolong sebagai pembaca baru, tapi sebelumnya ia memang sudah lama men-shipping dua tokoh idolanya dari K-pop. Ia mengaku menyukai membaca fan fiction karena penulisannya yang vivid dan detail, sehingga ceritanya mudah dibayangkan. "Fanfic menyediakan thrill yang mungkin udah gak bisa gue dapatkan lagi in real life," jelasnya.

Sementara itu, ada juga Hani yang telah membaca fan fiction sejak berumur 15 tahun, kini dirinya sudah berumur 23 tahun. Ia pertama kali menemukan fan fiction lewat media sosial. Hal yang paling membuatnya senang membaca fan fiction adalah bagaimana ia bisa menemukan persona berbeda dari idola yang ia sukai. "Persona yang ditunjukkan ketika dia jadi idol sama dia di fanfic beda banget, ada imajinasi akan persona yang beda yang bikin gue attracted dengan karakter dia," jelasnya. Selain itu, menurutnya banyak fan fiction yang menawarkan alur cerita yang bagus. Menemukan alur cerita yang menarik di sebuah film memang sudah biasa. Tapi untuk menemukan alur cerita yang seru di sebuah fan fiction   di mana karakternya adalah seorang idol yang ia sukai-adalah sebuah kesenangan tersendiri.

Dengan alur cerita yang begitu beragam, dan kemungkinan yang begitu luas, fan fiction menyediakan sebuah dunia yang kaya dan menyenangkan. Popularitas fan fiction dibuktikan dengan keberadaan situs-situs yang memang didedikasikan khusus untuk genre ini, beberapa yang paling terkenal adalah FanFiction dan Archive of Our Own (AO3). Kedua situs ini bersifat user-generated dan bersifat non-komersial. Dengan kata lain, karya-karyanya bisa dibaca gratis dan para penulisnya tidak mendapat keuntungan material dari sini. Hal ini menunjukkan salah satu karakteristik utama dari fan fiction, yaitu menjadi salah satu medium bagi para penggemar untuk mengekspresikan kreativitas mereka melalui tulisan.

Masih Dipandang Sebelah Mata
Meski pada umumnya fan fiction dibuat bukan untuk meraih keuntungan, tak menutup kemungkinan juga ada fan fiction yang populer dan akhirnya dikomersialisasi. Salah satu contohnya adalah novel Fifty Shades of Grey yang diadaptasi menjadi film. Fifty Shades of Grey adalah cerita fiksi erotis yang berawal dari fan fiction Twilight yang ditulis oleh E.L. James dengan judul Master of the Universe. Di fan fiction ini, belum ada karakter bernama Christian Grey dan Anastasia Steele, yang ada adalah Edward Cullen dan Bella Swan. Dilihat dari segi komersial, Fifty Shades of Grey membuat E.L. James menjadi penulis fan fiction tersukses sepanjang masa.

Tapi, banyak juga yang mencibir Fifty Shades of Grey sebagai "mommy porn" yang tak layak dikategorikan sebagai karya sastra. Fakta bahwa cerita fiksi erotis ini ditulis oleh E.L. James yang merupakan seorang ibu dengan dua anak membuat banyak orang mengkritiknya. Memang, peminat dari buku ini didominasi oleh perempuan. Beberapa kritikus bahkan menyebut para penggemar buku ini merupakan para ibu rumah tangga yang tak paham sastra.

Kritik bernada merendahkan terhadap Fifty Shades of Grey bukanlah sebuah anomali, sebab dunia fanfic sendiri memang sudah tak asing lagi dengan cibiran. Fan fiction seringkali dipandang negatif oleh banyak orang karena dianggap sebagai cerita fiksi yang tak berbobot, aneh, dan hanya dipenuhi dengan cerita-cerita erotika. Singkatnya, fan fiction ditempatkan di kasta terbawah dalam dunia sastra. Ada beberapa mitos yang menyelimuti fan fiction, seperti fan fiction hanya menyajikan cerita erotis, fan fiction ditulis oleh remaja perempuan yang gemar berfantasi dan tak memiliki literasi, dan fan fiction dibuat dengan gaya penulisan yang buruk.

.Ilustrasi novel./ Foto: Sincerely Media

Pandangan negatif ini membuat para penggemar fan fiction kerap merasa malu untuk mengakui bahwa mereka menyukai jenis cerita ini. Hal ini dialami oleh Anisa, ia mengatakan "Terkadang merasa malu karena takut dikatain halu dan freak, apalagi cerita fan fiction banyak yang jorok, jadi takut di-judge," ucapnya. Namun, mengapa fan fiction masih dipandang sebelah mata? Bukankah ia adalah bentuk ekspresi kreativitas yang sah dari para fans?

Salah satu penjelasan mengapa fan fiction kerap dipandang sebelah mata adalah karena aspek gender. Sudah bukan rahasia umum lagi kalau fan fiction dipandang sebagai media yang feminin. Dan dalam sejarah fandom, fandom yang didominasi oleh perempuan memang rentan menjadi target kritik atau dipandang sebelah mata. Hingga hari ini pun, saya belum menemukan ada laki-laki yang membaca fan fiction, atau mau mengakui kalau mereka membaca fan fiction.

Padahal, keberadaan fan fiction sendiri merupakan respons terhadap media populer arus utama belum menyediakan ruang yang cukup inklusif. Fan fiction bisa ditulis oleh siapapun untuk siapapun. Mulai dari perempuan, genderqueer, orang Asia, orang kulit hitam, dan kelompok minoritas lainnya, semua bisa memodifikasi karya fiksi yang mereka sukai agar lebih sesuai dengan aspirasi mereka; baik aspirasi dari segi kreativitas cerita maupun dari segi identitas.

Hal ini dibuktikan dengan sebuah penelitian yang dilakukan oleh Jennifer Duggan dari Norwegian University of Science and Technology. Ia mencoba memetakan siapa saja yang menulis fan fiction Harry Potter di AO3. Hasilnya, 74.02 persen mengidentifikasi diri sebagai perempuan, 36.22 persen mengidentifikasi diri sebagai genderqueer atau non-binary, dan 13.39 persen mengidentifikasi diri sebagai laki-laki.

Sebagai penggemar, kita pasti memiliki cara masing-masing untuk mengekspresikan rasa cinta kita terhadap hal-hal yang kita sukai. Selama kita tidak merugikan orang lain, tak ada salahnya membebaskan diri dalam berimajinasi. Toh, berimajinasi juga adalah salah satu cara untuk menyalurkan kreativitas dan aspirasi yang kita miliki. Dengan inklusivitas yang ditawarkan oleh dunia fan fiction, sudah seharusnya genre ini tak lagi dipandang sebelah mata.

[Gambas:Audio CXO]

(ANL/DIR)